Ekonomi Islam Sebagai Solusi Alternatif

Oleh : Alda Kartika Yudha

Riba dan Kapitalisme

doc : google.com

Tidak hanya bunga (riba) menjadi penyumbang inflasi terbesar (57%), dalam dunia eknomi, sejatunya riba adalah AIDS-nya sistem ekonomi. Ekonom sudah sangat sadar bahwa sebenarnya sistem riba (bunga) dan kapitalisme merupakan sistem brutal (rimba) yang kurang (red: tidak) manusiawi. Jamak diketahui bahwa sistem ini mengandalkan hutang yang diberikan kepada pihak lain. Diakui atau tidak sistem hutang menempatkan manusia (debitur dan kreditur) dalam posisi yang tidak setara. Bahkan tak jarang dalam kondisi tertentu sistem ini membuat hidup debitur seolah menjadi “hak milik” kreditur.

Saking berbahayanya riba, jangankan dalam islam, seluruh agama samawi juga melarang sistem riba. Yahudi dengan Tauratnya (Exodus (22:24)), Nasrani dengan Bible-nya (Ezekiel (18:13), Paslms (15:5)), dan Islam (3:130), (30: 39). Tidak hanya agama, Aristoteles juga mengatakan bahwa mengambil riba adalah perbuatan yang salah. Para filusuf Yunani, menyamakan riba dengan kejahatan. Riba= Evil (Jahat).

Dengan kacamata yang lebih bersar, sebenarnya penyakit riba ini adalah cabang  permasalahan dari sistem ekonomi kapitalis yang kita anut. Sistem ekonomi kapitalis yang sangat mengandalkan modal ini mendapatkan pendapat terbesar-nya dari riba  hutang. Contoh konkritya adalah, Negara-negara berkembang yang menjadi pasien Bank Dunia (IMF), yang kemudian Negara ini hanya sibuk dengan membayar bunga dan kesulitan untuk membayar pokok hutangnya. Lalu kemudian jika Negara ini tidak mampu membayar hutangnya, kekayaan alam-nya kemudian digadaikan. Keturunan-nya kemudian hanya mendapatkan warisan berupa hutang plus bunga.

Dalam sejarahnya, ekonomi kapitalis sebenarnya sudah gagal berkali-kali dalam memenuhi kebutuhan hidup seluruh manusia. Sebagai contoh, puncak krisis besar-besaran pada tahun 1930 yang disebut sebagai “The Great Depression”. Setelah itu pada tahun  1980, dan yang belum lama dan masih terngiang dikepala kita, yaitu kriris moneter pada 1998. Semua itu adalah bukti ketidak berdayaan ekonomi kapitalis. Lalu kenapa dunia masih menggunakan sistem ekonomi ini? Ada dua jawabannya singkatnya, 1) Belum ada sistem ekonomi alternatif, 2) ketika muncul sistem alternatif itu, psikologi masyarakat masih takut untuk berpindah dan terlanjur nyaman dengan kapitalisme.

Ekonomi Islam Sebagai Sistem Altenatif

Dunia pada saat ini, sangat sekali membutuhkan sistem ekonomi alternatif  untuk menggantikan ekonomi kapitalis. Dunia membutuhkan sistem ekonomi tanpa bunga dan yang lebih berperikemanusiaan. Melihat hal ini, tahun 1961 muncul sebuah gagasan para ekonom islam untuk membentuk lembaga keuangan islam (yang salah satu prinsipnya adalah ekonomi tanpa riba) yang ternyata disambut baik oleh seluruh dunia. Hingga saat ini aset yang dikelola oleh perbankan islam mencapai US$ 2.1 trliyun dan belum termasuk retail dan sektor usaha besar, dan sudah tersebar di 75 negara dipenjuru dunia dan tak hanya di negara muslim. Hal ini tentu adalah perkembangan pesat jika dilihat dari umur ekonomi islam itu sendiri, yang mana banyak yang mengatakan, sebenarnya ekonomi islam ini masih dalam tahap “janin”.

Di Indonesia, perkembangan ekonomi islam dimulai dengan didirikannya Bank Muamalat Indonesia (BMI). BMI adalah bank syariah pertama yang dibentuk tahun 1991 akan tetapi dilegalisasi pada tahun 1992 dengan pengesahaan UU  No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Pada masa awal berdirinya BMI bisa dikatakan tidak mempunyai greget dalam dunia perbankan Indonesia, sampai akhirnya BMI menunjukan taringnya pada tahun 1997 ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia yang salah satu penyebabnya adalah bank konvensional tidak mampu membayar bunga nasabah,. Ketika itu BMI menjadi bank yang mampu mengontrol dan menangai krisis ini ketika bank lain terpaksa gulung tikar. Krisis ini bahkan mengakibatkan,  Presiden Soeharto turun,14 bank dilikuidasi dan digabung menjadi satu, 38 bank ditutup 9 bank direkapitalisasi dan 7 bank diambil alih oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan satu bank, yaitu BMI berdiri melenggang mampu mengatasi krisis yang ada meskipun dengan usaha yang juga tidak mudah. Hingga tahun 2015, sudah terdapat 12 Bank Syariah (Bank Umum Syariah), 22 Bank Konvensional dengan layanan syariah (Unit Usaha Syariah), 163 Bank Pembiayaan Rayat Syariah (BPRS), dengan asset total 260,366 triliyun atau sekitar 5% dari asset perbankan nasional.

Kesimpulan dan Penutup

Bank syariah sudah menunjukan kredibilitasnya, sekarang giliran kita untuk memperjuangkannya. Dalam setiap perjuangan, ada tiga tipe orang. Pertama adalah pejuang, kedua adalah musuh, dan yang ketiga adalah yang memilih diam. Penulis yakin bahwa pembaca pasti bukanlah musuh dalam perjuangan sistem ekonomi syariah, oleh karena itu, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama memperjuangkan ekonomi syariah ini dengan kadar kemampuan masng-masing. Mari mulai dengan bertransaksi dengan menggunakan bank syariah dengan niatan menjauhi riba. Jikapun masih memperlukan bank konvensional, cukup dijadikan sebagai lalu-lintas keuangan saja, dan bukan untuk menyimpan uang. Dengan begitu semoga usaha dan hidup kita menjadi lebih berkah. Karena bagi seorang muslim, usaha bukan melulu soal untung dan rugi, tapi juga keridhoan Allah dengan keberkhan yang menyertainya. Wallahu a’lam bishshawab.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Kajianmu : Jalan Tengah Literasi dan Inklusi Keuangan

Menurut survei yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai tahun 2018 yang sebentar lagi habis ini masyarakat yang sudah menggunakan produk dan layanan keuangan  (inklusi keuangan) telah mencapai 67,8%, sementara masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan yang memadai  mengenai produk dan layanan keuangan (literasi keuangan) baru 29,7%. Padahal ada target yang harus dicapai dalam literasi keuangan pada akhir tahun ini yaitu minimal harus mencapai 35% dari target 75% di penghujung tahun 2019.

Kajianmu adalah program pemberdayaan masyarakat yang menerapkan tiga pendekatan sekaligus yaitu memberikan pinjaman modal tanpa jaminan tanpa bunga yang penting datang pengajian, memberikan pembinaan kerohanian melalui pengajian, dan melakukan pendampingan usaha kepada para jamaah. Sebagai program pemberdayaan, tujuan utama Kajianmu adalah mewujudkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan masyarakat yang tercerahkan secara ruhani atau membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Meskipun dalam kegiatannya, Kajianmu memiliki unit usaha mandiri, namun keuntungan yang didapatkan dari unit usaha tersebut digunakan kembali sebagai dana bergulir untuk pinjaman modal usaha jamaah. Tidak hanya itu saja, Kajianmu juga berperan sebagai konsultan manajemen dan pengelolaan keuangan jamaah untuk kemudian dapat diberi akses/ di link-an kepada lembaga keuangan formal syari’ah jika memerlukan suntikan pinjaman modal usaha yang lebih besar.

Kajianmu fokus melakukan pemberdayaan kelompok ibu-ibu ekonomi kelas menengah ke bawah. Oleh sebab itu, Kajianmu sangat strategis untuk memberikan edukasi keuangan pada masyarakat pedesaan. Literasi keuangan sangat erat kaitannya dengan inklusi keuangan. Jika kemampuan dan keterampilan masyarakat pedesaan terkait dengan manajemen keuangan dan pemahaman mengenai peran lembaga keuangan formal sudah semakin baik, maka otomatis tingkat penggunaan produk dan layanan keuangan pada masyarakat pedesaan juga semakin meningkat.

Jika selama ini beda persentase inklusi keuangan dan literasi keuangan cukup tinggi, maka Kajianmu berupaya untuk mengambil jalan tengah agar penggunaan produk dan layanan keuangan selaras dengan pemahaman, keterampilan dan kepercayaan masyarakat pada lembaga keuangan formal juga meningkat. Dengan meningkatnya akses ke lembaga keuangan formal utamanya lembaga keuangan formal syari’ah baik bank maupun non bank maka sudah bisa kita pastikan kepercayaan masyarakat untuk meminjam dana kepada rentenir juga akan semakin turun. Rentenir tidak lagi menjadi alternatif masyarakat untuk mengakses pinjaman modal usaha karena alasan “tidak ribet”, melainkan masyarakat sudah terdidik untuk lebih memilih menggunakan produk dan layanan keuangan di lembaga formal.

Jalan tengah Kajianmu bukan tanpa alasan. Ia lahir dari kegelisahan akibat ulah rentenir yang sangat tinggi pada masyarakat pedesaan. Rentenir berani mendatangi masyarakat secara langsung door to door untuk menawarkan pinjaman dana. Ada masyarakat yang pada akhirnya meminjam karena memang sangat membutuhkan, ada yang meminjam karena hawa nafsu/ tergiur dengan rayuan rentenir untuk memenuhi keinginan konsumtifnya, atau bahkan karena ketidaktahuan masyarakat tentang produk dan layanan lembaga keuangan syari’ah yang sebentulnya bisa mereka akses. Ada pula masyarakat yang sama sekali enggan meminjam kepada rentenir karena memang pedapatannya sudah cukup, mengetahui bahwa pinjam ke rentenir adalah riba, bunga yang sangat tinggi, dan seterusnya. Permasalahan-permasalahan itulah yang ingin diselesaikan oleh Kajianmu. Gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan gerakan sosial untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kajianmu adalah jalan tengah literasi keuangan  sekaligus inklusi keuangan pada masyarakat pedesaan yang membutuhkan akses modal untuk usaha kecil mereka plus dilakukan dengan akad-akad syar’i.

 

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Laporan Progres Kajianmu

–20 September 2018–

Kajian Memberdayakan Umat (Kajianmu) adalah program pemberdayaan masyarakat, khususnya kelompok Ibu-Ibu dengan menerapkan tiga bentuk pendekatan yaitu memberikan pinjaman tanpa jaminan tanpa bunga yang penting datang pengajian, pembinaan kerohanian melalui pengajian, dan pendampingan usaha para jamaah.

Kajianmu terus berupaya untuk bisa menebarkan manfaat ke lebih banyak tempat. Saat ini kami sedang fokus untuk melakukan pemberdayaan masyarakat di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Sedayu, Kecamatan Moyudan, dan Kecamatan Minggir. Kedekatan secara geografis pada ketiga kecamatan tersebut menjadi alasan utama kami untuk memfokuskan program Kajianmu disana. Meskipun masih terbuka luas untuk daerah-daerah lain yang ingin menduplikasi Kajianmu, dengan catatan sudah tersedia relawan dan memiliki dana awal untuk disalurkana kepada jamaah. Adapun detail majelis, data jumlah jamaah beserta status dapat dilihat pada data di bawah ini :

No.

Lokasi Majelis

Status

1. Griya Kencana Permai (GKP), G1/17, Argorejo, Sedayu. Berjalan
2. Rumah Ibu Sugesti, Dsn. Sundi Kidul, Argorejo, Sedayu Berjalan
3. Masjid Al-Ikhlas, Dsn. Samben, Argomulyo, Sedayu Berjalan
4. Masjid An Nafi’, Dsn. Puluhan, Argomulyo, Sedayu Berjalan
5. Musholla Klisat, Dsn. Klisat, Sumbersari, Moyudan Berjalan
6. Masjid Al-Muttaqin, Hargotirto, Kokap, Kulon Progo Berjalan
7. Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo, Sedayu Pembukaan
8. Masjid Mujahidin, Bakal Pokok, Argodadi, Sedayu Pembukaan
9. Masjid Nurul Haq, Sumberan, Argodadi, Sedayu Pembukaan
10. Masjid Sholihin, Klangon, Argosari, Sedayu Pembukaan
11. Masjid Al-Muttaqin, Kalibawang, Kulon Progo Pembukaan
12. Masjid Gunung Mas, Argomulyo, Sedayu Sosialisasi
13. Masjid Tasykurun, Kebitan, Sendangarum, Minggir, Sleman Sosialisasi
14. Masjid Sengonkarang, Argomulyo, Sedayu Sosialisasi
15. Dsn. Glandong, Moyudan Pendekatan
16. Dsn. Kaliduren, Moyudan Pendekatan
17. Dsn. Gamplong, Moyudan Pendekatan

Keterangan :

  • Jumlah majelis Berjalan : 6
  • Jumlah majelis yang baru akan pembukaan : 5
  • Jumlah majelis yang baru akan sosialisasi : 3
  • Jumlah majelis yang baru pendekatan : 3

Jamaah yang baru terdata   : 93 orang

Jumlah Relawan aktif            : 30 orang

Sampai saat ini Kajianmu juga bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendapat dukungan dalam bentuk pendanaan yang digunakan sebagai dana bergulir untuk dipinjamkan kepada jamaah maupun untuk keperluan operasional. Jumlah total donasi Kajianmu sampai saat ini yaitu Rp. 70.905.330 dengan dana bergulir yang telah dipinjamkan kepada jamaah berjumlah Rp. 34.400.000. Rincian dana bergulir tersebut adalah Rp. 18.780.000 untuk total dana dikembalikan oleh jamaah, dan Rp. 15.620.000 untuk nominal pinjaman yang saat ini masih ada pada jamaah.

 

 

 

 

Aplikasi Bantu Permudah Pendataan Jamaah Kajianmu

Pada bulan Juni 2018 lalu secara resmi Kajian Memberdayakan umat (Kajianmu) telah meluncurkan aplikasi guna menyempurnakan gerakannya selama ini. Kegiatan peluncuran sekaligus buka bersama relawan Kajianmu diselenggarakan di Sedayu, Bantul. Yakni di rumah Muhammad Ghufron Mustaqim selaku penggagas program tersebut. Kajianmu merupakan program pemberdayaan masyarakat berbasis pengajian dan memberikan pinjaman tanpa jaminan, tanpa bunga yang penting datang pengajian.

Hampir selama satu tahun Kajianmu menjalankan programnya dengan menggunakan sistem manual. Segala administrasi seperti data jamaah, kartu prestasi mengaji, nominal pinjaman, dan catatan angsuran dicatat di kertas. Hal tersebut dirasa kurang efektif karena resiko catatan hilang atau tertukar menjadi sangat besar, memakan tempat, serta membutuhkan biaya operasional yang banyak. Aplikasi bertujuan membantu kegiatan dakwah dan pemberdayaan Kajianmu sehingga berlangsung efektif dan efisien.

“Aplikasi ini dikembangkan sehingga mempermudah pamong jamaah dalam mengelola administrasi. Sekaligus InsyaAllah dengan telaten nantinya bisa dilakukan pemanfaatan big data untuk membuat pemberdayaan yang lebih powerful”. Papar Ghufron.

Aplikasi dapat diunduh secara gratis melalui playstore dengan keyword “Kajianmu”. Maka, akan muncul ikon Kajianmu yang berupa daun. Dalam aplikasi yang baru diluncurkan tersebut, ada 6 fitur yang dapat digunakan. Enam fitur itu meliputi Tambah Jamaah, Progres Ngaji, Pinjaman Angsuran, Tabungan, Profil Usaha, dan Artikel. Semua data yang terkait dengan sistem pemberdayaan Kajianmu akan tersimpan rapi di ruang maya. Selain itu, penggunaan aplikasi ini tidak terbatas pada kalangan relawan Kajianmu di Yogyakarta saja. Namun juga dapat diduplikasi oleh pihak lain seperti para takmir masjid yang ingin mengadakan Kajianmu di lokasinya. Setelah ada konfirmasi, barulah akun diaktivasi melalui dashboard oleh administrator Kajianmu. Dengan adanya aplikasi ini, diharapkan tugas para pamong dalam mengkoordinir jamaah di setiap majelis Kajianmu dapat terbantu. [Fiy]

Dari Pengajian, KajianMu Selamatkan Jamaah dari Rentenir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pendiri Kajian Memberdayakan Umat (KajianMu), Muhammad Ghufron Mustaqim menyelamatkan puluhan pengusaha mikro dari jeratan rentenir di Yogyakarta. Pemuda ini bersama temannya memberikan pinjaman tanpa bunga dan jaminan kepada jamaah pengajian yang memiliki usaha mikro.

KajianMu adalah program pemberdayaan berbasis pengajian. Menurut Ghufron, sampai saat ini ada 40-45 jamaah yang fokus dibantu oleh KajianMu. Namun, yang mengajukan permohonan untuk diadakan KajianMu sudah ada 30-50 masjid.

Ke depannya, menurut dia, pihaknya akan terus mengundang ibu jamaah lainnya untuk datang ke pengajian yang digelar KajianMu setiap pekan.

“Kita undang ibu-ibu yang punya usaha mikro untuk datang ke pengajian kami. Terus kemudian mereka dapat pinjaman tanpa bunga tanpa jaminan. Syaratnya satu, yang penting rutin datang ke pengajian kami,” ujar Ghufron saat berbincang dengan Republika.co.id usai menjadi pembicara dalam Pengkajian Ramadhan 2018 di Kampus Fakultas FKIP Uhamka, Jakarta Timur, Selasa (29/5).

Alumni Universitas Gajah Mada ini menjelaskan, dalam menjalankan program ini, pada intinya KajianMu belajar dari zaman Rasulullah tentang pembangunan umat, di mana kuncinya ada dua, yaitu tentang pembinaan iman dan pembinaan ekonomi. Menurut dia, pembinaan iman sudah ditandai dengan dibangunnya masjid untuk shalat jamaah dan ibadah lainnya.

“Yang ini di Indonesia rasa-rasanya sudah banyak karena masjid aja ada 800 ribu.Tapi yang kedua, sumber pemberdayaan ekonomi jamaah ini yang kurang maksimal. Nah kita memulai pilot projek di Jogjakarta setahun yang lalu, kita undang ibu-ibu itu,” ucap Ghufron.

Sebelumnya, menurut dia, ibu-ibu yang memiliki usaha mikro itu banyak yang terjebak rentenir. Namun, kini sudah bisa mengajukan pinjaman kepada KajianMu setelah mengikuti minimal lima kali pengajian. Jamaah bisa memilih sendiri jumlah angsuran sesuai kemampuannya yang diangsur setiap minggunya.

Jumlah pinjaman awal yang KajianMu berikan sampai Rp 3 juta. Namun, seiring dengan kemajuan usaha jamaah dan keaktifan dalam pengajian, Kajianmu bisa memberikan pinjaman sampai Rp 10 juta.

Saat ini, KajianMu memiliki dua titik pengajian di Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Sejauh ini sudah mulai banyak muncul permintaan-permintaan dari berbagai masjid agar KajianMu diselenggarkan di masjid tersebut. Satu per satu akan diakomodasi sehingga KajianMu bisa memberikan dampak ke lebih banyak jamaah. “Karena ternyata keinginan untuk menduplikasi ini di beberapa tempat banyak, kita buatkan platform digital,” kata Ghufron.

Awal Cerita Berdirinya KajianMu

Awal cerita KajianMu adalah ketika menjelang Bulan Ramadhan tahun 2017. Ghufron Mustaqim, Daffa Abyanu dan Wahyu Chandra mampir makan di sebuah warteg di Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Di sampingnya, ada Ibu-ibu pemilik warung, yang mana rak-raknya tampak kosong.

Produk yang dijual pun sangat sedikit lantaran tidak memiliki modal. Pernah produknya lebih banyak, tapi karena ada anggota keluarga yang sakit, uang yang seharusnya untuk belanja barang dipakai untuk berobat. Lalu, Ghufrin dan kedua temannta itu bertanya kenapa tidak pinjam modal?

Ibu tersebut jawab bahwa ia enggan karena trauma dengan rentenir yang menetapkan bunga melangit. Kalaupun ia pinjam di bank, dia tidak punya sesuatu untuk dijaminkan sehingga susah dapat pinjaman bank. Ghufron lalu menelusuri lebih lanjut problem ini.

Lalu, pada kesempatan lain, Ghufron berjumpa dengan ibu penjual sayur. Usaha penjual sayur itu juga tidak berkembang karena terjebak hutang ke rentenir. Keuntungan yang didapat tidak bisa dinikmati karena untuk membayar bunga rentenir.

Karena itulah, Ghufron dan temannya memberanikan diri untuk mengajak ibu tersebut dan ibu-ibu lain yang memiliki cerita mirip dalam program pemberdayaan berbasis pengajian, KajianMu.

Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Big Data dengan Kajianmu

REPUBLIKA.CO.ID, BANTUL — Kemajuan teknologi telah mendorong Muhammadiyah untuk melaukukan terobosan. Hal ini diperlukan demi mengimbangi adanya revolusi industri 4.0 yang telah merasuk dalam masyarakat.

Hal inipun kemudian diejawantahkan oleh anggota Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), M. Ghufron Mustaqim. Hal yang ia lakukan adalah program pemberdayaan ekonomi dengan memanfaatkan big data yang dikemas dalam Kajian Memberdayakan Umat (Kajianmu).

“Ini adalah sebuah pemberdayaan berbasis pengajian yang memiliki fasilitas memberi pinjaman tanpa bunga dan jaminan,” ujarnya kepada Republika usai menjadi pembicara dalam pengajian Ramadhan PWM DIY di Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (2/6).

Hal yang unik dari Kajianmu adalah jamaah yang memiliki usaha mikro dapat menikmati fasilitas pinjaman tanpa bunga dan jaminan dengan syarat harus rajin mengikuti pengajian.

Setelah itu, intensitas kehadiran kajian dan progres pemahaman serta kemampuan dalam membaca Alquran di unggah dalam aplikasi Kajianmu yang dibangun dengan plarform digital berbasis android. Seluruh data itu kemudian diintegrasikan denhan data terkait detail usaha yang tengah dijalankan oleh jamaah tersebut.

“Seluruh hasil dari analisis big data inilah yang kemudian sekaligus menjadi track record yang diperlukan sebagai instrumen pertimbangan pemberian pinjaman,” kata dia. Menurutnya, program dengan memangaatkan big dataini masih merupakan pilot project dan baru saja dioperasikan pada Mei 2018.

Hingga saat ini, sudah terdapat sekitar 40 jamaah yang telah terdaftar dalam aplikasi Kajianmu. Dari 40 jamaah itu, terdapat 20 orang yang telah mendapat fasilitas pinjaman. Rata-rata, lanjut dia, mayoritas jamaah bergerak pada industri kuliner dengan pinjaman rata-rata sekitar Rp 3 juta rupiah.

Ia menekankan, selain sebagai tindak lanjut atas pemanfaatan peluang dalam menghadapi revolusi industri 4.0, program ini juga memiliki misi untuk memberantas rentenir. Pada tahap awal, program ini fokus untuk dikembangkan di Yogyakarta, mengingat, di kota ini saja terdapat sekitar 200 ribu orang yang menjadi korban rentenir setiap tahunnya.