Bu Rika, Ikut Kajianmu karena Ingin Bisa Baca Al Qur’an

Oleh : FM. Ulya

Membaca kitab suci Al Qur’an adalah kebutuhan bagi setiap muslim. Lebih-lebih jika berusaha memahami makna dan kandungan dari ayat yang di baca.  Tak terkecuali Bu Rika, salah seorang jamaah Kajianmu di Argorejo, Sedayu, Bantul. Wanita pemilik nama lengkap Rikawati Ristyawardani ini telah menjadi jamaah Kajianmu sejak bulan Februari 2018.

Bu Rika sedang membuat pesanan jajanan pasar di dapurnya yang tampak sederhana.

Awal Mula Ikut Kajianmu

Ajakan mengikuti Kajianmu datang dari tetangganya yang juga sudah aktif mengikuti Kajianmu. Ajakan yang pertama dan kedua ditanggapi oleh Ibu satu anak ini dengan tidak begitu antusias. Baru setelah ajakan yang ketiga kalinya, ia memantapkan diri untuk berangkat pengajian. Awalnya ia merasa malu karena masih belum bisa membaca Iqro’ dengan lancar.

“Ya saya bilang Mbak ke Bu Indra (tetangga yang mengajak) kalau saya mau berangkat Kajianmu nanti setelah saya bisa baca huruf hijaiyah. Saya malu orang belum bisa baca. Tapi kata Bu Indra, niat baik itu disegerakan nggak perlu di tunda-tunda. Yasudah akhirnya saya berangkat.” Jelasnya.

Keputusan Bu Rika untuk berangkat di sore itu ternyata membuat hatinya nyaman dan sreg dengan pengajian di Kajianmu karena ngajinya simpel dan menyenangkan.

Seorang Muallaf

Wanita kelahiran 19 September 1978 ini adalah seorang Muallaf. Ia mengucapkan dua kalimat Syahadat pada usia 20 tahun. Sejak kecil Bu Rika di didik oleh orangtuanya untuk menjadi nasrani yang taat. Ia di sekolahkan di sekolah kesusteran dan menjadi putra altar pendeta. Bahkan saat remaja ia juga aktif di organisasi Muda-Mudi Katholik (Mudika).

“Saya dulu hidup di lingkungan nasrani Mbak. Tapi setelah ayah saya meninggal, keluarga pindah ke Malang, Jawa Timur. Sejak saat itu saya tinggal bersama dengan keluarga besar Ibu saya yang semuanya Islam.” Tutur Bu Rika

Perpindahan dari Yogyakarta ke Malang membuat Bu Rika lebih mengenal Islam. Apalagi seluruh saudara-saudaranya adalah muslim. Ia menceritakan bagaimana dahulu saat semua saudaranya sedang merayakan lebaran, sholat ‘Ied, sholat Tarawih bersama- sama ke masjid sedangkan dirinya hanya di diam di rumah, Bu Rika merasa sedih. Perlahan, Ia belajar tentang Islam dengan menanyakan kepada Kakak sepupunya, membaca buku-buku tentang Islam dan mengamati saudara-saudaranya menjalankan Ibadah. Hingga pada suatu malam, Ia sering bermimpi mendirikan sholat. Akhirnya wanita yang sekarang berusia 40 tahun ini memberanikan diri untuk mengatakan ke Ibu dan saudaranya bahwa ia ingin memeluk agama Islam. Niat Bu Rika pun disambut dengan penuh syukur dan haru dari seluruh keluarga besarnya di Jawa Timur.

“Saya waktu itu masuk Islam jam 3 sore pas besoknya hari pertama bulan Ramadhan. Saya dipanggilkan Ustadz oleh keluarga besar dan saat itu Kakak kandung saya juga ikut masuk Islam. Kata Ustadznya waktu itu, saya masuk Islam di bulan Ramadhan itu suatu berkah dari Allah SWT, dosa-dosa saya yang dulu di hapus, kembali seperti bayi yang baru lahir. Akhirnya saya menangis dan semua keluarga besar yang menyaksikan juga ikut menangis.” Kenang Bu Rika sembari berlinangan air mata.

Ikut Kajianmu karena Ingin Bisa Baca Al Qur’an

Setelah menikah, Bu Rika berpindah ke Yogyakarta mengikuti pekerjaan suaminya. Saat ini, Ia dan keluarga kecilnya tinggal di daerah Argorejo, Sedayu, Bantul. Sehari-hari ia membuat kue-kue kecil/ jajanan pasar untuk memenuhi pesanan. Wanita berkacamata ini merasa bersyukur bisa hidup di lingkungan yang mendukung ia dan suaminya untuk belajar agama. Apalagi sekarang ia sudah aktif mengikuti pengajian di Kajianmu. Ajakan tetangganya untuk ikut Kajianmu ternyata membuat Bu Rika merasa candu. Ia merasa gelo jika tidak berangkat Kajianmu yang dilakukan setiap Sabtu sore.

“Waktu saya berangkat Kajianmu pertama kali saya masih belajar a..ba..tapi Alhamdulillah, ternyata disana saya nggak malu. Dari rumah itu saya udah niatkan bahwa saya harus bisa baca Al Qur’an. Saya berfikir, kenapa Simbahnya suami saya itu orangnya nggak bisa baca tulis tapi bisa baca Al Qur’an, kok aku ini yang bisa baca tulis malah nggak bisa !?. Berarti kan saya harus belajar tho.. ya, itu di Kajianmu itu.” Papar Bu Rika dengan semangat.

Meskipun Bu Rika juga tidak menafikkan bahwa pinjaman modal dan pendampingan usaha yang diberikan Kajianmu juga dirasakan manfaatnya oleh beliau. Namun, tujuan paling utamanya adalah ingin bisa membaca Al Qur’an. Semangat wanita paruh baya ini untuk bisa membaca Al Qur’an telah membawanya sampai di Iqro’ 3 dari awalnya masih bingung dalam mengenal huruf hijaiyah.

Bu Rika sedang mengulang membaca Iqro’ secara mandiri di rumah sembari menunggu anak pulang sekolah.

“Apalagi di Kajianmu itu, pertama, selain memberi pinjaman, terus terang saya ingin belajar bisa baca Al Qur’an nya Mbak. Kedua, cara pengajarannya itu yang enak, dan yang ketiga, saya ingin hidup tanpa riba. Saya ingin hidup damai tanpa riba. Saya tuh merasa rugi, eman kalau nggak berangkat. Pas hari Sabtu yang lalu saya nggak berangkat itu saya mikir, aduh apa nggak apa-apa ya kalau saya berangkat terlambat..gitu. Pulang dari pengajian itu rasanya kayak hp habis di isi baterai itu lho Mbak.” Lanjut Bu Rika.

Bu Rika juga merasa bersyukur karena dengan adanya pendampingan usaha Kajianmu, pesanannya semakin banyak. Ia mengungkapkan bahwa omset bulan Oktober 2018 ini adalah tertinggi dari sebelum-sebelumnya yang mencapai Rp. 800.000. Selain itu, pinjaman yang di dapatkan dari Kajianmu digunakan untuk menutup pinjaman Dasa Wisma yang menurutnya mengandung unsur riba. Wanita yang dahulu pernah menjalankan usaha Kerupuk Ikan dan Stik ini pun berharap agar Kajianmu bisa terus ada sehingga ia sampai bisa membaca Al Qur’an dengan lancar. Amiin

InsyaAllah ya Bu…semoga berkah rahmat Ilahi senantiasa mengiringi tiap-tiap upaya kita semua !.

Perlahan Berhenti dari Riba

Oleh : Rino Dwi Cahyono – Relawan Kajianmu

Yogyakarta, 27 Oktober 2018.

Ibu Widayah Sarmudyah Hastaningrum atau akrab disapa Bu Ningrum adalah salah satu jamaah Kajianmu di majelis Griya Kencana Permai (GKP), Sedayu. Sehari-hari Bu Ningrum berjualan makanan dan minuman di kantin SMP N 7 Yogyakarta. Bu Ningrum berjualan bersama dengan suaminya. Beliau telah mengikuti Kajianmu sejak Januari 2018 hingga sekarang tetap istiqomah datang Kajianmu setiap Sabtu sore.

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan Bu Ningrum. Usut punya usut, beliau pernah meminjam uang di salah satu bank konvensional untuk modal usahanya. Pinjaman pertama di tahun 2011 sejumlah Rp 10.000.000,  diangsur selama 36 bulan atau setara dengan 3 tahun.  Setelah pinjaman pertama selesai, Bu Ningrum meminjam lagi di bank yang sama senilai Rp 15.000.000 dan diangsur dalam durasi waktu yang sama yakni 36 bulan dan baru akan selesai Mei 2019 mendatang.

Seiring dengan mengikuti pengajian seminggu sekali di Kajianmu, Bu Ningrum semakin paham bahwa pinjaman di bank konvensional termasuk riba. Di dalam nash agama telah dijelaskan bahwa yang menerima riba, yang memberi riba, yang mencatat riba, dan termasuk saksi pun terkena dosa riba. Setelah mengetahui tentang riba, beliau berniat secara sungguh-sungguh untuk meninggalkannya. Berupaya untuk melunasi sedikit demi sedikit pinjaman yang mengandung riba, termasuk pinjaman beliau di PKK dan Dasawisma yang sedikit banyak terdapat unsur ribanya.Semakin kuat mempelajari Islam, Bu Ningrum mengaku semakin banyak pula petunjuk Allah yang ia dapatkan.

Saya terigat, Bu Ningrum pernah bercerita pada saya tentang kisah yang paling mengesankan bagi beliau. Suatu hari, wanita kelahiran Yogyakarta, 28 Agustus 1965 ini meminjam uang kepada salah seorang teman. Pinjaman tersebut sudah berlangsung sangat lama. Ia ingat jika masih memiliki hutang temannya. Kemudian, beberapa waktu lalu wanita 53 tahun ini menghubungi teman tersebut. Ia berniat ingin mengatakan kepada temannya bahwa saat ini belum bisa melunasi uang yang pernah ia pinjam. Namun, tanpa di duga-duga temannya malah menjawab, “Hutang apa ?, kamu sudah tidak punya hutang sama saya…”. Bu Ningrum merasa bersyukur, bahwa pertolongan Allah SWT sangatlah dekat. Di saat Ia baru berupaya untuk mengkonfirmasi hutangnya pada teman, saat itu pula tangan-tangan Allah SWT menunjukkan kuasanya. Saya bahkan merinding mendengar kisah tersebut !.

Cerita pun berlanjut, flashback bagaimana Bu Ningrum menemukan Kajianmu. Beliau mengatakan bahwa informasi tentang Kajianmu didapatkannya dari membaca poster Kajianmu di Bogamart, Toko Frozen Food yang berlokasi di Pertigaan Kemusuk, Argomulyo, Sedayu.

“Sore itu saya mau beli bahan-bahan buat jualan di kantin, terus ada poster tulisannya, Kajianmu: Wujudkan Yogyakarta Bebas Rentenir. Lalu saya dekati poster itu dan saya baca dengan seksama.” Tutur Bu Ningrum.

“Mungkin ini solusi yang datang dari Allah, Kok ada ya pinjaman tanpa bunga, tanpa jaminan, yang penting datang pengajian seperti ini ?.” Gumamnya dalam hati.

“Kemudian saya langsung simpan nomor kontak yang tertera dan saya hubungi setelah sampai di rumah.” Lanjut Bu Ningrum dengan muka berseri-seri.

20 Januari 2018 adalah hari pertama kalinya wanita paruh baya yang juga menjalankan usaha pesanan nasi box dan tumpeng ini mengikuti Kajianmu. Beliau mengaji Al Qur’an dan menyimak apa saja syarat untuk dapat mengajukan pinjaman di Kajianmu. Satu hal yang paling diingat yakni beliau harus konsisten datang mengaji minimal 5 kali pertemuan kemudian baru bisa mengajukan pinjaman level pertama yaitu maksimal plafon Rp. 1.000.000. Pengajian setiap Sabtu sore diikuti beliau dengan istiqomah dan penuh semangat untuk belajar membaca Al Qur’an dan agar bisa mengakses pinjaman tanpa jaminan tanpa bunga dari Kajianmu. Singkat cerita, pinjaman pertama Bu Ningrum sebesar Rp 600.000 digunakan untuk menutup pinjamannya di PKK.

“Jujur saja ya Mas, saya dan Ibu-Ibu yang lain disini nyaman ikut Kajianmu. Kita ndak merasa melulu diceramahin tentang riba. Tapi kita juga riil langsung dikasih solusi. Enak ikut Kajianmu, belajar ngaji termasuk Tajwid, mendengarkan kultum, bisa pinjam lagi, nggak pakai bunga, nggak pakai jaminan…” Paparnya.

Setelah rutin berangkat Kajianmu, wanita yang tinggal di Perumahan Pesona Alam, Argorejo, Sedayu, Bantul ini mengaku menjadi rajin membaca Al Qur’an dibandingkan sebelumnya.

“Kalau nggak baca Al Qur’an sehari itu kayaknya ada yang kurang gitu Mas.” Ungkapnya sambil tersenyum.

“Saya itu selalu menanti hari Sabtu lho… buat ngaji bareng, silaturrahmi di Kajianmu, dan kebetulan hari sabtu itu waktu yang pas banget bagi saya. Jadi saya bisa sering ikut Kajianmu..Alhamdulillah.”Ucapnya dengan penuh rasa syukur.

Sampai sejauh ini, Bu Ningrum sudah berangkat mengaji sebanyak kurang lebih 36 kali pertemuan. Sekarang beliau sedang mengajukan pinjaman level lanjut sebesar Rp. 3.000.000 untuk menambah modal usaha di kantin yang dikelolanya.

Hari sudah mulai gelap dan jam dinding menunjukkan 10 menit untuk tiba waktu Magrib. Semoga pengajian dan pinjaman Kajianmu bermanfaat, bisa terus membantu Ibu-Ibu pemilik usaha kecil untuk mengembangkan usahanya serta  menghindarkan mereka dari riba.

Terimakasih Bu Ningrum telah berbagi cerita…

Bagaimana Cara Menuntut Ilmu yang Diajarkan Para Ulama Salaf?

Oleh : Alda Kartika Yudha

Imam Syafi’i mengatakan, bahwa ada enam hal yang harus dimiliki oleh para pencari ilmu, yaitu: Kecerdasan, Kerakusan dalam menuntut ilmu, Kesungguhan, Bekal (harta), Bimbingan guru, dan Waktu yang panjang.

Doc: google.com
  • Kecerdasan

Semua hamba yang mempunyai akal pasti mempunyai kecerdasan, dan kecerdasan masing-masing manusia tentunya berbeda-beda. Tapi yang perlu menjadi perhatian adalah,  bahwa kecerdasan disini hanyalah sarana (alat) dan bukan tujuan. Sebagai hamba, kewajiban kita adalah berusaha keras untuk mencari ilmu, bukan untuk menjadi orang yang pintar. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada kita “Bacalah!”, dan tidak mewajibkan kita untuk “Pintarlah!”. Pintar  adalah hasil yang dikaruniakan oleh Allah untuk kita yang salah satunya lewat sarana kecerdasan. Sedangkan kewajiban kita adalah memanfaatkan kecerdasan itu, semaksimal kita.

  • Kerakusan dalam menuntut ilmu

Kerakusan disini memiliki makna istikamah atau berterus-terusan dalam menuntut ilmu. Dalam perihal membaca kitabnya, menghafalnya, mempelajarinya, menuntut ilmu, dan sebagainya. Sebagai contoh, Imam Bukhari ketika ditanya tentang kekuatan hafalannya, beliau menjawab bahwa hal itu dikarenakan seringnya beliau dalam membaca dan murâjaah kitab.

  • Kesungguhan para ulama

Dalam perihal kesungguhan dalam menuntut ilmu, Syekh Ali Jum’ah bercerita bahwa Imam Nawawi pengarang kitab Arba’în al-Nawawiyah, Syarah Shahih Muslim, al-Majmu’, Raudhah al-Thâlibin, dan lainnya. Setiap hari beliau belajar 12 jenis ilmu. Imam Nawawi juga sangat jarang sekali tidur dengan sisi tubuhnya, beliau tidur dalam keadaan duduk selama dua tahun. Bahkan karena kesungguhan dan pemanfaatan waktunya untuk belajar, dalam perkara makan pun beliau disuapi oleh ibunya. Karena kecintaanya pada ilmu juga, imam Nawawi sampai tidak menikah. Beliau sangat kurus, hingga pernah ada yang tidak yakin bahwa beliau adalah imam Nawawi, karena dia fikir sang imam pastilah berbadan subur dan besar.

Contoh lainnya, dalam buku Shafahât min Sabri al-Ulama, Abdul Fatah Abu Ghudah menceritakan tentang kesabaran dan juhud para ulama dalam menuntut ilmu. Beberapa contohnya adalah Sa’id bin Musayyab yang pernah melakukan perjalanan berhari-hari demi mendapat satu hadis saja.

Ibnu Muqri’ bin Ali juga pernah menceritakan bahwa dirinya, al-Tabrani dan Abu Hayyan pernah menuntut ilmu di Madinah. Waktu itu mereka kehabisan bekal sehingga mereka akhirnya berpuasa wishâl (puasa setiap hari, tanpa jeda). Ketika datang waktu isya’, Ibnu Muqri’ mengaduh karena lapar yang sangat, sembari menyebut nama Rasulullah Saw. Al-Thabrani berkata: “Duduklah, karena pilihannya hanya dua, jika tidak datang rizki maka akan datang kematian! Kemudian Ibnu Muqri’ dan Ibnu Hayyan memutuskan untuk mendirikan salat. Tiba-tiba datang seseorang bersama dua anak kecil membawa keranjang makanan dan berkata: “Kalian mengadu kepada Rasulullah, dan Rasulullah datang ke dalam mimpiku agar membawakan sesuatu untuk kalian”.

  • Bekal

Sebagai contoh konkrit dalam permasalahan ini adalah kisah Yahya bin Ma’in, seorang ulama jarh wa ta’dil yang merupakan guru dari Imam Bukhari dan Muslim, dan guru ulama hadis lainnya. Beliau pernah mendapat warisan dari ayahnya senilai 1.050.000 dirham, yang mana semua itu beliau gunakan untuk belajar ilmu hadis, hingga tidak tersisa untuk beliau meskipun hanya sebuah sandal.

Mengenai hal ini Syekh Ali Jum’ah juga berkata: Berikan pada ilmu apapun yang kau punya, maka dia (ilmu) akan memberimu sebagian darinya”.  Lalu apa yang akan diberikan ilmu pada kita, jika kita pelit atau tidak mempunyai apa-apa sebagai bekal untuk menuntut ilmu?!

  • Bimbingan Guru

Pentingnya guru dalam menuntut ilmu tidak ada yang dapat memungkiri. Tanpanya, meskipun seorang murid sangat rajin membaca buku, pemahamannya bisa jadi salah atau tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pengarang kitab. Dalam konteks ajaran agama, pemahaman  seseorang terhadap teks al-Quran dan sunnah (meskipun terihat benar) bisa jadi tidak sesuai dengan pemahaman Nabi Muhammad Saw. Hal ini sering sekali terjadi pada zaman ini, seseorang dapat menganggap dirinya berada dalam kebenaran, sedangkan cara pandang lainnya adalah faham yang sesat.  Salah satu sebab terjadinya hal ini adalah banyak orang yang meremehkan peran guru, lalu belajar sendiri dari buku (kitab), lalu berfatwa kesana kemari. Pun banyak juga yang menjadikan seseorang sebagai guru, padahal orang tersebut hanya belajar sendiri tanpa mempunyai guru.

Syekh Ali Jum’ah menambahkan, bahwa dalam menuntut ilmu ada yang dinamakan sebagai Rukun Ilmu, yaitu guru, murid, kitab, manhaj (metode), dan lingkungan ilmiah. Syekh Usamah Sayyid al-Azhari juga mengatakan, bahwa lima hal ini bagaikan dua sayap pada burung. Tidak boleh hilang salah satunya.

Dalam salah satu kuliahnya, Syekh Usamah pernah berbicara tentang pentingnya guru dan ketersambungan sanad keilmuan dalam ilmu agama. Beliau mengatakan bahwa ilmu agama ini adalah amanah agama, sehingga kita harus belajar dan mengambil ilmu dari seorang guru yang mempunyai sanad (rantai periwayatan). Maksudnya adalah seorang guru yang belajar dari seorang guru juga, dan guru dari guru ini belajar juga dari seorang guru, dan begitu seterusnya, hingga guru dari guru-guru ini tadi diketahui belajar dari para sahabat dan para sahabat belajar dari Nabi Muhammad Saw.

Beliau menambahkan, bahwa orang yang belajar ilmu agama pada seorang ulama yang tidak memiliki sanad keilmuan (atau sanadnya terputus) hingga Rasulullah itu hakikatnya yatim dalam ilmu agama, seolah ilmunya tidak berayah. Tidak dibenarkan seseorang hanya membaca dan memahami buku agama tanpa seorang guru yang sanad ilmunya tersambung sampai Rasulullah, karena bisa jadi pemahaman yang dimilikinya akan berbeda dengan pemahaman yang diajarkan Rasulullah pada para sahabat.

Dari perkataan Syekh Usamah tersebut dapat dipahami bahwa hakikatnya ilmu agama ini adalah amanah yang diserahkan dari Rasul kepada sahabat, lalu dari sahabat kepada tabi’in dan seterusnya hingga sampai pada ulama zaman sekarang dengan sanad yang bersambung. Hal ini jugalah yang seharusnya diterapkan dan dipahami oleh siapa saja yang mengatakan bahwa dirinya ingin kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Tidak tepat ketika seseorang berkata “kita kembali kepada Al-Quran dan Sunnah”, tetapi tidak memiliki guru yang tersambung sanad keilmuan dan pemahamannnya hingga Rasulullah Saw., apalagi hanya membaca sendiri dari sahih bukhari atau maktabah Syamilah. Bisa jadi itu bukan “kembali kepada al-Quran dan sunnah”, akan tetapi justru kembali kepada hawa nafsu sendiri. Karena meskipun al-Quran dan Sunnah itu maksum, tetapi pemahaman kita pada Quran dan sunnah tidaklah maksum. Maka ketersambungan sanad ini sangat diperlukan sekali. Dengan bersambungnya sanad sampai pada Rasul, maka bisa dikatakan bahwa pada hakekatnya kita langsung belajar pada Rasulullah, dengan perantara para ulama. Dengan begitu, pada hakikatnya kita benar-benar kembali kepada al-Quran dan Sunah sesuai manhaj Nabi Muhammad Saw.

Mengenai pentingnya sanad ini, dalam mukadimah Shahih Muslim, Ibnu Mubarak mengatakan: “Jika bukan karena sanad, maka siapapun bisa mengatakan apapun.” Begitulah pentingnya sanad, oleh karenanya hal ini tidak boleh disepelakan oleh seorang yang ingin mencari kebenaran dalam Islam.

  • Waktu yang panjang

Beberapa cerita mengenai juhud ulama yang telah disampaikan di atas menunjukkan bahwa para ulama sangat mengerti; seseorang yang menuntut ilmu itu tidak bisa hanya dengan proses sehari dua hari lalu abrakadabra dan jadilah ulama atau mujtahid. Bahkan untuk mempelajari satu jilid dari kitab al-Mughni karangan Ibnu Qudamah saja, syekh Ali Jum’ah membutuhkan waktu lebih dari 40 tahun! Hal ini juga menjadi anjuran agar tidak terburu-buru dalam menuntut ilmu, karena terburu-buru dalam menuntut ilmu hanya akan mengantarkan kita pada setan dan kebodohan.

Sebagai sindirian bagi mereka yang menganggap dirinya ulama padahal sejatinya termasuk juhalâ (orang-orang bodoh) disebabkan karena kilatnya dalam menuntut ilmu, Syekh Muhammad Ghazali dalam kitabnya al-Sunnah al-Nabawiyah Baina Ahlu Fiqh wa Ahlul Hadits pernah mengatakan “Saya mempunyai tujuan (cita-cita) untuk memurnikan sunnah nabawiyah dari hal-hal yang mencampurinya, juga menjaga keilmuan islam dari orang-orang yang menuntut ilmu pada hari sabtu, kemudian mengajarkannya pada hari ahad, lalu mengambil gelar professor pada hari senin, dan pada hari selasa mereka berdebat dengan para Imam besar seraya berkata: “nahnu rijal wa hum rijal” (kita ulama dan mereka juga ulama).”

Begitulah kiranya bagaimana para ulama terdahulu berusaha keras dalam menuntut ilmu dan tidak hanya menjadikannya sebagai pekerjaan sambilan. Orang yang berilmu adalah kunci kemajuan semua peradaban, begitu juga peradaban Islam, pun kemunduranya. Sebab lain adalah banyaknya para jahil yang kemudian mengaku sebagai pemimpin dan ulama. Mereka yang jahil ini kemudian berbuat kezaliman atau fatwa sembarangan secara sadar ataupun tidak, dan dengan lantang mengatasnamakan diri mereka Islam yang haq, Islam yang sebenarnya. Mereka telah sesat juga menyesatkan.

Hal ini sesuai sabda Nabi 1500 tahun silam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya dengan cara sekali cabut, akan tetapi dengan memwafatkan para ulama. Sehingga ketika tidak ada lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat lagi menyesatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Konfirmasi  donasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu) atau melalui e-mail di kajianmuid@gmail.com.

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Ilmu dan Ulama Dalam Islam

Oleh : Alda Kartika Yudha

Doc: google.com

Syekh Ali Jum’ah (Mantan Mufti Mesir) pernah mengatakan bahwa tugas manusia sebagai khalifah Allah di dunia ini ada tiga; Ibadah kepada Allah, Memakmurkan atau membangun dunia, dan Mensucikan diri. Dari semua tugas ini ada satu hal yang dibutuhkan dan tidak dapat dilepaskan dari ketiga hal tersebut, yaitu Ilmu.

Ilmu tidak akan terlepas dari segala aspek kehidupan. Orang berilmu pasti akan selalu menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang awam. Semua orang sadar akan pentingnya ilmu dan ulama. Lalu bagaimana hakikat ilmu dan ulama dalam islam?

Ulama dan Keistimewaannya

Dalam kitab Tadzkirah as-Sâmi’ wa al-Mutakallim karya Qadhi Badrudin bin Jama’ah, beliau menyebutkan banyak sekali keistimewaan seorang ulama. Beliau mengambil ayat-ayat al-Quran, hadis Nabi, maupun perkataan para sahabat dan ulama, ketika menjelaskan keistimewaan seorang yang bergelar ulama. Beberapa diantaranya adalah firman Allah yang berbunyi:

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang  beriman diantara kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat (al-Mujadalah: 11).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa keutamaan ulama itu 700 derajat lebih tinggi daripada mukmin biasa, dan jarak antara masing-masing derajat itu adalah 100 tahun. Termasuk hadis yang sudah tidak asing tentang keistimewaan ulama adalah hadis yang berbunyi: “Para ulama adalah pewaris para nabi.”(HR Tirmidzi).

Jamak diketahui bahwa tidak ada derajat yang lebih mulia di dunia ini daripada derajat kenabian. Akan tetapi Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir, maka derajat kenabian ini sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu derajat kemuliaan tertinggi yang bisa dimiliki oleh manusia sekarang adalah pewaris para nabi, yaitu mereka yang bergelar ulama. Dalam hadis yang diriwayatkan Daru Qutni, Nabi juga mengatakan bahwa satu ahli fikih (ulama) itu lebih dibenci oleh setan daripada 1000 ahli ibadah.

Senada dengan ayat dan hadis tentang keistemewaan ulama,  Abu Muslim al-Khulaini mengatakan bahwa ulama itu layaknya bintang di langit, ketika muncul, maka ia akan menjadi petunjuk jalan bagi manusia. Dan ketika hilang, maka manusia akan kebingungan. Begitu juga Aswad ad-Duali,  beliau menyatakan bahwa raja adalah hakim bagi manusia, dan ulama adalah hakim bagi raja.

Banyak sekali ayat quran, hadis, atsar yang menjelaskan keistimewaan orang yang bergelar ulama. Penulis diatas hanya menyebutkan beberapa saja. Tentunya gelar ulama ini tidak bisa diperoleh dengan mudah dan instan.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com