Bu Suwaryuni, Tetap Merosok Meski Suami Telah Tiada

Oleh: FM. Ulya

Kita sama-sama tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat mendahului datangnya ajal dan tidak pula dapat mengundurkannya. Semua telah diatur Allah SWT dengan sangat tepat waktu. Bulan Agustus 2018 lalu, Ibu 3 anak ini ditinggal oleh suami untuk selama-lamanya. Sejak suami sering sakit-sakitan dan menderita penyakit batu ginjal dan komplikasi, wanita yang akrab disapa Bu Yuni ini masih tetap menjalankan usaha kecilnya yaitu jual beli barang bekas/ rosok. Sembari merawat suami yang makin sering keluar-masuk rumah sakit.

Gbr. 1 Bu Suwaryuni berada di depan rumah yang sekaligus sebagai tempat usahanya jual beli barang bekas.

Bu Yuni merupakan salah seorang jamaah di majelis Kajianmu Griya Kencana Permai (GKP) yang bisa dikatakan istiqomah. Saat jamaah lain yang dulu mengajaknya sudah jarang aktif, Bu Yuni tetap menunjukkan komitmennya untuk hadir. Sekitar pertengahan bulan Juli tim Kajianmu sempat bersilaturrahmi ke rumah beliau di dusun Karanglo, Argorejo, Sedayu. Saat itu tim Kajianmu juga bertemu langsung dengan suami Bu Yuni yang secara fisik terlihat sangat lemah. Bahkan untuk berjalan saja harus dilakukan dengan sangat pelan

“Sebenarnya saya itu pingin banget berangkat Kajianmu. Tapi kalau saya tinggal, suami tidak ada yang mengurus. Jadi saya mohon maaf sekali belum bisa berangkat lagi. Nanti insyaAllah kalau suami sudah mendingan dan bisa ditinggal saya pasti akan berangkat ngaji lagi.” Jelas Bu Yuni ketika dikunjungi di rumahnya.

Sembari berbincang, pasangan suami istri itu juga memperlihatkan produk-produk daur ulang dari rosok yang dibuat sendiri olehnya dan suami. Ada cukup banyak produk, mulai dari bunga hias, hiasan dinding, figura, hiasan meja, dan seterusnya. Namun, tidak ada yang bisa menawar ajal. Sekira satu bulan setelah kunjungan tersebut, tim Kajianmu mendapat kabar bahwasannya suami Bu Yuni telah meninggal dunia.

Gbr. 2 Beberapa produk daur ulang yang dibuat sendiri oleh Bu Suwaryuni dan Alm. Suaminya.

Kembali Berangkat Ngaji

Kepergian suami membuat Bu Yuni terpukul dan merasakan kehilangan yang teramat dalam. Setelah lebaran 2018 Bu Yuni mulai berangkat ngaji kembali di Kajianmu majelis GKP. Tiap kali ada jamaah yang mengucapkan bela sungkawa, raut muka Ibu yang juga berprofesi sebagai pengasuh anak ini seketika berubah. Ada air yang tertahan di sudut mata bulatnya. Pun dari kalimat yang terucap mengisyaratkan permohonan pemakluman dari jamaah lain yang belum mengetahui kondisi Bu Yuni saat itu.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, Bu Yuni mulai bisa bangkit dan hingga kini sudah rutin kembali datang mengaji setipa sabtu sore. Bu Yuni sadar bahwa dengan mengaji hatinya semakin tenang. Di tambah berkumpul bersama dengan jamaah lainnya, ia merasa terhibur karena bisa saling berbagi cerita satu sama lain. Tak hanya itu, Bu Yuni pun mengakui jika ia sering mengaji di rumah dibanding dengan sebelum-sebelumnya.

Gbr. 3 Bu Suwaryuni (paling kanan) sedang bersama Ibu-Ibu Jmaah Kajianmu.

Alhamdulillah… sekarang habis maghrib di rumah saya sering baca-baca, meskipun bacanya kadang masih ngikutin huruf latin di bawahnya terus saya pas-pasin. Saya belajar sendiri meskipun juga masih ada yang keliru. Kalau saya hari sabtu sore nggak ikut yang disini, saya biasanya malamnya ikut yang di masjid sana, ngaji Iqro’ juga. Alhamdulillah saya juga sekarang lebih sering jamaah maghrib-Isya’ di masjid.” Tutur Bu Yuni dengan semangat.

“Saya berterimakasih Mbak bisa ikut Kajianmu. Senang rasanya berangkat Kajianmu apalagi disini ramai, ketemu dengan Ibu-Ibu bisa cerita-cerita dan mendengarkan ceramah dari relawan. Kalau nggak ada halangan saya pasti usahakan berangkat Mbak.” Lanjut Bu Yuni

Tanggungan Hutang dan Menghindari Riba

Semenjak mendapatkan informasi tentang pinjaman modal tanpa jaminan tanpa bunga yang penting datang pengajian dari tetangganya, Bu Yuni mengaku sangat tertarik dan langsung menyampaikan kepada alm. suaminya. Bu Yuni sadar bahwa selama ini ia banyak meminjam ke bank plecit maupun pinjaman-pinjaman lain yang berbunga untuk menambah modal usaha dan mencukupi kebutuhan keluarga. Alm. suami pun mendukung Bu Yuni untuk ikut bahkan bersedia untuk antar-jemput ke lokasi Kajianmu yang berjarak kurang lebih 1 km dari rumahnya.

“Saat saya menyampaikan tentang Kajianmu ke suami ternyata suami saya sadar, yawes Mak ikut aja wong nggak ada bunganya terus koe entuk ilmu, ke Kajianmu sesok tak anteri. Ya kulo semangat !. Terutama yang plecit-plecit itu Mak nek iso, insyaAllah iso ngresiki dosane awake dewe. (baca : Yasudah Bu ikut saja, lagi pula tidak ada bunga dan kamu juga mendapat ilmu, Ya saya semangat !. Terutama untuk melunasi pinjaman bank plecit/ rentenir jika bisa, insyaAllah bisa membersihkan dosa kita).” Tutur Bu Yuni menirukan ucapan alm. suaminya.

Upaya dan dukungan alm. suami ternyata berbuah manis. Perlahan pinjaman-pinjaman di bank-bank plecit mulai bisa dilunasi. Meskipun sepeninggal suami masih ada beberapa hutang dan pinjaman RT. Bu Yuni bertekad untuk akan membayar pinjaman tersebut selagi ia masih bisa mencari uang dan tidak akan meminjam lagi di bank plecit atau pun pinjaman berbunga lainnya. Karena ia merasa tidak tenang saat memiliki banyak hutang.

Alhamdulillah sudah selesai semua tinggal 100 rb apa ya tapi orangnya sudah nggak pernah ke rumah lagi. Tapi saya sudah nggak pinjam lagi, biar saya agak tenang. Saya udah nggak mau yang riba-riba begitu. Tinggal yang punya bapak itu sama kemarin kan ada Pak RT datang ke rumah setelah bapak nggak ada. Saya bilang, insyaAllah Pak RT saya kembalikan nanti jika ada uang, nggak usah diminta akan saya kembalikan.” Ungkap Ibu 49 tahun ini.

Selain itu, Bu Yuni sekarang merasa lebih tenang karena tanggungan hutang berbunganya sudah banyak yang dilunasi.

“Ya sekarang saya merasa lebih tenang karena udah nggak dikejar-kejar setoran lagi, misalkan mau beli apa gitu jadi lebih tenang. Hidup saya sekarang istilahnya nyari uang itu nggak ngongso banget (read: tidak terlalu dipaksa), aku harus bayar ini..bayar ini, kemrungsung (read: tidak tenang).” Lanjutnya.

Tetap Merosok Meski Sudah Tidak Ada Suami

Ketika hidup alm. suami pernah mengatakan kepada Bu Yuni jika ia akan tetap menjalankan usaha rosok sampai meninggal. Bu Yuni lantas diajari cara untuk membeli barang, menawar, dan menjualnya kembali.

“Walaupun dia sakit, dia tetap merosok terus itu lho Mbak. Dia bilang, Mak..aku sampai mati pun aku tetap merosok. Terus saya diajari cara belinya dan sebagainya. Itu yasudah saya lanjutkan sampai sekarang.” Ucap wanita kelahiran 12 Februari 1969 ini.

Meskipun kini sudah tidak ada suami yang membantunya mengangkut barang-barang rosok, namun Bu Yuni tetap menjalankan usaha tersebut untuk mendapatkan uang. Anak-anak pun mengizinkan Bu Yuni untuk tetap menjalankan usaha jual-beli rosok.

“Setelah bapak meninggal itu saya bilang ke anak-anak, kalau misalkan saya ngelanjutin rosok boleh nggak ?, kata anak-anak saya, ora opo-opo Mak yang penting halal (read: tidak apa-apa Bu yang penting halal). Tak minta bantuin anak-anakku yo ternyata mau, bantu bawa sama milih-milih.” Terang Wanita asli Bantul tersebut.

Jika barang-barang rosok yang harus di ambil cukup banyak, ia sering dibantu oleh anak atau tetangga samping rumah. Terkadang Bu Yuni tidak hanya membeli barang rosok, tetapi juga diminta bantuan untuk menjualkan barang second milik orang lain. Barang tersebut seperti barang elektronik atau barang-barang lain yang masih bisa terpakai. Anak Bu Yuni akan membantu mempromosikan melalui media sosialnya.

“Saya misalnya ditawarin orang, Bu nggonku nduwe (read: saya punya) gerobak ini masih bisa dipakai tolong dijualkan. Terus anak saya nanti yang bantu jualkan gitu. Berapanya nanti yang penting saya yang beli nanti Ibunya tak kasih berapa.” Paparnya

Kemudahan-kemudahan lain pun di dapatkan oleh Bu Yuni. Misalnya apabila ia tidak bisa mengambil sendiri barang rosoknya, ia akan menghubungi bos rosok untuk membantunya mengangkut barang. Demikian pula, saat tidak memiliki cukup uang untuk membayar rosok, ia dapat menghubungi bos rosok untuk membayarkannya terlebih dahulu. Kini, meskipun suami sudah tak disampingnya lagi, kesetiaan Bu Yuni tetap abadi.

Apa itu Riba?

Oleh : Alda Kartika Yudha

Oleh para ulama, riba secara bahasa berarti tambahan, sedangkan secara istilah diartikan sebagai “segala pinjaman yang mendatangkan manfaat”. Mudahnya, ketika A mengatakan “aku berikan kamu pinjaman 1 juta, dan nanti kembalikan 1 juta plus pijitin aku”, maka pijit disini bisa menjadi riba. Riba tidak harus berbentuk uang, tapi juga bisa berbentuk barang atau jasa. Berbeda kasusnya ketika, “pijit” atau tambahan tadi diberikan dari peminjam sebagai hadiah dan bukan sebagai ketentuan yang disepakati dari awal. Jika diberikan sebagai hadiah, maka hal itu diperbolehkan.

            Ada beberapa jenis riba, yaitu riba yang terjadi dalam jual beli, dan riba yang terjadi dalam akad pinjam meminjam.

Riba Jual beli

            Riba jual beli terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:

  1. Riba Fadl, misalnya membeli 1 kilo kurma bagus dibayar dengan 1,5 kurma jelek. Syaratnya sejenis dan beda kualitas.
  2. Riba Yad, yaitu riba dalam transaksi dengan satu jenis barang yang dapat diperdagangkan dengan dua skema yaitu kontan dan kredit tanpa ketetapan harga. Contoh: harga mobil baru jika dibeli tunai seharga Rp. 100 juta, dan Rp. 150 juta bila mobil itu dibeli secara kredit dan sampai dengan keduanya berpisah tidak ada keputusan mengenai salah satu harga yang ditawarkannya. Berbeda dengan akad murabahah, yang harga barang tersebut sudah fix dan disepakati diawal, meskipun dibayar dengan cara mengangsur.

Riba dalam Pinjaman

  1. Riba Qardh: Mensyaratkan adanya tambahan ketika memberikan pinjaman. Contohnya, meminjam 10 juta, harus dikembalikan 11 juta..
  2. Riba Nasiah: ketika jatuh tempo, diberikan opsi, ingin dibayar atau diperpanjang (dengan tambahan biaya).

Bagaimana dengan Bunga Bank?

Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Bunga, menyatakan bahwa BUNGA BANK=RIBA. Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram, baik di lakukan oleh Bank, Asuransi,Pasar Modal, Pegadian, Koperasi, Dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.

Bolehkah Menggunakan Jasa Bank?

Boleh, dengan syarat bukan yang bersinggungan dengan riba. Contoh: transfer, beli pulsa, dll.

Bank Syari’ah

Bank syari’ah merupakan salah satu solusi atas permasalahan perlunya Islam untuk menerapkan sistem ekonomi Islam dan mendobrak sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Banyak yang menentang dan mengatakan bank syariah sama saja dengan bank konvensional yang mencari keuntungan dan bahkan jauh lebih banyak. Problematika tentang biaya dan bagi hasil yang lebih banyak tentunya adalah kebijakan masing-masing perbankan, akan tetapi dalam permasalahan “mencari keuntungan” tentunya kita semua paham bahwa dalam bisnis, tujuanya adalah memang untuk mencari keuntungan. Bedanya dengan bank konvensional, adalah tentang “bagaimana cara mencari keuntunganya?”.

Pun demikian, dalam pendapat penulis, bank syariah belum sepenuhnya 100% syariah. Hal ini karena bagaimanapun bank syariah sendiri harus menginduk dibawah BI yang menggunakan bunga. Meskipun demikian tak dapat dipungkiri bahwa bank syari’ah adalah solusi atas permasalahan bunga yang marak di masyarakat Indonesia ini, atau setidaknya bank syariah adalah upaya untuk mencari solusi daripada diam dan hanya bisa berdiri mengkritik tanpa melakukan apapun.

Ada beberapa dalil yang menguatkan tentang keharusan muslim menggunakan bank syariah, meskipun masih dalam tahap yang belum 100%, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kaidah mâ lâ yudraku kulluh lâ yutraku kulluh (jika kita tidak bisa mendapatkan semuanya, maka jangan ditinggalkan semuanya). Dalam praktiknya, lebih baik kita menggunakan bank yang hampir dan mempunyai itikad baik untuk bersyariah, dari pada yang tidak.
  2. Fikih tadriji (fikih berjenjang). Maksudnya adalah, seperti dalam pelarangan minum khamr yang tidak langsung haram sekaligus, akan tetapi perlu adanya jenjang dalam pelarangannya. Bayi tidak mungkin langsung disuruh untuk lari, akan tetapi harus merangkak dan terjatuh terlebih dahulu, sebagaimana bank syariah yang sedang diterapkan di Indonesia.
  3. Bank konvensional berbeda dengan bank syariah dalam permasalahan akadnya. Dalam Islam, beda akad, beda hukumnya, meskipun hasilnya sama. Hal ini sama seperti dalam permasalahan menikah dan berzina. Sama-sama berhubungan badan dan mempunyai keturuan, akan tetapi satunya bernilai ibadah, dan satunya bernilai dosa.
  4. Perbedaan bank syariah dan bank konvensional juga ada pada penerapan bagi hasil, bukan pada bunga yang fix.

Riba: nge-RIBA-nget

Oleh : Alda Kartika Yudha

Dalam Islam, ancaman untuk para pelaku riba sangatlah berat. Dalam QS al-Baqarah 278-279, Allah dan Rasulullah mendeklarasikan perang terhadap para pelaku riba.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُون

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (QS. Al-Baqarah: 278-279).

Lebih mengerikan lagi, dosa riba tidak hanya ditanggung oleh yang memakan riba saja, akan tetapi juga semua yang mempunyai andil dalam akad yang berkaitan dengan riba tersebut, mulai dari juru tulisnya dan saksi-saksinya. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Muslim:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim).

Tidak hanya dalam agama Islam, seluruh agama samawi juga melarang sistem riba. Yahudi dengan Tauratnya (Exodus (22:24)), Nasrani dengan Bible-nya (Ezekiel (18:13), Paslms (15:5)), dan Islam (3:130), (30: 39). Tidak hanya agama, Aristoteles juga mengatakan bahwa mengambil riba adalah perbuatan yang salah. Para filusuf Yunani, menyamakan riba dengan kejahatan. Riba= Evil (Jahat).

Doc : google.com

Ancaman dan bahaya riba sudah jelas, akan tetapi pada kenyatanya banyak yang tidak memperdulikan hal ini. ancaman perang dari Allah dan Rasulnya seolah hanya nyanyian nina bobo belaka. Banyak yang beralasan, tanpa pinjaman maka tidak bisa mendirikan usaha, ada juga yang beralasan ingin menaikan taraf hidup, ada juga yang mungkin memilih berurusan dengan riba karena gengsinya. Semua alasan itu kemudian mengalahkan kenyataan bahwa Allah mengharamkanya dan melarangnya, dan bahkan memeranginya.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Konfirmasi  donasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu) atau melalui e-mail di kajianmuid@gmail.com.

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Perlahan Berhenti dari Riba

Oleh : Rino Dwi Cahyono – Relawan Kajianmu

Yogyakarta, 27 Oktober 2018.

Ibu Widayah Sarmudyah Hastaningrum atau akrab disapa Bu Ningrum adalah salah satu jamaah Kajianmu di majelis Griya Kencana Permai (GKP), Sedayu. Sehari-hari Bu Ningrum berjualan makanan dan minuman di kantin SMP N 7 Yogyakarta. Bu Ningrum berjualan bersama dengan suaminya. Beliau telah mengikuti Kajianmu sejak Januari 2018 hingga sekarang tetap istiqomah datang Kajianmu setiap Sabtu sore.

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan Bu Ningrum. Usut punya usut, beliau pernah meminjam uang di salah satu bank konvensional untuk modal usahanya. Pinjaman pertama di tahun 2011 sejumlah Rp 10.000.000,  diangsur selama 36 bulan atau setara dengan 3 tahun.  Setelah pinjaman pertama selesai, Bu Ningrum meminjam lagi di bank yang sama senilai Rp 15.000.000 dan diangsur dalam durasi waktu yang sama yakni 36 bulan dan baru akan selesai Mei 2019 mendatang.

Seiring dengan mengikuti pengajian seminggu sekali di Kajianmu, Bu Ningrum semakin paham bahwa pinjaman di bank konvensional termasuk riba. Di dalam nash agama telah dijelaskan bahwa yang menerima riba, yang memberi riba, yang mencatat riba, dan termasuk saksi pun terkena dosa riba. Setelah mengetahui tentang riba, beliau berniat secara sungguh-sungguh untuk meninggalkannya. Berupaya untuk melunasi sedikit demi sedikit pinjaman yang mengandung riba, termasuk pinjaman beliau di PKK dan Dasawisma yang sedikit banyak terdapat unsur ribanya.Semakin kuat mempelajari Islam, Bu Ningrum mengaku semakin banyak pula petunjuk Allah yang ia dapatkan.

Saya terigat, Bu Ningrum pernah bercerita pada saya tentang kisah yang paling mengesankan bagi beliau. Suatu hari, wanita kelahiran Yogyakarta, 28 Agustus 1965 ini meminjam uang kepada salah seorang teman. Pinjaman tersebut sudah berlangsung sangat lama. Ia ingat jika masih memiliki hutang temannya. Kemudian, beberapa waktu lalu wanita 53 tahun ini menghubungi teman tersebut. Ia berniat ingin mengatakan kepada temannya bahwa saat ini belum bisa melunasi uang yang pernah ia pinjam. Namun, tanpa di duga-duga temannya malah menjawab, “Hutang apa ?, kamu sudah tidak punya hutang sama saya…”. Bu Ningrum merasa bersyukur, bahwa pertolongan Allah SWT sangatlah dekat. Di saat Ia baru berupaya untuk mengkonfirmasi hutangnya pada teman, saat itu pula tangan-tangan Allah SWT menunjukkan kuasanya. Saya bahkan merinding mendengar kisah tersebut !.

Cerita pun berlanjut, flashback bagaimana Bu Ningrum menemukan Kajianmu. Beliau mengatakan bahwa informasi tentang Kajianmu didapatkannya dari membaca poster Kajianmu di Bogamart, Toko Frozen Food yang berlokasi di Pertigaan Kemusuk, Argomulyo, Sedayu.

“Sore itu saya mau beli bahan-bahan buat jualan di kantin, terus ada poster tulisannya, Kajianmu: Wujudkan Yogyakarta Bebas Rentenir. Lalu saya dekati poster itu dan saya baca dengan seksama.” Tutur Bu Ningrum.

“Mungkin ini solusi yang datang dari Allah, Kok ada ya pinjaman tanpa bunga, tanpa jaminan, yang penting datang pengajian seperti ini ?.” Gumamnya dalam hati.

“Kemudian saya langsung simpan nomor kontak yang tertera dan saya hubungi setelah sampai di rumah.” Lanjut Bu Ningrum dengan muka berseri-seri.

20 Januari 2018 adalah hari pertama kalinya wanita paruh baya yang juga menjalankan usaha pesanan nasi box dan tumpeng ini mengikuti Kajianmu. Beliau mengaji Al Qur’an dan menyimak apa saja syarat untuk dapat mengajukan pinjaman di Kajianmu. Satu hal yang paling diingat yakni beliau harus konsisten datang mengaji minimal 5 kali pertemuan kemudian baru bisa mengajukan pinjaman level pertama yaitu maksimal plafon Rp. 1.000.000. Pengajian setiap Sabtu sore diikuti beliau dengan istiqomah dan penuh semangat untuk belajar membaca Al Qur’an dan agar bisa mengakses pinjaman tanpa jaminan tanpa bunga dari Kajianmu. Singkat cerita, pinjaman pertama Bu Ningrum sebesar Rp 600.000 digunakan untuk menutup pinjamannya di PKK.

“Jujur saja ya Mas, saya dan Ibu-Ibu yang lain disini nyaman ikut Kajianmu. Kita ndak merasa melulu diceramahin tentang riba. Tapi kita juga riil langsung dikasih solusi. Enak ikut Kajianmu, belajar ngaji termasuk Tajwid, mendengarkan kultum, bisa pinjam lagi, nggak pakai bunga, nggak pakai jaminan…” Paparnya.

Setelah rutin berangkat Kajianmu, wanita yang tinggal di Perumahan Pesona Alam, Argorejo, Sedayu, Bantul ini mengaku menjadi rajin membaca Al Qur’an dibandingkan sebelumnya.

“Kalau nggak baca Al Qur’an sehari itu kayaknya ada yang kurang gitu Mas.” Ungkapnya sambil tersenyum.

“Saya itu selalu menanti hari Sabtu lho… buat ngaji bareng, silaturrahmi di Kajianmu, dan kebetulan hari sabtu itu waktu yang pas banget bagi saya. Jadi saya bisa sering ikut Kajianmu..Alhamdulillah.”Ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Sampai sejauh ini, Bu Ningrum sudah berangkat mengaji sebanyak kurang lebih 36 kali pertemuan. Sekarang beliau sedang mengajukan pinjaman level lanjut sebesar Rp. 3.000.000 untuk menambah modal usaha di kantin yang dikelolanya.

Hari sudah mulai gelap dan jam dinding menunjukkan 10 menit untuk tiba waktu Magrib. Semoga pengajian dan pinjaman Kajianmu bermanfaat, bisa terus membantu Ibu-Ibu pemilik usaha kecil untuk mengembangkan usahanya serta  menghindarkan mereka dari riba.

Terimakasih Bu Ningrum telah berbagi cerita…

Tanya Jawab Kajianmu #3

Oleh : Alda Kartika Yudha

Bagaimana Setan Menyerang Kita ?

Manusia hidup mempunyai satu tujuan, yaitu ridha Allah SWT. Dalam mendapatkan ridhoNya, setiap manusia mempunyai musuh yang harus mereka lawan yaitu setan la’natullah ‘alaihim. Setan yang sudah ada sejak zaman nabi Adam AS ini terus-terusan tak bosan (dan tak akan pernah bosan) menggoda manusia agar bisa menjadi teman abadi mereka di neraka kelak. Mereka sudah belajar tips dan trik jitu menjerumuskan kita sejak zaman Nabi Adam AS. Ibarat gelar akademik, kaum tersesat ini sudah mendapatkan beribu-beribu gelar professor dalam bidang ke-neraka-an.

Bagi orang yang sedang berperang agar bisa memenangkan pertempuran hal pertama yang harus dilakukan adalah fokus (sadar dan tetap waspada disetiap saat). Berikutnya adalah mempunyai senjata  dan strategi untuk menghadapi mereka. Rasulullah SAW sudah meninggalkan dua hal berupa Al Qur’an dan Hadist yang didalamnya terdapat senjata dan strategi perang yang jitu dalam melawan setan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Kemudian, yang perlu kita jadikan bekal berperang adalah pengetahuan kita tentang musuh dan strategi mereka.

Dalam kitab Madârij Assâlikîn karya Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya setan memliki 7 jalan/ level untuk mengajak manusia agar abadi bersamanya di neraka.

doc: google.com

1) Jalan kekafiran. Inti dari jalan ini menjadikan kita kafir terhadap Allah. Jika sudah kafir, maka semua amal akan tertolak. Ini merupakan simbol dosa tertinggi, karena tidak ada dosa lagi setelah kafir.

2) Jalan bid’ah. Jika setan gagal merayu kita lewat jalan kekafiran maka mereka akan masuk lewat jalan ke-bid’ah-an. Bid’ah merupakan sesuatu hal yang baru dalam ibadah wajib yang tidak diajarkan oleh Rasululah SAW. Termasuk didalamnya adalah percaya pada benda-benda yang bersifat mistik yang bisa berujung pada khurafat.

3) Jalan dosa besar. Berikutnya mereka akan menggoda kita untuk melakukan dosa besar. Misalnya, zina, minum khamr, menyuap dll. Yang mengkhawatirkan dari perilaku dosa besar ini adalah bahwa jarak antara dia dan kekufuran hanyalah satu jengkal saja. Maksudnya, orang yang sudah terbiasa dengan dosa besar, ketika mereka tertimpa musibah, mereka rentan untuk terjerumus pada kekafiran, sebagaimana ada kemungkinan mereka akan bertobat karena musibah tersebut.

4) Jalan dosa-dosa kecil. Misalnya, menyentuh wanita, lepas jilbab, menggunjing, dll. Setan akan berusaha meyakinkan manusia dengan dalih bahwa dosa kecil akan gugur dengan melakukan shalat dengan dalil hadist nabi bahwasanya diantara dua shalat itu ada pengguuran dosa bagi yang melakukan shalat. Sepintas, apa yang dikatakan setan ini jelas benar. Akan tetapi maksud dari setan sendiri itu tak lebih dari sebuah kebatilan. Ditambah lagi, dosa besar manusia cenderung mengingat bahkan mungkin hingga hari kiamat. Akan tetapi dosa-dosa kecil, karena kita sering meremehkan, bisa jadi di akhirat kelak dosa kita seudah menumpuk tak terkira.

5) Menggoda kita untuk melakukan banyak hal yang mubah (dibolehkan), hingga membuat kita lalai dalam perkara sunah atau bahkan wajib. Misalanya, tidur yang banyak hingga kita susah shalat tahajud, atau makan yang banyak, hingga kita menjadi malas.

6) Jalan ketaatan. Yaitu dengan cara membuat kita sibuk dengan ketaatan yang keutamaan sedikit, supaya kita lali dengan ketaatan yang pahalanya lebih besar. Misalnya, setan akan membuat kita sibuk shalat di rumah hingga kita melupakan shalat berjamaah di masjid. Atau menyibukkan kitadalam shalat tahajud yang kemudian membuat kita ketiduran untuk melakukan shalat subuh.

7) Jika jalan ke enam-pun mereka gagal, setan sudah tidak bisa menggoda manusia lagi. Yang tersisa adalah gangguan dari prajurit-prajurit mereka yang sudah tersebar dalam bentuk manusia dan jin. Oleh karena itu dikatakan bahwa orang yang mendapatkan cobaan terberat adalah para nabi, kemudian orang soleh, kemudian yang dibawahnya. Semakn mereka soleh, semakin mereka akan mendapatkan cobaan/gangguan yang berat dari golongan jin dan manusia.

Al-Ghazali menambahkan, tidak semua dosa berasal dari bisikan setan. Bisa jadi itu berasal dari diri kita sendiri. Buktinya adalah, setiap Bulan Ramadhan, masih saja ada orang yag berbuat maksiat padahal setan sedang dibelenggu. Untuk membedakannya, keinginan melakukan maksiat yang datangnya dari setan, sedikit banyak bisa hilang dengan memperbanyak membaca ta’awudz. Yang kedua, perbuatan buruk yang sudah menjadi kebiasaan kita merupakan dosa yang berasal dari diri kita sendiri, bukan bisikan setan. Contohnya ketika manusia merokok. Awal-awal manusia memiliki keinginan merokok, hal itu datangnya dari setan, namun setelah merokok selama satu tahun, maka perbuatan jelek itu datangnya bukan dari setan lagi, melainkan diri kita sendiri.

Setelah mengetahui hal ini, tugas kita sekarang adalah mengidentifikasi dijalan/level mana setan menggoda kita. Berikutnya, tergantung usaha untuk belajar dan melatih diri dalam menjaga hawa nafsu (mujahadah nafs) agar kita bisa naik ke level yang lebih tinggi. Semoga kita senantiasa selalu dalam lindungan Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Konfirmasi  donasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu) atau melalui e-mail di kajianmuid@gmail.com.

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Bagaimana Cara Menuntut Ilmu yang Diajarkan Para Ulama Salaf?

Oleh : Alda Kartika Yudha

Imam Syafi’i mengatakan, bahwa ada enam hal yang harus dimiliki oleh para pencari ilmu, yaitu: Kecerdasan, Kerakusan dalam menuntut ilmu, Kesungguhan, Bekal (harta), Bimbingan guru, dan Waktu yang panjang.

Doc: google.com
  • Kecerdasan

Semua hamba yang mempunyai akal pasti mempunyai kecerdasan, dan kecerdasan masing-masing manusia tentunya berbeda-beda. Tapi yang perlu menjadi perhatian adalah,  bahwa kecerdasan disini hanyalah sarana (alat) dan bukan tujuan. Sebagai hamba, kewajiban kita adalah berusaha keras untuk mencari ilmu, bukan untuk menjadi orang yang pintar. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada kita “Bacalah!”, dan tidak mewajibkan kita untuk “Pintarlah!”. Pintar  adalah hasil yang dikaruniakan oleh Allah untuk kita yang salah satunya lewat sarana kecerdasan. Sedangkan kewajiban kita adalah memanfaatkan kecerdasan itu, semaksimal kita.

  • Kerakusan dalam menuntut ilmu

Kerakusan disini memiliki makna istikamah atau berterus-terusan dalam menuntut ilmu. Dalam perihal membaca kitabnya, menghafalnya, mempelajarinya, menuntut ilmu, dan sebagainya. Sebagai contoh, Imam Bukhari ketika ditanya tentang kekuatan hafalannya, beliau menjawab bahwa hal itu dikarenakan seringnya beliau dalam membaca dan murâjaah kitab.

  • Kesungguhan para ulama

Dalam perihal kesungguhan dalam menuntut ilmu, Syekh Ali Jum’ah bercerita bahwa Imam Nawawi pengarang kitab Arba’în al-Nawawiyah, Syarah Shahih Muslim, al-Majmu’, Raudhah al-Thâlibin, dan lainnya. Setiap hari beliau belajar 12 jenis ilmu. Imam Nawawi juga sangat jarang sekali tidur dengan sisi tubuhnya, beliau tidur dalam keadaan duduk selama dua tahun. Bahkan karena kesungguhan dan pemanfaatan waktunya untuk belajar, dalam perkara makan pun beliau disuapi oleh ibunya. Karena kecintaanya pada ilmu juga, imam Nawawi sampai tidak menikah. Beliau sangat kurus, hingga pernah ada yang tidak yakin bahwa beliau adalah imam Nawawi, karena dia fikir sang imam pastilah berbadan subur dan besar.

Contoh lainnya, dalam buku Shafahât min Sabri al-Ulama, Abdul Fatah Abu Ghudah menceritakan tentang kesabaran dan juhud para ulama dalam menuntut ilmu. Beberapa contohnya adalah Sa’id bin Musayyab yang pernah melakukan perjalanan berhari-hari demi mendapat satu hadis saja.

Ibnu Muqri’ bin Ali juga pernah menceritakan bahwa dirinya, al-Tabrani dan Abu Hayyan pernah menuntut ilmu di Madinah. Waktu itu mereka kehabisan bekal sehingga mereka akhirnya berpuasa wishâl (puasa setiap hari, tanpa jeda). Ketika datang waktu isya’, Ibnu Muqri’ mengaduh karena lapar yang sangat, sembari menyebut nama Rasulullah Saw. Al-Thabrani berkata: “Duduklah, karena pilihannya hanya dua, jika tidak datang rizki maka akan datang kematian! Kemudian Ibnu Muqri’ dan Ibnu Hayyan memutuskan untuk mendirikan salat. Tiba-tiba datang seseorang bersama dua anak kecil membawa keranjang makanan dan berkata: “Kalian mengadu kepada Rasulullah, dan Rasulullah datang ke dalam mimpiku agar membawakan sesuatu untuk kalian”.

  • Bekal

Sebagai contoh konkrit dalam permasalahan ini adalah kisah Yahya bin Ma’in, seorang ulama jarh wa ta’dil yang merupakan guru dari Imam Bukhari dan Muslim, dan guru ulama hadis lainnya. Beliau pernah mendapat warisan dari ayahnya senilai 1.050.000 dirham, yang mana semua itu beliau gunakan untuk belajar ilmu hadis, hingga tidak tersisa untuk beliau meskipun hanya sebuah sandal.

Mengenai hal ini Syekh Ali Jum’ah juga berkata: Berikan pada ilmu apapun yang kau punya, maka dia (ilmu) akan memberimu sebagian darinya”.  Lalu apa yang akan diberikan ilmu pada kita, jika kita pelit atau tidak mempunyai apa-apa sebagai bekal untuk menuntut ilmu?!

  • Bimbingan Guru

Pentingnya guru dalam menuntut ilmu tidak ada yang dapat memungkiri. Tanpanya, meskipun seorang murid sangat rajin membaca buku, pemahamannya bisa jadi salah atau tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pengarang kitab. Dalam konteks ajaran agama, pemahaman  seseorang terhadap teks al-Quran dan sunnah (meskipun terihat benar) bisa jadi tidak sesuai dengan pemahaman Nabi Muhammad Saw. Hal ini sering sekali terjadi pada zaman ini, seseorang dapat menganggap dirinya berada dalam kebenaran, sedangkan cara pandang lainnya adalah faham yang sesat.  Salah satu sebab terjadinya hal ini adalah banyak orang yang meremehkan peran guru, lalu belajar sendiri dari buku (kitab), lalu berfatwa kesana kemari. Pun banyak juga yang menjadikan seseorang sebagai guru, padahal orang tersebut hanya belajar sendiri tanpa mempunyai guru.

Syekh Ali Jum’ah menambahkan, bahwa dalam menuntut ilmu ada yang dinamakan sebagai Rukun Ilmu, yaitu guru, murid, kitab, manhaj (metode), dan lingkungan ilmiah. Syekh Usamah Sayyid al-Azhari juga mengatakan, bahwa lima hal ini bagaikan dua sayap pada burung. Tidak boleh hilang salah satunya.

Dalam salah satu kuliahnya, Syekh Usamah pernah berbicara tentang pentingnya guru dan ketersambungan sanad keilmuan dalam ilmu agama. Beliau mengatakan bahwa ilmu agama ini adalah amanah agama, sehingga kita harus belajar dan mengambil ilmu dari seorang guru yang mempunyai sanad (rantai periwayatan). Maksudnya adalah seorang guru yang belajar dari seorang guru juga, dan guru dari guru ini belajar juga dari seorang guru, dan begitu seterusnya, hingga guru dari guru-guru ini tadi diketahui belajar dari para sahabat dan para sahabat belajar dari Nabi Muhammad Saw.

Beliau menambahkan, bahwa orang yang belajar ilmu agama pada seorang ulama yang tidak memiliki sanad keilmuan (atau sanadnya terputus) hingga Rasulullah itu hakikatnya yatim dalam ilmu agama, seolah ilmunya tidak berayah. Tidak dibenarkan seseorang hanya membaca dan memahami buku agama tanpa seorang guru yang sanad ilmunya tersambung sampai Rasulullah, karena bisa jadi pemahaman yang dimilikinya akan berbeda dengan pemahaman yang diajarkan Rasulullah pada para sahabat.

Dari perkataan Syekh Usamah tersebut dapat dipahami bahwa hakikatnya ilmu agama ini adalah amanah yang diserahkan dari Rasul kepada sahabat, lalu dari sahabat kepada tabi’in dan seterusnya hingga sampai pada ulama zaman sekarang dengan sanad yang bersambung. Hal ini jugalah yang seharusnya diterapkan dan dipahami oleh siapa saja yang mengatakan bahwa dirinya ingin kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Tidak tepat ketika seseorang berkata “kita kembali kepada Al-Quran dan Sunnah”, tetapi tidak memiliki guru yang tersambung sanad keilmuan dan pemahamannnya hingga Rasulullah Saw., apalagi hanya membaca sendiri dari sahih bukhari atau maktabah Syamilah. Bisa jadi itu bukan “kembali kepada al-Quran dan sunnah”, akan tetapi justru kembali kepada hawa nafsu sendiri. Karena meskipun al-Quran dan Sunnah itu maksum, tetapi pemahaman kita pada Quran dan sunnah tidaklah maksum. Maka ketersambungan sanad ini sangat diperlukan sekali. Dengan bersambungnya sanad sampai pada Rasul, maka bisa dikatakan bahwa pada hakekatnya kita langsung belajar pada Rasulullah, dengan perantara para ulama. Dengan begitu, pada hakikatnya kita benar-benar kembali kepada al-Quran dan Sunah sesuai manhaj Nabi Muhammad Saw.

Mengenai pentingnya sanad ini, dalam mukadimah Shahih Muslim, Ibnu Mubarak mengatakan: “Jika bukan karena sanad, maka siapapun bisa mengatakan apapun.” Begitulah pentingnya sanad, oleh karenanya hal ini tidak boleh disepelakan oleh seorang yang ingin mencari kebenaran dalam Islam.

  • Waktu yang panjang

Beberapa cerita mengenai juhud ulama yang telah disampaikan di atas menunjukkan bahwa para ulama sangat mengerti; seseorang yang menuntut ilmu itu tidak bisa hanya dengan proses sehari dua hari lalu abrakadabra dan jadilah ulama atau mujtahid. Bahkan untuk mempelajari satu jilid dari kitab al-Mughni karangan Ibnu Qudamah saja, syekh Ali Jum’ah membutuhkan waktu lebih dari 40 tahun! Hal ini juga menjadi anjuran agar tidak terburu-buru dalam menuntut ilmu, karena terburu-buru dalam menuntut ilmu hanya akan mengantarkan kita pada setan dan kebodohan.

Sebagai sindirian bagi mereka yang menganggap dirinya ulama padahal sejatinya termasuk juhalâ (orang-orang bodoh) disebabkan karena kilatnya dalam menuntut ilmu, Syekh Muhammad Ghazali dalam kitabnya al-Sunnah al-Nabawiyah Baina Ahlu Fiqh wa Ahlul Hadits pernah mengatakan “Saya mempunyai tujuan (cita-cita) untuk memurnikan sunnah nabawiyah dari hal-hal yang mencampurinya, juga menjaga keilmuan islam dari orang-orang yang menuntut ilmu pada hari sabtu, kemudian mengajarkannya pada hari ahad, lalu mengambil gelar professor pada hari senin, dan pada hari selasa mereka berdebat dengan para Imam besar seraya berkata: “nahnu rijal wa hum rijal” (kita ulama dan mereka juga ulama).”

Begitulah kiranya bagaimana para ulama terdahulu berusaha keras dalam menuntut ilmu dan tidak hanya menjadikannya sebagai pekerjaan sambilan. Orang yang berilmu adalah kunci kemajuan semua peradaban, begitu juga peradaban Islam, pun kemunduranya. Sebab lain adalah banyaknya para jahil yang kemudian mengaku sebagai pemimpin dan ulama. Mereka yang jahil ini kemudian berbuat kezaliman atau fatwa sembarangan secara sadar ataupun tidak, dan dengan lantang mengatasnamakan diri mereka Islam yang haq, Islam yang sebenarnya. Mereka telah sesat juga menyesatkan.

Hal ini sesuai sabda Nabi 1500 tahun silam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya dengan cara sekali cabut, akan tetapi dengan memwafatkan para ulama. Sehingga ketika tidak ada lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat lagi menyesatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Konfirmasi  donasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu) atau melalui e-mail di kajianmuid@gmail.com.

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Ilmu dan Ulama Dalam Islam

Oleh : Alda Kartika Yudha

Doc: google.com

Syekh Ali Jum’ah (Mantan Mufti Mesir) pernah mengatakan bahwa tugas manusia sebagai khalifah Allah di dunia ini ada tiga; Ibadah kepada Allah, Memakmurkan atau membangun dunia, dan Mensucikan diri. Dari semua tugas ini ada satu hal yang dibutuhkan dan tidak dapat dilepaskan dari ketiga hal tersebut, yaitu Ilmu.

Ilmu tidak akan terlepas dari segala aspek kehidupan. Orang berilmu pasti akan selalu menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang awam. Semua orang sadar akan pentingnya ilmu dan ulama. Lalu bagaimana hakikat ilmu dan ulama dalam islam?

Ulama dan Keistimewaannya

Dalam kitab Tadzkirah as-Sâmi’ wa al-Mutakallim karya Qadhi Badrudin bin Jama’ah, beliau menyebutkan banyak sekali keistimewaan seorang ulama. Beliau mengambil ayat-ayat al-Quran, hadis Nabi, maupun perkataan para sahabat dan ulama, ketika menjelaskan keistimewaan seorang yang bergelar ulama. Beberapa diantaranya adalah firman Allah yang berbunyi:

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang  beriman diantara kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat (al-Mujadalah: 11).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa keutamaan ulama itu 700 derajat lebih tinggi daripada mukmin biasa, dan jarak antara masing-masing derajat itu adalah 100 tahun. Termasuk hadis yang sudah tidak asing tentang keistimewaan ulama adalah hadis yang berbunyi: “Para ulama adalah pewaris para nabi.”(HR Tirmidzi).

Jamak diketahui bahwa tidak ada derajat yang lebih mulia di dunia ini daripada derajat kenabian. Akan tetapi Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir, maka derajat kenabian ini sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu derajat kemuliaan tertinggi yang bisa dimiliki oleh manusia sekarang adalah pewaris para nabi, yaitu mereka yang bergelar ulama. Dalam hadis yang diriwayatkan Daru Qutni, Nabi juga mengatakan bahwa satu ahli fikih (ulama) itu lebih dibenci oleh setan daripada 1000 ahli ibadah.

Senada dengan ayat dan hadis tentang keistemewaan ulama,  Abu Muslim al-Khulaini mengatakan bahwa ulama itu layaknya bintang di langit, ketika muncul, maka ia akan menjadi petunjuk jalan bagi manusia. Dan ketika hilang, maka manusia akan kebingungan. Begitu juga Aswad ad-Duali,  beliau menyatakan bahwa raja adalah hakim bagi manusia, dan ulama adalah hakim bagi raja.

Banyak sekali ayat quran, hadis, atsar yang menjelaskan keistimewaan orang yang bergelar ulama. Penulis diatas hanya menyebutkan beberapa saja. Tentunya gelar ulama ini tidak bisa diperoleh dengan mudah dan instan.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Tanya Jawab Kajianmu #2

Oleh : Alda Kartika Yudha

Muslimah Dilarang ke Masjid?

Muslimah tidak boleh kemasjid? Benarkah? Tidak sedikit orang yang kemudian menyerang  Islam hanya karena adanya pendapat yang melarang wanita untuk shalat berjamaah di masjid. Mereka menyerang Islam dan mengatakan bahwa Islam agama pengekang para wanita. Anggapan mereka ini ditambah dengan bumbu-bumbu permasalahan poligami, bolehnya suami memukul istri, hak waris, dll. Padahal jika mereka ini mau mencoba obyektif, pendapat ulama yang mengatakan tidak boleh ini hanyalah pendapat sebagian ulama. Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Permasalahan ini adalah permasalahan khilafiyah. Bahkan dari mereka yang mengatakan tidak boleh ini, ada beberapa yang mengatakan bahwa hal ini hanyalah permasalahan keutamaan bagi wanita untuk shalat di rumah. Lalu benarkah ada ulama yang menganjurkan dan membolehkan wanita untuk shalat berjamaah di masjid?  Apa dalil yang mereka gunakan?

Pendapat yang membolehkan
Syekh Muhammad Ghozali (wafat 1416 H/1996 M)yang merupakan ulama dan pemikir dari Mesir dalam buku Qadhaya Mar’ah (Seputar permasalahan wanita) memberikan penjelasan tentang kebolehan wanita untuk berjamaah di masjid. Beliau mengatakan bahwa hubungan muslim baik laki-laki ataupun perempuan dengan masjid itu bisa menjadi pertanda seberapa dalam perasaannya. Masjid adalah tempat yang penuh dengan lantunan zikir kepada Allah. Didalamnya, orang-orang berkumpul mengharapkan kebaikan. Bahkan dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa salah satu golongan yang akan mendapat naungan di hari kiamat dimana tidak ada naungan selain dariNya, adalah seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid. Muslim dan muslimah mempunyai kesamaan dalam hal keterkaitannya dengan masjid, yang menjadi pembeda adalah pada dasarnya pekerjaan wanita yang paling mulia itu ada dirumahnya.

Kewajiban wanita dalam menjaga rumah dan harta suaminya kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah. Menjaga rumah dan harta suami hukumnya wajib bagi seorang istri, sedangkan shalat jama’ah hukumnya adalah sunnah. Maka tidak boleh seseorang mendahulukan yang sunnah dengan meninggalkan yang wajib. Jika seorang wanita berhalangan hadir ke masjid dikarenakan uzur yang berkaitan dengan tanggungjawabanya sebagai ibu dan istri, maka baginya pahala jamaah, meskipun dia tidak hadir shalat jamaah! Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang istri ataupun ibu membiarkan urusan rumah tangga berantakan, menunda-nunda kebutuhan anak dan suami demi sunnah berjamaah. Namun, jika sang istri sudah menunaikan kewajibannya, maka menjaga shalat jama’ah dan berlomba untuk meraih pahala dari Allah Swt. dengan shalat berjamaah merupakan hak seorang istri. Sang suami tidak boleh melarangnya.

Dalil Mereka
Ada beberapa golongan yang kemudian menyalahkan dan melarang perempuan yang shalat berjamaah dan mengatakan bahwa jamaah itu hanyalah untuk laki-laki. Golongan ini mengatakan bahwa rumah itu lebih baik bagi perempuan daripada masjid, padahal sangat jelas dizaman nabi dan Khulafaur Rasyidin para wanita juga ke masjid.  

Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah hadis dari Abdulllah bin Umar bahwa Rasulullah pernah berkata: “Janganlah kamu melarang wanita-wanitamu ke masjid ketika mereka meminta izinmu.”

Atau hadis yang diriwatkan juga oleh Muslim juga yang berbunyi: “Jangan kamu melarang perempuan-perempuanmu ketika ingin keluar dimalam hari ke masjid.”

Ibnu Hazm juga memberikan sanggahan atas pendapat “tidak boleh” itu dengan berkata “Jika memang begitu, kenapa Rasulullah Saw. membiarkan para sahabiyah yang berdatangan ke masjid jika rumah-rumah mereka lebih afdhal?  Dan juga, kenapa Rasulullah Saw.  memerintahkan para perempuan bahkan yang haid untuk datang ke tanah lapang tempat shalat ied. Anjuran bagi perempuan untuk datang ke shalat ied ini bahkan sampai memerintahkan bagi wanita yang tidak mempunyai jilbab untuk meminjam saudaranya atau tetangganya yang punya jilbab. Dengan hal ini, bagaiamana bisa (shalat) wanita dirumah lebih afdhal?”

Perkataan Ibnu Hazm kemudian dijawab oleh golongan pertama. “Hal itu (red:bolehnya wanita untuk keluar ke masjid pada masa itu) adalah untuk syiar kepada musuh bahwa jumlah umat muslim banyak. Karena jika perempuan tidak ikut ke tanah lapang, akan ketahuan bahwa jumlah umat muslim sedikit.”

Ibnu Hazm kemudian menjawab bantahan mereka dengan perkataan, “Hal ini jelas mengada-ada dan bentuk kedustaan atas nama Rasul. Hal ini jelas perkataan yang tanpa didasari ilmu, karena Rasulullah Saw. sendiri memerintahkan hal ini agar supaya kaum wanita menyaksikan ied  mendapat kebaikan serta menjadi jalan da’wah bagi kaum muslim. Selain pernyataan ini mengada ada, hujjah diatas juga sangat lemah, karena Rasul sendiri tidak mempunyai bala tentara untuk mengintimidasi musuh. Rasul juga tidak mempunyai musuh kecuali orang-orang munafiq dan orang Yahudi Madinah yang pasti tahu bahwa yang berkumpul adalah para wanita.”

Dalam hal ini, Syekh Ghozali juga mengatakan bahwa pada dasarnya larangan jamaah di masjid bagi wanita merupakan hal yang buruk, musibah bagi kehidupan sosial dalam islam, mewariskan kebodohan, menjadi sebab buruknya pendidikan dan juga merupakan taqlid buta. Tidak ada obatnya kecuali kembali kepada ajaran Rasulullah Saw yang mana tertuang pada hadis dan sejarah, serta perbuatan para sahabat.

Banyak kita lihat di zaman ini golongan yang melarang wanita ke masjid tanpa mengatakan bahwa hal ini pada dasarnya adalah masalah khilafiyah. Disisi lain, larangan ini juga menimbulkan efek negatife yang patut kita waspadai yang sangat memprihatinkan bagi umat islam. Efek negatifnya adalah kurangnya pendidikan agama islam bagi para wanita. Jama’ diketahui bahwa masjid adalah tempat untuk pendidikan agama islam. Tidak semua suami sanggup mendidik istri dan anaknya tentang agama islam. Oleh karena itu perginya wanita ke masjid bisa menjadi solusi. Apalagi seorang wanita adalah madrasah pertama bagi anaknya, bagaimana bisa kita mengharapkan generasi berikutnya bisa paham agama jika ibu serta ayah mereka saja tidak paham soal agama, ditambah ibunya tidak boleh pergi ke masjid!?

Catatan yang harus diperhatikan
Meskipun dibolehkan, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh umat muslim mengenai hal ini. Beberapa diantaranya adalah kewajiban masyarakat untuk memastikan bahwa jalan menuju ke masjid merupakan jalan yang aman. Pelu diperingatkan juga kepada kaum wanita bahwa perginya mereka kemasjid adalah untuk perkara ibadah dan bukan untuk pamer serta ajang adu cantik di depan para laki-laki.

Diriwayakan dari Zainab istri Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasul pernah bersabda: “Jika kalian ingin ke masjid maka janganlah kalian menggunakan minyak wangi.”

Dalam permasalahan minyak wangi ini, kita dapat membagi minyak wangi ada dua jenis. Jenis pertama adalah minyak wangi yanh igunakan untuk membunuh kuman dan menghilangkan bau tak sedap. Minyak wangi yang seperti ini tentu dibolehkan. Sedangkan jenis kedua adalah minyak wangi dengan bau yang berlebihan yang seolah mengundang orang untuk melihat siapa pemakainya. Inilah jenis yang dilarang. Tidak lupa juga agar tidak menjadi fitnah bagi laki-laki, aturan sebisa mungkin untuk memisahkan pintu masuk antara perempuan dan laki-laki sehingga tidak berdesak-desakan didalamnya. Dalam permasalahan shalat jama’ah di masjid bagi wanita ini, Islam membolehkan, akan tetapi kita juga harus memperhatikan aturan-aturan yang ada demi kemaslahatan bersama.

Wallahu a’lam bissawab

Muhammad al-Ghazali, Qadhâyâ al-Mar`ah, Dar Asy-Syuruq, cet 10, 2013, hal. 207

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Tanya Jawab Kajianmu #1

Oleh : Alda Kartika Yudha

Pertanyaan:

  1. Jika sudah berkeluarga, bagaimana hukumnya memberi/bersedekah kepada orang tua/anak/di luar keluarga? Mana yang didahulukan?, terutama jika sebagai seorang istri, mengingat bakti ke suami adalah yang utama.
  2. Sebagai orang tua, bolehkah mengharap timbal balik/nafkah ketika anak sudah dewasa/sukses nanti?

Jawaban:

Dalam hal memberikan sedekah, sedekah yang paling utama adalah sedekah ketika kewajiban yang ada pada dirinya sudah terlaksana dan juga dimulai dari orang-orang terdekat. Sebagaimana firman Allah Swt:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al Baqarah: 219)

Selain itu, juga sabda Nabi Muhammad SAW:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan selebih keperluan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Bukhari).

Pada dasarnya harta sang istri adalah milik istri sendiri, dan suami tidak berhak untuk mengambilnya. Dari sini seharusnya dapat dipahami bahwa harta istri dapat digunakan untuk bersedekah ataupun digunakan sesuai keinginan si istri.

Pertanyaan kedua: adapun menyoal orang tua mengharapkan nafkah ketika si anak sudah dewasa adalah hal yang sah-sah saja, meskipun pada dasarnya secara akhlak kurang pas.

Jika ditinjau dari boleh/ tidaknya, hal ini tentunya boleh-boleh saja. Kebolehan itu didasarkan karena memang kewajiban si anak untuk berbakti kepada orang tua dengan sesuai kemampuanya, termasuk memberi nafkah ketika orang tua sudah tidak mempunyai penghasilan.

Meskipun begitu dari segi etika mengungkit-ungkit jasa orang tua ketika membesarkan anak adalah hal yang kurang pas. Di sisi lain, seharusnya si anak juga memahami bahwa orang tuanya sudah tidak bekerja dan membutuhkan bantuan nafkah. Disini pemahaman keagamaan dan akhlak luhur perlu ditekankan, agar si anak juga memahami bahwa memberi nafkah kepada orang tua (yang tidak mampu) juga merupakan bagian dari berbakti kepada orang tua yang sifatnya wajib.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Ekonomi Islam Sebagai Solusi Alternatif

Oleh : Alda Kartika Yudha

Riba dan Kapitalisme

doc : google.com

Tidak hanya bunga (riba) menjadi penyumbang inflasi terbesar (57%), dalam dunia eknomi, sejatunya riba adalah AIDS-nya sistem ekonomi. Ekonom sudah sangat sadar bahwa sebenarnya sistem riba (bunga) dan kapitalisme merupakan sistem brutal (rimba) yang kurang (red: tidak) manusiawi. Jamak diketahui bahwa sistem ini mengandalkan hutang yang diberikan kepada pihak lain. Diakui atau tidak sistem hutang menempatkan manusia (debitur dan kreditur) dalam posisi yang tidak setara. Bahkan tak jarang dalam kondisi tertentu sistem ini membuat hidup debitur seolah menjadi “hak milik” kreditur.

Saking berbahayanya riba, jangankan dalam islam, seluruh agama samawi juga melarang sistem riba. Yahudi dengan Tauratnya (Exodus (22:24)), Nasrani dengan Bible-nya (Ezekiel (18:13), Paslms (15:5)), dan Islam (3:130), (30: 39). Tidak hanya agama, Aristoteles juga mengatakan bahwa mengambil riba adalah perbuatan yang salah. Para filusuf Yunani, menyamakan riba dengan kejahatan. Riba= Evil (Jahat).

Dengan kacamata yang lebih bersar, sebenarnya penyakit riba ini adalah cabang  permasalahan dari sistem ekonomi kapitalis yang kita anut. Sistem ekonomi kapitalis yang sangat mengandalkan modal ini mendapatkan pendapat terbesar-nya dari riba  hutang. Contoh konkritya adalah, Negara-negara berkembang yang menjadi pasien Bank Dunia (IMF), yang kemudian Negara ini hanya sibuk dengan membayar bunga dan kesulitan untuk membayar pokok hutangnya. Lalu kemudian jika Negara ini tidak mampu membayar hutangnya, kekayaan alam-nya kemudian digadaikan. Keturunan-nya kemudian hanya mendapatkan warisan berupa hutang plus bunga.

Dalam sejarahnya, ekonomi kapitalis sebenarnya sudah gagal berkali-kali dalam memenuhi kebutuhan hidup seluruh manusia. Sebagai contoh, puncak krisis besar-besaran pada tahun 1930 yang disebut sebagai “The Great Depression”. Setelah itu pada tahun  1980, dan yang belum lama dan masih terngiang dikepala kita, yaitu kriris moneter pada 1998. Semua itu adalah bukti ketidak berdayaan ekonomi kapitalis. Lalu kenapa dunia masih menggunakan sistem ekonomi ini? Ada dua jawabannya singkatnya, 1) Belum ada sistem ekonomi alternatif, 2) ketika muncul sistem alternatif itu, psikologi masyarakat masih takut untuk berpindah dan terlanjur nyaman dengan kapitalisme.

Ekonomi Islam Sebagai Sistem Altenatif

Dunia pada saat ini, sangat sekali membutuhkan sistem ekonomi alternatif  untuk menggantikan ekonomi kapitalis. Dunia membutuhkan sistem ekonomi tanpa bunga dan yang lebih berperikemanusiaan. Melihat hal ini, tahun 1961 muncul sebuah gagasan para ekonom islam untuk membentuk lembaga keuangan islam (yang salah satu prinsipnya adalah ekonomi tanpa riba) yang ternyata disambut baik oleh seluruh dunia. Hingga saat ini aset yang dikelola oleh perbankan islam mencapai US$ 2.1 trliyun dan belum termasuk retail dan sektor usaha besar, dan sudah tersebar di 75 negara dipenjuru dunia dan tak hanya di negara muslim. Hal ini tentu adalah perkembangan pesat jika dilihat dari umur ekonomi islam itu sendiri, yang mana banyak yang mengatakan, sebenarnya ekonomi islam ini masih dalam tahap “janin”.

Di Indonesia, perkembangan ekonomi islam dimulai dengan didirikannya Bank Muamalat Indonesia (BMI). BMI adalah bank syariah pertama yang dibentuk tahun 1991 akan tetapi dilegalisasi pada tahun 1992 dengan pengesahaan UU  No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Pada masa awal berdirinya BMI bisa dikatakan tidak mempunyai greget dalam dunia perbankan Indonesia, sampai akhirnya BMI menunjukan taringnya pada tahun 1997 ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia yang salah satu penyebabnya adalah bank konvensional tidak mampu membayar bunga nasabah,. Ketika itu BMI menjadi bank yang mampu mengontrol dan menangai krisis ini ketika bank lain terpaksa gulung tikar. Krisis ini bahkan mengakibatkan,  Presiden Soeharto turun,14 bank dilikuidasi dan digabung menjadi satu, 38 bank ditutup 9 bank direkapitalisasi dan 7 bank diambil alih oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan satu bank, yaitu BMI berdiri melenggang mampu mengatasi krisis yang ada meskipun dengan usaha yang juga tidak mudah. Hingga tahun 2015, sudah terdapat 12 Bank Syariah (Bank Umum Syariah), 22 Bank Konvensional dengan layanan syariah (Unit Usaha Syariah), 163 Bank Pembiayaan Rayat Syariah (BPRS), dengan asset total 260,366 triliyun atau sekitar 5% dari asset perbankan nasional.

Kesimpulan dan Penutup

Bank syariah sudah menunjukan kredibilitasnya, sekarang giliran kita untuk memperjuangkannya. Dalam setiap perjuangan, ada tiga tipe orang. Pertama adalah pejuang, kedua adalah musuh, dan yang ketiga adalah yang memilih diam. Penulis yakin bahwa pembaca pasti bukanlah musuh dalam perjuangan sistem ekonomi syariah, oleh karena itu, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama memperjuangkan ekonomi syariah ini dengan kadar kemampuan masng-masing. Mari mulai dengan bertransaksi dengan menggunakan bank syariah dengan niatan menjauhi riba. Jikapun masih memperlukan bank konvensional, cukup dijadikan sebagai lalu-lintas keuangan saja, dan bukan untuk menyimpan uang. Dengan begitu semoga usaha dan hidup kita menjadi lebih berkah. Karena bagi seorang muslim, usaha bukan melulu soal untung dan rugi, tapi juga keridhoan Allah dengan keberkhan yang menyertainya. Wallahu a’lam bishshawab.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com