Riba: nge-RIBA-nget

Oleh : Alda Kartika Yudha

Dalam Islam, ancaman untuk para pelaku riba sangatlah berat. Dalam QS al-Baqarah 278-279, Allah dan Rasulullah mendeklarasikan perang terhadap para pelaku riba.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُون

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (QS. Al-Baqarah: 278-279).

Lebih mengerikan lagi, dosa riba tidak hanya ditanggung oleh yang memakan riba saja, akan tetapi juga semua yang mempunyai andil dalam akad yang berkaitan dengan riba tersebut, mulai dari juru tulisnya dan saksi-saksinya. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Muslim:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim).

Tidak hanya dalam agama Islam, seluruh agama samawi juga melarang sistem riba. Yahudi dengan Tauratnya (Exodus (22:24)), Nasrani dengan Bible-nya (Ezekiel (18:13), Paslms (15:5)), dan Islam (3:130), (30: 39). Tidak hanya agama, Aristoteles juga mengatakan bahwa mengambil riba adalah perbuatan yang salah. Para filusuf Yunani, menyamakan riba dengan kejahatan. Riba= Evil (Jahat).

Doc : google.com

Ancaman dan bahaya riba sudah jelas, akan tetapi pada kenyatanya banyak yang tidak memperdulikan hal ini. ancaman perang dari Allah dan Rasulnya seolah hanya nyanyian nina bobo belaka. Banyak yang beralasan, tanpa pinjaman maka tidak bisa mendirikan usaha, ada juga yang beralasan ingin menaikan taraf hidup, ada juga yang mungkin memilih berurusan dengan riba karena gengsinya. Semua alasan itu kemudian mengalahkan kenyataan bahwa Allah mengharamkanya dan melarangnya, dan bahkan memeranginya.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Konfirmasi  donasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu) atau melalui e-mail di kajianmuid@gmail.com.

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Tanya Jawab Kajianmu #3

Oleh : Alda Kartika Yudha

Bagaimana Setan Menyerang Kita ?

Manusia hidup mempunyai satu tujuan, yaitu ridha Allah SWT. Dalam mendapatkan ridhoNya, setiap manusia mempunyai musuh yang harus mereka lawan yaitu setan la’natullah ‘alaihim. Setan yang sudah ada sejak zaman nabi Adam AS ini terus-terusan tak bosan (dan tak akan pernah bosan) menggoda manusia agar bisa menjadi teman abadi mereka di neraka kelak. Mereka sudah belajar tips dan trik jitu menjerumuskan kita sejak zaman Nabi Adam AS. Ibarat gelar akademik, kaum tersesat ini sudah mendapatkan beribu-beribu gelar professor dalam bidang ke-neraka-an.

Bagi orang yang sedang berperang agar bisa memenangkan pertempuran hal pertama yang harus dilakukan adalah fokus (sadar dan tetap waspada disetiap saat). Berikutnya adalah mempunyai senjata  dan strategi untuk menghadapi mereka. Rasulullah SAW sudah meninggalkan dua hal berupa Al Qur’an dan Hadist yang didalamnya terdapat senjata dan strategi perang yang jitu dalam melawan setan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Kemudian, yang perlu kita jadikan bekal berperang adalah pengetahuan kita tentang musuh dan strategi mereka.

Dalam kitab Madârij Assâlikîn karya Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya setan memliki 7 jalan/ level untuk mengajak manusia agar abadi bersamanya di neraka.

doc: google.com

1) Jalan kekafiran. Inti dari jalan ini menjadikan kita kafir terhadap Allah. Jika sudah kafir, maka semua amal akan tertolak. Ini merupakan simbol dosa tertinggi, karena tidak ada dosa lagi setelah kafir.

2) Jalan bid’ah. Jika setan gagal merayu kita lewat jalan kekafiran maka mereka akan masuk lewat jalan ke-bid’ah-an. Bid’ah merupakan sesuatu hal yang baru dalam ibadah wajib yang tidak diajarkan oleh Rasululah SAW. Termasuk didalamnya adalah percaya pada benda-benda yang bersifat mistik yang bisa berujung pada khurafat.

3) Jalan dosa besar. Berikutnya mereka akan menggoda kita untuk melakukan dosa besar. Misalnya, zina, minum khamr, menyuap dll. Yang mengkhawatirkan dari perilaku dosa besar ini adalah bahwa jarak antara dia dan kekufuran hanyalah satu jengkal saja. Maksudnya, orang yang sudah terbiasa dengan dosa besar, ketika mereka tertimpa musibah, mereka rentan untuk terjerumus pada kekafiran, sebagaimana ada kemungkinan mereka akan bertobat karena musibah tersebut.

4) Jalan dosa-dosa kecil. Misalnya, menyentuh wanita, lepas jilbab, menggunjing, dll. Setan akan berusaha meyakinkan manusia dengan dalih bahwa dosa kecil akan gugur dengan melakukan shalat dengan dalil hadist nabi bahwasanya diantara dua shalat itu ada pengguuran dosa bagi yang melakukan shalat. Sepintas, apa yang dikatakan setan ini jelas benar. Akan tetapi maksud dari setan sendiri itu tak lebih dari sebuah kebatilan. Ditambah lagi, dosa besar manusia cenderung mengingat bahkan mungkin hingga hari kiamat. Akan tetapi dosa-dosa kecil, karena kita sering meremehkan, bisa jadi di akhirat kelak dosa kita seudah menumpuk tak terkira.

5) Menggoda kita untuk melakukan banyak hal yang mubah (dibolehkan), hingga membuat kita lalai dalam perkara sunah atau bahkan wajib. Misalanya, tidur yang banyak hingga kita susah shalat tahajud, atau makan yang banyak, hingga kita menjadi malas.

6) Jalan ketaatan. Yaitu dengan cara membuat kita sibuk dengan ketaatan yang keutamaan sedikit, supaya kita lali dengan ketaatan yang pahalanya lebih besar. Misalnya, setan akan membuat kita sibuk shalat di rumah hingga kita melupakan shalat berjamaah di masjid. Atau menyibukkan kitadalam shalat tahajud yang kemudian membuat kita ketiduran untuk melakukan shalat subuh.

7) Jika jalan ke enam-pun mereka gagal, setan sudah tidak bisa menggoda manusia lagi. Yang tersisa adalah gangguan dari prajurit-prajurit mereka yang sudah tersebar dalam bentuk manusia dan jin. Oleh karena itu dikatakan bahwa orang yang mendapatkan cobaan terberat adalah para nabi, kemudian orang soleh, kemudian yang dibawahnya. Semakn mereka soleh, semakin mereka akan mendapatkan cobaan/gangguan yang berat dari golongan jin dan manusia.

Al-Ghazali menambahkan, tidak semua dosa berasal dari bisikan setan. Bisa jadi itu berasal dari diri kita sendiri. Buktinya adalah, setiap Bulan Ramadhan, masih saja ada orang yag berbuat maksiat padahal setan sedang dibelenggu. Untuk membedakannya, keinginan melakukan maksiat yang datangnya dari setan, sedikit banyak bisa hilang dengan memperbanyak membaca ta’awudz. Yang kedua, perbuatan buruk yang sudah menjadi kebiasaan kita merupakan dosa yang berasal dari diri kita sendiri, bukan bisikan setan. Contohnya ketika manusia merokok. Awal-awal manusia memiliki keinginan merokok, hal itu datangnya dari setan, namun setelah merokok selama satu tahun, maka perbuatan jelek itu datangnya bukan dari setan lagi, melainkan diri kita sendiri.

Setelah mengetahui hal ini, tugas kita sekarang adalah mengidentifikasi dijalan/level mana setan menggoda kita. Berikutnya, tergantung usaha untuk belajar dan melatih diri dalam menjaga hawa nafsu (mujahadah nafs) agar kita bisa naik ke level yang lebih tinggi. Semoga kita senantiasa selalu dalam lindungan Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Konfirmasi  donasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu) atau melalui e-mail di kajianmuid@gmail.com.

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Tanya Jawab Kajianmu #2

Oleh : Alda Kartika Yudha

Muslimah Dilarang ke Masjid?

Muslimah tidak boleh kemasjid? Benarkah? Tidak sedikit orang yang kemudian menyerang  Islam hanya karena adanya pendapat yang melarang wanita untuk shalat berjamaah di masjid. Mereka menyerang Islam dan mengatakan bahwa Islam agama pengekang para wanita. Anggapan mereka ini ditambah dengan bumbu-bumbu permasalahan poligami, bolehnya suami memukul istri, hak waris, dll. Padahal jika mereka ini mau mencoba obyektif, pendapat ulama yang mengatakan tidak boleh ini hanyalah pendapat sebagian ulama. Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Permasalahan ini adalah permasalahan khilafiyah. Bahkan dari mereka yang mengatakan tidak boleh ini, ada beberapa yang mengatakan bahwa hal ini hanyalah permasalahan keutamaan bagi wanita untuk shalat di rumah. Lalu benarkah ada ulama yang menganjurkan dan membolehkan wanita untuk shalat berjamaah di masjid?  Apa dalil yang mereka gunakan?

Pendapat yang membolehkan
Syekh Muhammad Ghozali (wafat 1416 H/1996 M)yang merupakan ulama dan pemikir dari Mesir dalam buku Qadhaya Mar’ah (Seputar permasalahan wanita) memberikan penjelasan tentang kebolehan wanita untuk berjamaah di masjid. Beliau mengatakan bahwa hubungan muslim baik laki-laki ataupun perempuan dengan masjid itu bisa menjadi pertanda seberapa dalam perasaannya. Masjid adalah tempat yang penuh dengan lantunan zikir kepada Allah. Didalamnya, orang-orang berkumpul mengharapkan kebaikan. Bahkan dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa salah satu golongan yang akan mendapat naungan di hari kiamat dimana tidak ada naungan selain dariNya, adalah seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid. Muslim dan muslimah mempunyai kesamaan dalam hal keterkaitannya dengan masjid, yang menjadi pembeda adalah pada dasarnya pekerjaan wanita yang paling mulia itu ada dirumahnya.

Kewajiban wanita dalam menjaga rumah dan harta suaminya kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah. Menjaga rumah dan harta suami hukumnya wajib bagi seorang istri, sedangkan shalat jama’ah hukumnya adalah sunnah. Maka tidak boleh seseorang mendahulukan yang sunnah dengan meninggalkan yang wajib. Jika seorang wanita berhalangan hadir ke masjid dikarenakan uzur yang berkaitan dengan tanggungjawabanya sebagai ibu dan istri, maka baginya pahala jamaah, meskipun dia tidak hadir shalat jamaah! Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang istri ataupun ibu membiarkan urusan rumah tangga berantakan, menunda-nunda kebutuhan anak dan suami demi sunnah berjamaah. Namun, jika sang istri sudah menunaikan kewajibannya, maka menjaga shalat jama’ah dan berlomba untuk meraih pahala dari Allah Swt. dengan shalat berjamaah merupakan hak seorang istri. Sang suami tidak boleh melarangnya.

Dalil Mereka
Ada beberapa golongan yang kemudian menyalahkan dan melarang perempuan yang shalat berjamaah dan mengatakan bahwa jamaah itu hanyalah untuk laki-laki. Golongan ini mengatakan bahwa rumah itu lebih baik bagi perempuan daripada masjid, padahal sangat jelas dizaman nabi dan Khulafaur Rasyidin para wanita juga ke masjid.  

Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah hadis dari Abdulllah bin Umar bahwa Rasulullah pernah berkata: “Janganlah kamu melarang wanita-wanitamu ke masjid ketika mereka meminta izinmu.”

Atau hadis yang diriwatkan juga oleh Muslim juga yang berbunyi: “Jangan kamu melarang perempuan-perempuanmu ketika ingin keluar dimalam hari ke masjid.”

Ibnu Hazm juga memberikan sanggahan atas pendapat “tidak boleh” itu dengan berkata “Jika memang begitu, kenapa Rasulullah Saw. membiarkan para sahabiyah yang berdatangan ke masjid jika rumah-rumah mereka lebih afdhal?  Dan juga, kenapa Rasulullah Saw.  memerintahkan para perempuan bahkan yang haid untuk datang ke tanah lapang tempat shalat ied. Anjuran bagi perempuan untuk datang ke shalat ied ini bahkan sampai memerintahkan bagi wanita yang tidak mempunyai jilbab untuk meminjam saudaranya atau tetangganya yang punya jilbab. Dengan hal ini, bagaiamana bisa (shalat) wanita dirumah lebih afdhal?”

Perkataan Ibnu Hazm kemudian dijawab oleh golongan pertama. “Hal itu (red:bolehnya wanita untuk keluar ke masjid pada masa itu) adalah untuk syiar kepada musuh bahwa jumlah umat muslim banyak. Karena jika perempuan tidak ikut ke tanah lapang, akan ketahuan bahwa jumlah umat muslim sedikit.”

Ibnu Hazm kemudian menjawab bantahan mereka dengan perkataan, “Hal ini jelas mengada-ada dan bentuk kedustaan atas nama Rasul. Hal ini jelas perkataan yang tanpa didasari ilmu, karena Rasulullah Saw. sendiri memerintahkan hal ini agar supaya kaum wanita menyaksikan ied  mendapat kebaikan serta menjadi jalan da’wah bagi kaum muslim. Selain pernyataan ini mengada ada, hujjah diatas juga sangat lemah, karena Rasul sendiri tidak mempunyai bala tentara untuk mengintimidasi musuh. Rasul juga tidak mempunyai musuh kecuali orang-orang munafiq dan orang Yahudi Madinah yang pasti tahu bahwa yang berkumpul adalah para wanita.”

Dalam hal ini, Syekh Ghozali juga mengatakan bahwa pada dasarnya larangan jamaah di masjid bagi wanita merupakan hal yang buruk, musibah bagi kehidupan sosial dalam islam, mewariskan kebodohan, menjadi sebab buruknya pendidikan dan juga merupakan taqlid buta. Tidak ada obatnya kecuali kembali kepada ajaran Rasulullah Saw yang mana tertuang pada hadis dan sejarah, serta perbuatan para sahabat.

Banyak kita lihat di zaman ini golongan yang melarang wanita ke masjid tanpa mengatakan bahwa hal ini pada dasarnya adalah masalah khilafiyah. Disisi lain, larangan ini juga menimbulkan efek negatife yang patut kita waspadai yang sangat memprihatinkan bagi umat islam. Efek negatifnya adalah kurangnya pendidikan agama islam bagi para wanita. Jama’ diketahui bahwa masjid adalah tempat untuk pendidikan agama islam. Tidak semua suami sanggup mendidik istri dan anaknya tentang agama islam. Oleh karena itu perginya wanita ke masjid bisa menjadi solusi. Apalagi seorang wanita adalah madrasah pertama bagi anaknya, bagaimana bisa kita mengharapkan generasi berikutnya bisa paham agama jika ibu serta ayah mereka saja tidak paham soal agama, ditambah ibunya tidak boleh pergi ke masjid!?

Catatan yang harus diperhatikan
Meskipun dibolehkan, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh umat muslim mengenai hal ini. Beberapa diantaranya adalah kewajiban masyarakat untuk memastikan bahwa jalan menuju ke masjid merupakan jalan yang aman. Pelu diperingatkan juga kepada kaum wanita bahwa perginya mereka kemasjid adalah untuk perkara ibadah dan bukan untuk pamer serta ajang adu cantik di depan para laki-laki.

Diriwayakan dari Zainab istri Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasul pernah bersabda: “Jika kalian ingin ke masjid maka janganlah kalian menggunakan minyak wangi.”

Dalam permasalahan minyak wangi ini, kita dapat membagi minyak wangi ada dua jenis. Jenis pertama adalah minyak wangi yanh igunakan untuk membunuh kuman dan menghilangkan bau tak sedap. Minyak wangi yang seperti ini tentu dibolehkan. Sedangkan jenis kedua adalah minyak wangi dengan bau yang berlebihan yang seolah mengundang orang untuk melihat siapa pemakainya. Inilah jenis yang dilarang. Tidak lupa juga agar tidak menjadi fitnah bagi laki-laki, aturan sebisa mungkin untuk memisahkan pintu masuk antara perempuan dan laki-laki sehingga tidak berdesak-desakan didalamnya. Dalam permasalahan shalat jama’ah di masjid bagi wanita ini, Islam membolehkan, akan tetapi kita juga harus memperhatikan aturan-aturan yang ada demi kemaslahatan bersama.

Wallahu a’lam bissawab

Muhammad al-Ghazali, Qadhâyâ al-Mar`ah, Dar Asy-Syuruq, cet 10, 2013, hal. 207

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com