Memberi Tak Membuat Rezeki Berkurang

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Salah satu amalan yang akan dibawa ketika sudah tak lagi di dunia ini adalah sedekah. Bersedekah pun bisa dilakukan dalam berbagai bentuk. Bisa dengan menyedekahkan uang, makanan, menyingkirkan duri di jalan, bahkan senyuman di depan saudara sesama muslim pun adalah sedekah.  Tak terkecuali yang dilakukan oleh Bu Kartiyem. Sehari-hari, Ibu yang kini berusia 65 tahun ini berjualan Bakso Tusuk dan Es Cincau di depan rumahnya. Ia biasa berjualan mulai sekitar pukul 10.00 Wib pagi sampai pukul 16.00 Wib sore hari.

Modal Jualan Bakso Tusuk

Wanita yang akrab disapa Budhe Karti oleh orang-orang sekitar ini mulai merintis berjualan sejak sekitar 6 tahun yang lalu. Awalnya yang berjualan adalah suami yakni keliling menjajakan es krim menggunakan sepeda. Namun semenjak suami menderita tulang keropos yang pernah membuat kaki suami Budhe Karti lumpuh, praktis aktivitas berjualan berhenti. Namun, Budhe Karti tidak mau diam. Dengan bantuan rekan suami, akhirnya ia diberi modal untuk menjalankan usaha bakso tusuk. Modal berjualan mulai dari bahan-bahan untuk membuat bakso, panci, blender, gerobak dan lain-lain.

Niki riyen sing modali niku tiyang tebih Mbak, tiyang Gunungkidul. Riyen niko nopo mawon nggih..nggih bahan-bahan bakso, nggih panci, nggih blender, kathah pokoke Mbak (read: Dahulu yang memberi modal pertama kali jualan bakso adalah orang jauh Mbak, orang dari Gunungkidul. Modalnya berupa bahan-bahan pembuatan bakso, panci, blender, dan banyak pokoknya Mbak).” Jelas Bu Karti menggunakan Bahasa Jawa

Awalnya, Budhe Karti hanya berjualan bakso tusuk. Namun seiring berjalannya waktu, ia melihat peluang untuk menyediakan minuman kepada para pembeli baksonya. Lalu muncullah ide untuk menjual es cincau disamping jualan utamanya. Lokasi berjualan pun sempat mengalami perpindahan. Pertama kali Budhe Karti menjajakan jualannya di depan rumah salah seorang tetangga yang terletak di pinggir jalan yang cukup ramai. Namun demikian, karena tetangganya kemudian juga membuka warung maka Budhe Karti merasa tidak enak. Akhirnya sejak beberapa bulan yang lalu lokasi berjualan pindah ke depan rumahnya. Meskipun jalanan di depan rumah Budhe Karti tidak seramai tempat yang sebelumnya, tetapi pelanggan setia bakso tusuk Budhe Karti tetap datang dan menyantap makanan favorit mereka tersebut.

Nggih pindah mriki mawon. Lha nggih pripun nggih Mbak ngriko nggih mbuka dadose kan nggen kulo kegeser. Ketumpuk-tumpuk kalih ngriko. Pindah mriki mawon mboten nopo-nopo. Lha biasane nggih cah-cah sekolah niku sami mriki…mpun langganan. Wonten cah SMP, SMA, SMK..mriki nggih mundhut piyambak (read: Iya pindah kesini saja. Bagaimana lagi ya Mbak karena disana juga berjualan jadinya kan jualan saya tergeser, tumpang tindih dengan jualannya sana. Pindah kesini saja tidak apa-apa. Biasanya juga anak-anak sekolah suka mampir kesini, sudah jadi langganan. Ada anak SMP, SMA , SMK kesini dan mengambil sendiri-sendiri).” Lanjut Bu Karti sembari tersenyum

Memberi Tak Membuat Rugi

Selayaknya orang berjualan adalah mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, maka lain dengan Budhe Karti. Meskipun mendapatkan keuntungan adalah tujuan, namun tak jarang ia membagikan jualannya secara cuma-cuma. Terlebih jika ada anak kecil yang datang dan mengatakan ingin makan bakso tusuk namun tidak membawa uang atau uangnya tidak cukup, maka Budhe Karti akan dengan senang hati untuk mengambilkan beberapa biji bakso dan memberikannya kepada anak kecil tersebut. Pun jika ada orang yang sebelumnya belum pernah bertemu dan mampir kesana, Budhe Karti juga tak sungkan untuk menjamu dengan bakso tusuk buatannya.

Ia dan suami memiliki prinsip bahwa memberi tak membuat usaha mereka rugi. Keuntungan tidak hanya di dapatkan dari jumlah uang yang diterima. Mereka senang jika ada anak-anak kecil yang datang dan meramaikan rumahnya, atau saat anak-anak sekolah datang dan mengambil bakso tusuk sendiri-sendiri itu juga hal yang menyenangkan untuk Bu Karti, dan keadaan-keadaan lain yang tidak bisa diukur dengan uang. Karena Bu Karti sadar bahwa hanya dengan pemberian sederhana itulah hal yang saat ini bisa dilakukan. Maka, memberi baginya dan suami tidak membuat rezeki mereka berkurang sama sekali.

Mpun mboten usah di bayar Mbak, mpun mboten usah. Namung pisan niki kok mriki..mboten usah dibayar kulo mpun untung. Kulo malah seneng Jenengan mpun mriki. Memberi niku mboten nggawe kulo rugi Mbak (read: Sudah tidak perlu membayar Mbak, sudah tidak usah. Hanya sekali saja kok kesini, tidak usah membayar saya sudah dapat keuntungan. Saya malah senang Mbak sudah kesini. Memberi itu tidak membuat saya rugi Mbak).” Ujar Bu Karti ditemani suami saat saya memberikan beberapa rupiah untuk mengganti bakso tusuk dan es cincau yang saya makan.

Ilmu dan Ulama Dalam Islam

Oleh : Alda Kartika Yudha, Lc., M. H

Syekh Ali Jum’ah (Mantan Mufti Mesir) pernah mengatakan bahwa tugas manusia sebagai khalifah Allah di dunia ini ada tiga; Ibadah kepada Allah, Memakmurkan atau membangun dunia, dan Mensucikan diri. Dari semua tugas ini ada satu hal yang dibutuhkan dan tidak dapat dilepaskan dari ketiga hal tersebut, yaitu Ilmu.

Ilmu tidak akan terlepas dari segala aspek kehidupan. Orang berilmu pasti akan selalu menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang awam. Semua orang sadar akan pentingnya ilmu dan ulama. Lalu bagaiamana hakikat ilmu dan ulama dalam islam?

Ulama dan Keistimewaannya

Dalam kitab Tadzkirah as-Sâmi’ wa al-Mutakallim karya Qadhi Badrudin bin Jama’ah, beliau menyebutkan banyak sekali keistimewaan seorang ulama. Beliau mengambil ayat-ayat al-Quran, hadis Nabi, maupun perkataan para sahabat dan ulama, ketika menjelaskan keistimewaan seorang yang bergelar ulama. Beberapa diantaranya adalah firman Allah yang berbunyi:

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang  beriman diantara kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat (al-Mujadalah: 11).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa keutamaan ulama itu 700 derajat lebih tinggi daripada mukmin biasa, dan jarak antara masing-masing derajat itu adalah 100 tahun. Termasuk hadis yang sudah tidak asing tentang keistimewaan ulama adalah hadis yang berbunyi: “Para ulama adalah pewaris para nabi.”(HR Tirmidzi).

Jamak diketahui bahwa tidak ada derajat yang lebih mulia di dunia ini daripada derajat kenabian. Akan tetapi Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir, maka derajat kenabian ini sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu derajat kemuliaan tertinggi yang bisa dimiliki oleh manusia sekarang adalah pewaris para nabi, yaitu mereka yang bergelar ulama. Dalam hadis yang diriwayatkan Daru Qutni, Nabi juga mengatakan bahwa satu ahli fikih (ulama) itu lebih dibenci oleh setan daripada 1000 ahli ibadah.

Senada dengan ayat dan hadis tentang keistemewaan ulama,  Abu Muslim al-Khulaini mengatakan bahwa ulama itu layaknya bintang di langit, ketika muncul, maka ia akan menjadi petunjuk jalan bagi manusia. Dan ketika hilang, maka manusia akan kebingungan. Begitu juga Aswad ad-Duali,  beliau menyatakan bahwa raja adalah hakim bagi manusia, dan ulama adalah hakim bagi raja.

Banyak sekali ayat quran, hadis, atsar yang menjelaskan keistimewaan orang yang bergelar ulama. Penulis diatas hanya menyebutkan beberapa saja. Tentunya gelar ulama ini tidak bisa diperoleh dengan mudah dan instan.

Punya Rumah Sendiri Setelah 11 Tahun

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Tempat tinggal atau papan merupakan kebutuhan primer bagi setiap orang. Terlebih bagi mereka yang sudah berkeluarga, tempat tinggal adalah kebutuhan yang harus segera dipenuhi terlebih dahulu.  Seperti kisah salah seorang jamaah Kajianmu yang menjalani proses selama 11 tahun sampai bisa menempati rumah milik sendiri. Ia adalah Ibu Fera Salmawati. Wanita yang akrab di sapa Bu Fera ini sehari-hari menjalankan usaha membuat Pesanan Aneka Jajanan Pasar dan Kue. Melalui tangan terampilnya, Bu Fera mampu menghasilkan berbagai  jajanan tiap harinya.

Awal Memulai Usaha

Bu Fera adalah wanita asal Purwokerto, Jawa Tengah yang menikah dengan orang asli Yogyakarta. Awal menikah ia dan suami tinggal di rumah mertuanya di daerah Notoprajan, Ngampilan, Yogyakarta yang juga serumah dengan kakak suaminya yang sudah berkeluarga. Selama tinggal bersama mertua, wanita kelahiran Banyumas, 10 Oktober 1982 ini belajar membuat makanan tradisional seperti Nogosari, Lemet (makanan basah terbuat dari Ketan), Putu Ayu, Monte/ Kupu Tarung, Lemper, dan sebagainya. Ia memanfaatkan waktu tinggal bersama mertua untuk hal-hal yang mengasah skill kulinernya. Hasilnya pun tak sia-sia, apalagi di topang dengan hobinya yang memang suka berkelindan di dapur membuat aneka makanan.

“Saya membuat makanan tradisional kayak Nogosari itu resep Ibu mertua. Nah misalnya saya nanya, “Bu, nek ndamel niki pripun ? (read: Bu kalau membuat makanan jenis ini bagaimana ?) misalnya gitu. Jadi, yang tradisional kebanyakan dari Ibu semua kayak Nogosari, lemet, monte misalnya gitu. Nah kalau yang lain-lain saya belajar sendiri dari Youtube. Lihat video-video dari Youtube, belajar resep di Facebook.” Jelas Ibu 3 anak ini

Namun demikian, Bu Fera masih belum cukup percaya diri untuk  memasarkan produknya. Tetapi ia terus belajar untuk mengasah kemampuan membuat aneka makanan. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaannya di komunitas Diajeng Jogja (DJ) yakni komunitas yang mewadahi Ibu-Ibu untuk belajar bersama membuat aneka makanan dan kue di Yogyakarta. Semenjak bergabung dengan komunitas tersebut, ia menemuka kepercayaan diri mulai menerima pesanan. Feedback pelanggan terhadap makanan olahan Bu Fera pun tergolong bagus sehingga ia semakin percaya diri untuk mengambil setiap pesanan yang ia terima.

“Saya memang dari kecil itu rajin. Yo senang masak, senang membantu orangtua, senang bersih-bersih rumah gitu lho. Akhirnya kemarin itu kan ada facebook itu to Mbak. Nah, pertama buat facebook ikut grup masak-masak gitu kok terus nemu teman-teman Jogja. Kita bikin grup sendiri di Jogja. Akhirnya kumpul-kumpul, belajar masak bareng dari situ saya mulai timbul keinginan untuk buat usaha.” Lanjut Bu Fera

Dari komunitas memasak itu lah Bu Fera mulai percaya diri untuk membuat jajanan yang dititipkan ke penjual-penjual di pasar Gamping, di sekolah- sekolah, pesanan dari teman-temannya, maupun mencoba dipasarkan melalui facebook pribadinya. Saat ini, setiap hari Bu Fera hampir selalu melayani berbagai pesanan. Bahkan akhir-akhir ini omset  tiap bulan bisa mencapai Rp. 2.000.000.

“Alhamdulillah Mbak..setelah saya sering baca sholawat, karena pernah dibilangin kan pas Kajianmu sama Mbak-Mbak yang ngisi kalau sering baca sholawat itu insyaAllah ada aja rezekinya. Ya memang benar Mbak saya rasakan itu. Omsetnya ya mungkin Rp. 2.000.000 ada Mbak untuk saya lho. Cuma istilahnya saya kan roda nya lagi di bawah Mbak. Jadi, suami buat bayar hutang dan saya buat makan.” Ujar wanita asli Purwokerto ini.

Tak hanya itu saja, sebelum berangkat kerja suami Bu Fera juga sering membantu membuat pesanan. Sehingga ia merasa usaha yang dijalankannya di dukung oleh suami dan sekaligus juga membantu meringankan beban kerjanya. Ke depannya wanita berusia 36 tahun ini berharap dapat merekrut karyawan untuk membantu menjalankan usaha pesanannya serta memiliki keinginan membuka warung makan. Dengan usaha warung makan tersebut, ia ingin memberdayakan saudara-saudaranya yang belum memiliki pekerjaan.

“Rencana saya kedepannya kalau usaha pesanan saya ini tetap jalan. Ya mungkin kalau terlalu banyak pesanan ya tetap ambil orang ya…butuh orang. Tapi yang tujuan saya itu kalau usaha ini benar-benar udah jalan saya pingin buka warung makan dengan melibatkan saudara-saudara saya. Disana kakak saya yang di Purwokerto dan kakak saya disini yang belum ada kegiatan. InsyaAllah rencana saya seperti itu Mbak.” Papar Bu Fera dengan bersemangat.

Ngontrak Selama 11 Tahun

Ibu Fera menikah dengan suaminya pada tahun 2007 dan sejak saat itu mereka tinggal di Yogyakarta. Setelah memutuskan untuk berpisah rumah dengan mertua, Bu Fera dan suami lalu berpindah ke rumah kontrakan di daerah Sodanten, Gamping. Mereka pun memiliki kisah menarik saat menemukan rumah yang pernah ditinggalinya sampai pertengahan tahun 2018 itu.

“Dulu Mbak pas suami saya nyari kontrakan itu kan disana ada 2 rumah. Satu menghadap ke utara dan yang satunya ke barat. Nah, pas masuk ke rumah saya  itu kok suami saya waktu itu ngerasa adem gitu Mbak. Itu kan dulunya musholla Mbak..musholla keluarga gitu. Terus katanya lagi Mbak, setiap orang yang habis ngontrak dari sana itu keluar pasti punya rumah sendiri. Jadi, keluar itu bukan karena ada masalah atau apa tapi mesti pindah ke rumah sendiri gitu Mbak..Alhamdulillah.” Tutur Wanita yang murah senyum ini.

Mulai dari rumah kontrakan itulah Bu Fera berani menjalankan usaha pesanan. Bahkan pada tahun 2016 ia juga sempat membuka warung kecil-kecilan di depan rumah kontrakannya. Meskipun demikian, rumah kontrakan tetaplah rumah kontrakan, bukan rumah sendiri yang terasa tenang dihuni. Maka, sembari mengontrak, ia dan suami juga istiqomah menabung dan mencari rumah yang bisa di-KPR-kan. Hal tersebut dilakukan karena Bu Fera merasa kurang nyaman mengontrak walaupun ia tinggal disana juga membayar.

“Jadi gini Mbak, kalau selama ngontrak kan punya anak..jadi rasanya itu ada rasa sedih tersendiri yo Mbak. Mosok yo anakku tak ajakin ngontrak gini gini. Apalagi kalau ngontrak pindah dari satu tempat ke tempat lain kan sedihnya ada gitu lho Mbak. Alhamdulillah saya kan dari kecil tidak terbiasa hidup berpindah-pindah..tapi di rumah sendiri. Kemarin begitu punya suami terus belajar hidup sendiri. Ya ngerasa sedih Mbak, enak nggak enak itu kalau ngontrak itu tetap nggak enak gitu lho. Biarpun kita bayar itu rasanya, jenenge orang nunut itu rasane benar-benar nggak enak Mbak (read: namanya orang menumpang itu rasanya benar-benar tidak nyaman). Padahal kita bayar gitu lho.” Ucap Bu Fera dengan mimik sendu

Punya Rumah Sendiri

Setelah bertahan selama 5 tahun di rumah kontrakan, pada pertengahan tahun 2011 Bu Fera memperoleh informasi dari sesama wali murid di TK anak pertamanya. Orang tersebut memberi informasi bahwa ada rumah yang dijual dan bisa di KPR kan. Maka tak perlu menunggu waktu lama, ia dan suam pun segera mendatangi rumah yang dimaksud. Gayung pun bersambut. Rumah yang awalnya di jual dengan harga Rp. 175 juta kemudian di tawar oleh Bu Fera seharga Rp. 155 juta dan pemilik rumah menyambut tawaran tersebut. Ia pun merasa sangat bersyukur pada akhirnya bisa mendapatkan rumah yang diinginkan.

“Alhamdulillah. Setelah 11 tahun akhirnya..ya seneng banget Mbak, senangnya benar-benar sudah tidak bisa digambarkan. Bahagianya…wes pokoknya sebahagia-bahagianya.” Ujar Bu Fera dengan penuh rasa syukur.

Kemudahan-kemudahan lain pun didapatkan wanita yang menjadi salah satu jamaah Kajianmu ini.  Proses pembuatan sertifikat yang memakan waktu 2 tahun sejak pertama kali tawaran diterima penjual, membuat Bu Fera dan suami merasa terbantu karena masih ada jeda waktu untuk mengumpulkan uang dan mengangsur rumah yang sudah lama diimpikannya. Ia sempat mengontrakkan rumah itu kepada 3 orang secara bergantian hingga akhirnya angsuran lunas. Kini, Alhamdulillah Bu Fera dan keluarga telah menghuni rumah pribadi hasil perjuangan bersama suaminya. Perjuangan Bu Fera dari  usaha pesanan aneka jajanan dan suami yang menjalankan usaha jual kaca mata.

Bagaimana Setan Menyerang Kita ?

Oleh : Alda Kartika Yudha, Lc., M. H

Manusia hidup mempunyai satu tujuan, yaitu ridha Allah SWT. Dalam mendapatkan ridhoNya, setiap manusia mempunyai musuh yang harus mereka lawan yaitu setan la’natullah ‘alaihim. Setan yang sudah ada sejak zaman nabi Adam AS ini terus-terusan tak bosan (dan tak akan pernah bosan) menggoda manusia agar bisa menjadi teman abadi mereka di neraka kelak. Mereka sudah belajar tips dan trik jitu menjerumuskan kita sejak zaman Nabi Adam AS. Ibarat gelar akademik, kaum tersesat ini sudah mendapatkan beribu-beribu gelar professor dalam bidang ke-neraka-an.

Bagi orang yang sedang berperang agar bisa memenangkan pertempuran hal pertama yang harus dilakukan adalah fokus (sadar dan tetap waspada disetiap saat). Berikutnya adalah mempunyai senjata  dan strategi untuk menghadapi mereka. Rasulullah SAW sudah meninggalkan dua hal berupa Al Qur’an dan Hadist yang didalamnya terdapat senjata dan strategi perang yang jitu dalam melawan setan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Kemudian, yang perlu kita jadikan bekal berperang adalah pengetahuan kita tentang musuh dan strategi mereka.

Dalam kitab Madârij Assâlikîn karya Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya setan memliki 7 jalan/ level untuk mengajak manusia agar abadi bersamanya di neraka.

1) Jalan kekafiran. Inti dari jalan ini menjadikan kita kafir terhadap Allah. Jika sudah kafir, maka semua amal akan tertolak. Ini merupakan simbol dosa tertinggi, karena tidak ada dosa lagi setelah kafir.

2) Jalan bid’ah. Jika setan gagal merayu kita lewat jalan kekafiran maka mereka akan masuk lewat jalan ke-bid’ah-an. Bid’ah merupakan sesuatu hal yang baru dalam ibadah wajib yang tidak diajarkan oleh Rasululah SAW. Termasuk didalamnya adalah percaya pada benda-benda yang bersifat mistik yang bisa berujung pada khurafat.

3) Jalan dosa besar. Berikutnya mereka akan menggoda kita untuk melakukan dosa besar. Misalnya, zina, minum khamr, menyuap dll. Yang mengkhawatirkan dari perilaku dosa besar ini adalah bahwa jarak antara dia dan kekufuran hanyalah satu jengkal saja. Maksudnya, orang yang sudah terbiasa dengan dosa besar, ketika mereka tertimpa musibah, mereka rentan untuk terjerumus pada kekafiran, sebagaimana ada kemungkinan mereka akan bertobat karena musibah tersebut.

4) Jalan dosa-dosa kecil. Misalnya, menyentuh wanita, lepas jilbab, menggunjing, dll. Setan akan berusaha meyakinkan manusia dengan dalih bahwa dosa kecil akan gugur dengan melakukan shalat dengan dalil hadist nabi bahwasanya diantara dua shalat itu ada pengguuran dosa bagi yang melakukan shalat. Sepintas, apa yang dikatakan setan ini jelas benar. Akan tetapi maksud dari setan sendiri itu tak lebih dari sebuah kebatilan. Ditambah lagi, dosa besar manusia cenderung mengingat bahkan mungkin hingga hari kiamat. Akan tetapi dosa-dosa kecil, karena kita sering meremehkan, bisa jadi di akhirat kelak dosa kita seudah menumpuk tak terkira.

5) Menggoda kita untuk melakukan banyak hal yang mubah (dibolehkan), hingga membuat kita lalai dalam perkara sunah atau bahkan wajib. Misalanya, tidur yang banyak hingga kita susah shalat tahajud, atau makan yang banyak, hingga kita menjadi malas. 6) Jalan ketaatan. Yaitu dengan cara membuat kita sibuk dengan ketaatan yang keutama

Bu Rika, Ikut Kajianmu karena Ingin Bisa Baca Al Qur’an

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Membaca kitab suci Al Qur’an adalah kebutuhan bagi setiap muslim. Lebih-lebih jika berusaha memahami makna dan kandungan dari ayat yang di baca.  Tak terkecuali Bu Rika, salah seorang jamaah Kajianmu di Argorejo, Sedayu, Bantul. Wanita pemilik nama lengkap Rikawati Ristyawardani ini telah menjadi jamaah Kajianmu sejak bulan Februari 2018. 

Awal Mula Ikut Kajianmu

Ajakan mengikuti Kajianmu datang dari tetangganya yang juga sudah aktif mengikuti Kajianmu. Ajakan yang pertama dan kedua ditanggapi oleh Ibu satu anak ini dengan tidak begitu antusias. Baru setelah ajakan yang ketiga kalinya, ia memantapkan diri untuk berangkat pengajian. Awalnya ia merasa malu karena masih belum bisa membaca Iqro’ dengan lancar.

“Ya saya bilang Mbak ke Bu Indra (tetangga yang mengajak) kalau saya mau berangkat Kajianmu nanti setelah saya bisa baca huruf hijaiyah. Saya malu orang belum bisa baca. Tapi kata Bu Indra, niat baik itu disegerakan nggak perlu di tunda-tunda. Yasudah akhirnya saya berangkat.” Jelasnya.

Keputusan Bu Rika untuk berangkat di sore itu ternyata membuat hatinya nyaman dan sreg dengan pengajian di Kajianmu karena ngajinya simpel dan menyenangkan.

Seorang Muallaf

Wanita kelahiran 19 September 1978 ini adalah seorang Muallaf. Ia mengucapkan dua kalimat Syahadat pada usia 20 tahun. Sejak kecil Bu Rika di didik oleh orangtuanya untuk menjadi nasrani yang taat. Ia di sekolahkan di sekolah kesusteran dan menjadi putra altar pendeta. Bahkan saat remaja ia juga aktif di organisasi Muda-Mudi Katholik (Mudika).

“Saya dulu hidup di lingkungan nasrani Mbak. Tapi setelah ayah saya meninggal, keluarga pindah ke Malang, Jawa Timur. Sejak saat itu saya tinggal bersama dengan keluarga besar Ibu saya yang semuanya Islam.” Tutur Bu Rika

Perpindahan dari Yogyakarta ke Malang membuat Bu Rika lebih mengenal Islam. Apalagi seluruh saudara-saudaranya adalah muslim. Ia menceritakan bagaimana dahulu saat semua saudaranya sedang merayakan lebaran, sholat ‘Ied, sholat Tarawih bersama- sama ke masjid sedangkan dirinya hanya di diam di rumah, Bu Rika merasa sedih. Perlahan, Ia belajar tentang Islam dengan menanyakan kepada Kakak sepupunya, membaca buku-buku tentang Islam dan mengamati saudara-saudaranya menjalankan Ibadah. Hingga pada suatu malam, Ia sering bermimpi mendirikan sholat. Akhirnya wanita yang sekarang berusia 40 tahun ini memberanikan diri untuk mengatakan ke Ibu dan saudaranya bahwa ia ingin memeluk agama Islam. Niat Bu Rika pun disambut dengan penuh syukur dan haru dari seluruh keluarga besarnya di Jawa Timur.

“Saya waktu itu masuk Islam jam 3 sore pas besoknya hari pertama bulan Ramadhan. Saya dipanggilkan Ustadz oleh keluarga besar dan saat itu Kakak kandung saya juga ikut masuk Islam. Kata Ustadznya waktu itu, saya masuk Islam di bulan Ramadhan itu suatu berkah dari Allah SWT, dosa-dosa saya yang dulu di hapus, kembali seperti bayi yang baru lahir. Akhirnya saya menangis dan semua keluarga besar yang menyaksikan juga ikut menangis.” Kenang Bu Rika sembari berlinangan air mata.

Ikut Kajianmu karena Ingin Bisa Baca Al Qur’an

Setelah menikah, Bu Rika berpindah ke Yogyakarta mengikuti pekerjaan suaminya. Saat ini, Ia dan keluarga kecilnya tinggal di daerah Argorejo, Sedayu, Bantul. Sehari-hari ia membuat kue-kue kecil/ jajanan pasar untuk memenuhi pesanan. Wanita berkacamata ini merasa bersyukur bisa hidup di lingkungan yang mendukung ia dan suaminya untuk belajar agama. Apalagi sekarang ia sudah aktif mengikuti pengajian di Kajianmu. Ajakan tetangganya untuk ikut Kajianmu ternyata membuat Bu Rika merasa candu. Ia merasa gelo jika tidak berangkat Kajianmu yang dilakukan setiap Sabtu sore.

“Waktu saya berangkat Kajianmu pertama kali saya masih belajar a..ba..tapi Alhamdulillah, ternyata disana saya nggak malu. Dari rumah itu saya udah niatkan bahwa saya harus bisa baca Al Qur’an. Saya berfikir, kenapa Simbahnya suami saya itu orangnya nggak bisa baca tulis tapi bisa baca Al Qur’an, kok aku ini yang bisa baca tulis malah nggak bisa !?. Berarti kan saya harus belajar tho.. ya, itu di Kajianmu itu.” Papar Bu Rika dengan semangat.

Meskipun Bu Rika juga tidak menafikkan bahwa pinjaman modal dan pendampingan usaha yang diberikan Kajianmu juga dirasakan manfaatnya oleh beliau. Namun, tujuan paling utamanya adalah ingin bisa membaca Al Qur’an. Semangat wanita paruh baya ini untuk bisa membaca Al Qur’an telah membawanya sampai di Iqro’ 3 dari awalnya masih bingung dalam mengenal huruf hijaiyah.

“Apalagi di Kajianmu itu, pertama, selain memberi pinjaman, terus terang saya ingin belajar bisa baca Al Qur’an nya Mbak. Kedua, cara pengajarannya itu yang enak, dan yang ketiga, saya ingin hidup tanpa riba. Saya ingin hidup damai tanpa riba. Saya tuh merasa rugi, eman kalau nggak berangkat. Pas hari Sabtu yang lalu saya nggak berangkat itu saya mikir, aduh apa nggak apa-apa ya kalau saya berangkat terlambat..gitu. Pulang dari pengajian itu rasanya kayak hp habis di carge itu lho Mbak.” Lanjut Bu Rika.

Bu Rika juga merasa bersyukur karena dengan adanya pendampingan usaha Kajianmu, pesanannya semakin banyak. Ia mengungkapkan bahwa omset bulan Oktober 2018 ini adalah tertinggi dari sebelum-sebelumnya yang mencapai Rp. 800.000. Selain itu, pinjaman yang di dapatkan dari Kajianmu digunakan untuk menutup pinjaman Dasa Wisma yang menurutnya mengandung unsur riba. Wanita yang dahulu pernah menjalankan usaha Kerupuk Ikan dan Stik ini pun berharap agar Kajianmu bisa terus ada sehingga ia sampai bisa membaca Al Qur’an dengan lancar. Amiin

InsyaAllah ya Bu…semoga berkah rahmat Ilahi senantiasa mengiringi tiap-tiap upaya kita semua !.

Bagaimana Setan Menyerang Kita ?

Oleh : Alda Kartika Yuda, Lc., M. H

Manusia hidup mempunyai satu tujuan, yaitu ridha Allah SWT. Dalam mendapatkan ridhoNya, setiap manusia mempunyai musuh yang harus mereka lawan yaitu setan la’natullah ‘alaihim. Setan yang sudah ada sejak zaman nabi Adam AS ini terus-terusan tak bosan (dan tak akan pernah bosan) menggoda manusia agar bisa menjadi teman abadi mereka di neraka kelak. Mereka sudah belajar tips dan trik jitu menjerumuskan kita sejak zaman Nabi Adam AS. Ibarat gelar akademik, kaum tersesat ini sudah mendapatkan beribu-beribu gelar professor dalam bidang ke-neraka-an.

Bagi orang yang sedang berperang agar bisa memenangkan pertempuran hal pertama yang harus dilakukan adalah fokus (sadar dan tetap waspada disetiap saat). Berikutnya adalah mempunyai senjata  dan strategi untuk menghadapi mereka. Rasulullah SAW sudah meninggalkan dua hal berupa Al Qur’an dan Hadist yang didalamnya terdapat senjata dan strategi perang yang jitu dalam melawan setan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Kemudian, yang perlu kita jadikan bekal berperang adalah pengetahuan kita tentang musuh dan strategi mereka.

Dalam kitab Madârij Assâlikîn karya Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya setan memliki 7 jalan/ level untuk mengajak manusia agar abadi bersamanya di neraka.

1) Jalan kekafiran. Inti dari jalan ini menjadikan kita kafir terhadap Allah. Jika sudah kafir, maka semua amal akan tertolak. Ini merupakan simbol dosa tertinggi, karena tidak ada dosa lagi setelah kafir.

2) Jalan bid’ah. Jika setan gagal merayu kita lewat jalan kekafiran maka mereka akan masuk lewat jalan ke-bid’ah-an. Bid’ah merupakan sesuatu hal yang baru dalam ibadah wajib yang tidak diajarkan oleh Rasululah SAW. Termasuk didalamnya adalah percaya pada benda-benda yang bersifat mistik yang bisa berujung pada khurafat.

3) Jalan dosa besar. Berikutnya mereka akan menggoda kita untuk melakukan dosa besar. Misalnya, zina, minum khamr, menyuap dll. Yang mengkhawatirkan dari perilaku dosa besar ini adalah bahwa jarak antara dia dan kekufuran hanyalah satu jengkal saja. Maksudnya, orang yang sudah terbiasa dengan dosa besar, ketika mereka tertimpa musibah, mereka rentan untuk terjerumus pada kekafiran, sebagaimana ada kemungkinan mereka akan bertobat karena musibah tersebut.

4) Jalan dosa-dosa kecil. Misalnya, menyentuh wanita, lepas jilbab, menggunjing, dll. Setan akan berusaha meyakinkan manusia dengan dalih bahwa dosa kecil akan gugur dengan melakukan shalat dengan dalil hadist nabi bahwasanya diantara dua shalat itu ada pengguuran dosa bagi yang melakukan shalat. Sepintas, apa yang dikatakan setan ini jelas benar. Akan tetapi maksud dari setan sendiri itu tak lebih dari sebuah kebatilan. Ditambah lagi, dosa besar manusia cenderung mengingat bahkan mungkin hingga hari kiamat. Akan tetapi dosa-dosa kecil, karena kita sering meremehkan, bisa jadi di akhirat kelak dosa kita seudah menumpuk tak terkira.

5) Menggoda kita untuk melakukan banyak hal yang mubah (dibolehkan), hingga membuat kita lalai dalam perkara sunah atau bahkan wajib. Misalanya, tidur yang banyak hingga kita susah shalat tahajud, atau makan yang banyak, hingga kita menjadi malas.

6) Jalan ketaatan. Yaitu dengan cara membuat kita sibuk dengan ketaatan yang keutamaan sedikit, supaya kita lali dengan ketaatan yang pahalanya lebih besar. Misalnya, setan akan membuat kita sibuk shalat di rumah hingga kita melupakan shalat berjamaah di masjid. Atau menyibukkan kitadalam shalat tahajud yang kemudian membuat kita ketiduran untuk melakukan shalat subuh.

7) Jika jalan ke enam-pun mereka gagal, setan sudah tidak bisa menggoda manusia lagi. Yang tersisa adalah gangguan dari prajurit-prajurit mereka yang sudah tersebar dalam bentuk manusia dan jin. Oleh karena itu dikatakan bahwa orang yang mendapatkan cobaan terberat adalah para nabi, kemudian orang soleh, kemudian yang dibawahnya. Semakn mereka soleh, semakin mereka akan mendapatkan cobaan/gangguan yang berat dari golongan jin dan manusia.

Al-Ghazali menambahkan, tidak semua dosa berasal dari bisikan setan. Bisa jadi itu berasal dari diri kita sendiri. Buktinya adalah, setiap Bulan Ramadhan, masih saja ada orang yag berbuat maksiat padahal setan sedang dibelenggu. Untuk membedakannya, keinginan melakukan maksiat yang datangnya dari setan, sedikit banyak bisa hilang dengan memperbanyak membaca ta’awudz. Yang kedua, perbuatan buruk yang sudah menjadi kebiasaan kita merupakan dosa yang berasal dari diri kita sendiri, bukan bisikan setan. Contohnya ketika manusia merokok. Awal-awal manusia memiliki keinginan merokok, hal itu datangnya dari setan, namun setelah merokok selama satu tahun, maka perbuatan jelek itu datangnya bukan dari setan lagi, melainkan diri kita sendiri.

Setelah mengetahui hal ini, tugas kita sekarang adalah mengidentifikasi dijalan/level mana setan menggoda kita. Berikutnya, tergantung usaha untuk belajar dan melatih diri dalam menjaga hawa nafsu (mujahadah nafs) agar kita bisa naik ke level yang lebih tinggi. Semoga kita senantiasa selalu dalam lindungan Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.

Perlahan Berhenti dari Riba

Oleh : Rino Dwi Cahyono
Relawan Kajianmu

Yogyakarta, 27 Oktober 2018

Ibu Widayah Sarmudyah Hastaningrum atau akrab disapa Bu Ningrum adalah salah satu jamaah Kajianmu di majelis Griya Kencana Permai (GKP), Sedayu. Sehari-hari Bu Ningrum berjualan makanan dan minuman di kantin SMP N 7 Yogyakarta. Bu Ningrum berjualan bersama dengan suaminya. Beliau telah mengikuti Kajianmu sejak Januari 2018 hingga sekarang tetap istiqomah datang Kajianmu setiap sabtu sore.

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan Bu Ningrum. Usut punya usut, beliau pernah meminjam uang di salah satu bank konvensional untuk modal usahanya.

Pinjaman pertama di tahun 2011 sejumlah Rp 10.000.000,  diangsur selama 36 bulan atau setara dengan 3 tahun.  Setelah pinjaman pertama selesai, Bu Ningrum meminjam lagi di bank yang sama senilai Rp 15.000.000 dan diangsur dalam durasi waktu yang sama yakni 36 bulan dan baru akan selesai Mei 2019 mendatang.

Seiring dengan mengikuti pengajian seminggu sekali di Kajianmu, Bu Ningrum semakin paham bahwa pinjaman di bank konvensional termasuk riba. Di dalam nash agama telah dijelaskan bahwa yang menerima riba, yang memberi riba, yang mencatat riba, dan termasuk saksi pun terkena dosa riba. Setelah mengetahui tentang riba, beliau berniat secara sungguh-sungguh untuk meninggalkannya. Berupaya untuk melunasi sedikit demi sedikit pinjaman yang mengandung riba, termasuk pinjaman beliau di PKK dan Dasawisma yang sedikit banyak terdapat unsur ribanya.Semakin kuat mempelajari Islam, Bu Ningrum mengaku semakin banyak pula petunjuk Allah yang ia dapatkan.

Saya teringat, Bu Ningrum pernah bercerita pada saya tentang kisah yang paling mengesankan bagi beliau. Suatu hari, wanita kelahiran Yogyakarta, 28 Agustus 1965 ini meminjam uang kepada salah seorang teman. Pinjaman tersebut sudah berlangsung sangat lama. Ia ingat jika masih memiliki hutang temannya. Kemudian, beberapa waktu lalu wanita 53 tahun ini menghubungi teman tersebut. Ia berniat ingin mengatakan kepada temannya bahwa saat ini belum bisa melunasi uang yang pernah ia pinjam. Namun, tanpa di duga-duga temannya malah menjawab “Kamu sudah tidak punya hutang sama saya…”. Bu Ningrum merasa bersyukur, bahwa pertolongan Allah SWT sangatlah dekat. Di saat Ia baru berupaya untuk mengkonfirmasi hutangnya pada teman, saat itu pula tangan-tangan Allah SWT menunjukkan kuasanya. Saya bahkan merinding mendengar kisah tersebut !.

Cerita pun berlanjut, flashback bagaimana Bu Ningrum menemukan Kajianmu. Beliau mengatakan bahwa informasi tentang Kajianmu didapatkannya dari membaca poster Kajianmu di Bogamart, Toko Frozen Food yang berlokasi di Pertigaan Kemusuk, Argomulyo, Sedayu.

“Sore itu saya mau beli bahan-bahan buat jualan di kantin, terus ada poster tulisannya, Kajianmu: Wujudkan Yogyakarta Bebas Rentenir. Lalu saya dekati poster itu dan saya baca dengan seksama.” Tutur Bu Ningrum.

“Mungkin ini solusi yang datang dari Allah, Kok ada ya pinjaman tanpa bunga, tanpa jaminan, yang penting datang pengajian seperti ini ?.” Gumamnya dalam hati.

“Kemudian saya langsung simpan nomor kontak yang tertera dan saya hubungi setelah sampai di rumah.” Lanjut Bu Ningrum dengan muka berseri-seri.

20 Januari 2018 adalah hari pertama kalinya wanita paruh baya berparas cantik ini mengikuti Kajianmu. Beliau mengaji Al Qur’an dan menyimak apa saja syarat untuk dapat mengajukan pinjaman di Kajianmu. Satu hal yang paling diingat yakni beliau harus konsisten datang mengaji minimal 5 kali pertemuan kemudian baru bisa mengajukan pinjaman level pertama yaitu maksimal plafon Rp. 1.000.000. Pengajian setiap Sabtu sore diikuti beliau dengan istiqomah dan penuh semangat untuk belajar membaca Al Qur’an dan agar bisa mengakses pinjaman tanpa jaminan tanpa bunga dari Kajianmu. Singkat cerita,

pinjaman pertama Bu Ningrum sebesar Rp 600.000 digunakan untuk menutup pinjamannya di PKK.

“Jujur saja ya Mas, saya dan Ibu-Ibu yang lain disini nyaman ikut Kajianmu. Kita ndak merasa melulu diceramahin tentang riba. Tapi kita juga riil langsung dikasih solusi. Enak ikut Kajianmu, belajar ngaji termasuk tajwid, mendengarkan kultum, bisa pinjam lagi, gak pake bunga, gak pake jaminan…” Paparnya.

Setelah rutin berangkat Kajianmu, wanita yang tinggal di Perumahan Pesona Alam, Argorejo, Sedayu, Bantul ini mengaku menjadi rajin membaca Al Qur’an dibandingkan sebelumnya.

“Kalau nggak baca Al Qur’an sehari itu kayaknya ada yang kurang gitu Mas.” Ungkapnya sambil tersenyum.

“Saya itu selalu menanti hari Sabtu lho… buat ngaji bareng, silaturrahmi di Kajianmu, dan kebetulan hari sabtu itu waktu yang pas banget bagi saya. Jadi saya bisa sering ikut Kajianmu..alhamdulillah.”Ucap dengan penuh rasa syukur.

Sampai sejauh ini, Bu Ningrum sudah berangkat mengaji sebanyak kurang lebih 36 kali pertemuan. Sekarang beliau sedang mengajukan pinjaman level lanjut sebesar Rp. 3.000.000 untuk menambah modal usaha di kantin yang dikelolanya.

Hari sudah mulai gelap dan jam dinding menunjukkan 10 menit untuk tiba waktu Magrib. Semoga pengajian dan pinjaman Kajianmu bermanfaat dan bisa terus membantu Ibu-Ibu pemilik usaha kecil untuk mengembangkan usahanya dan menghindarkan mereka dari riba.

Terimakasih Bu Ningrum telah berbagi cerita…

Ekonomi Islam Sebagai Solusi Alternatif

Oleh : Alda Kartika Yudha, Lc., M. H

Riba dan Kapitalisme

Tidak hanya bunga (riba) menjadi penyumbang inflasi terbesar (57%), dalam dunia eknomi, sejatunya riba adalah AIDS-nya sistem ekonomi. Ekonom sudah sangat sadar bahwa sebenarnya sistem riba (bunga) dan kapitalisme merupakan sistem brutal (rimba) yang kurang (red: tidak) manusiawi. Jamak diketahui bahwa sistem ini mengandalkan hutang yang diberikan kepada pihak lain. Diakui atau tidak sistem hutang menempatkan manusia (debitur dan kreditur) dalam posisi yang tidak setara. Bahkan tak jarang dalam kondisi tertentu sistem ini membuat hidup debitur seolah menjadi “hak milik” kreditur.

Saking berbahayanya riba, jangankan dalam islam, seluruh agama samawi juga melarang sistem riba. Yahudi dengan Tauratnya (Exodus (22:24)), Nasrani dengan Bible-nya (Ezekiel (18:13), Paslms (15:5)), dan Islam (3:130), (30: 39). Tidak hanya agama, Aristoteles juga mengatakan bahwa mengambil riba adalah perbuatan yang salah. Para filusuf Yunani, menyamakan riba dengan kejahatan. Riba= Evil (Jahat).

Dengan kacamata yang lebih bersar, sebenarnya penyakit riba ini adalah cabang  permasalahan dari sistem ekonomi kapitalis yang kita anut. Sistem ekonomi kapitalis yang sangat mengandalkan modal ini mendapatkan pendapat terbesar-nya dari riba  hutang. Contoh konkritya adalah, Negara-negara berkembang yang menjadi pasien Bank Dunia (IMF), yang kemudian Negara ini hanya sibuk dengan membayar bunga dan kesulitan untuk membayar pokok hutangnya. Lalu kemudian jika Negara ini tidak mampu membayar hutangnya, kekayaan alam-nya kemudian digadaikan. Keturunan-nya kemudian hanya mendapatkan warisan berupa hutang plus bunga.

Dalam sejarahnya, ekonomi kapitalis sebenarnya sudah gagal berkali-kali dalam memenuhi kebutuhan hidup seluruh manusia. Sebagai contoh, puncak krisis besar-besaran pada tahun 1930 yang disebut sebagai “The Great Depression”. Setelah itu pada tahun  1980, dan yang belum lama dan masih terngiang dikepala kita, yaitu kriris moneter pada 1998. Semua itu adalah bukti ketidak berdayaan ekonomi kapitalis. Lalu kenapa dunia masih menggunakan sistem ekonomi ini? Ada dua jawabannya singkatnya, 1) Belum ada sistem ekonomi alternatif, 2) ketika muncul sistem alternatif itu, psikologi masyarakat masih takut untuk berpindah dan terlanjur nyaman dengan kapitalisme.

Ekonomi Islam Sebagai Sistem Altenatif

Dunia pada saat ini, sangat sekali membutuhkan sistem ekonomi alternatif  untuk menggantikan ekonomi kapitalis. Dunia membutuhkan sistem ekonomi tanpa bunga dan yang lebih berperikemanusiaan. Melihat hal ini, tahun 1961 muncul sebuah gagasan para ekonom islam untuk membentuk lembaga keuangan islam (yang salah satu prinsipnya adalah ekonomi tanpa riba) yang ternyata disambut baik oleh seluruh dunia. Hingga saat ini aset yang dikelola oleh perbankan islam mencapai US$ 2.1 trliyun dan belum termasuk retail dan sektor usaha besar, dan sudah tersebar di 75 negara dipenjuru dunia dan tak hanya di negara muslim. Hal ini tentu adalah perkembangan pesat jika dilihat dari umur ekonomi islam itu sendiri, yang mana banyak yang mengatakan, sebenarnya ekonomi islam ini masih dalam tahap “janin”.

Di Indonesia, perkembangan ekonomi islam dimulai dengan didirikannya Bank Muamalat Indonesia (BMI). BMI adalah bank syariah pertama yang dibentuk tahun 1991 akan tetapi dilegalisasi pada tahun 1992 dengan pengesahaan UU  No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Pada masa awal berdirinya BMI bisa dikatakan tidak mempunyai greget dalam dunia perbankan Indonesia, sampai akhirnya BMI menunjukan taringnya pada tahun 1997 ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia yang salah satu penyebabnya adalah bank konvensional tidak mampu membayar bunga nasabah,. Ketika itu BMI menjadi bank yang mampu mengontrol dan menangai krisis ini ketika bank lain terpaksa gulung tikar. Krisis ini bahkan mengakibatkan,  Presiden Soeharto turun,14 bank dilikuidasi dan digabung menjadi satu, 38 bank ditutup 9 bank direkapitalisasi dan 7 bank diambil alih oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan satu bank, yaitu BMI berdiri melenggang mampu mengatasi krisis yang ada meskipun dengan usaha yang juga tidak mudah. Hingga tahun 2015, sudah terdapat 12 Bank Syariah (Bank Umum Syariah), 22 Bank Konvensional dengan layanan syariah (Unit Usaha Syariah), 163 Bank Pembiayaan Rayat Syariah (BPRS), dengan asset total 260,366 triliyun atau sekitar 5% dari asset perbankan nasional.

Kesimpulan dan Penutup

Bank syariah sudah menunjukan kredibilitasnya, sekarang giliran kita untuk memperjuangkannya. Dalam setiap perjuangan, ada tiga tipe orang. Pertama adalah pejuang, kedua adalah musuh, dan yang ketiga adalah yang memilih diam. Penulis yakin bahwa pembaca pasti bukanlah musuh dalam perjuangan sistem ekonomi syariah, oleh karena itu, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama memperjuangkan ekonomi syariah ini dengan kadar kemampuan masng-masing. Mari mulai dengan bertransaksi dengan menggunakan bank syariah dengan niatan menjauhi riba. Jikapun masih memperlukan bank konvensional, cukup dijadikan sebagai lalu-lintas keuangan saja, dan bukan untuk menyimpan uang. Dengan begitu semoga usaha dan hidup kita menjadi lebih berkah. Karena bagi seorang muslim, usaha bukan melulu soal untung dan rugi, tapi juga keridhoan Allah dengan keberkhan yang menyertainya. Wallahu a’lam bishshawab.