Apa itu Riba?

Oleh : Alda Kartika Yudha

Oleh para ulama, riba secara bahasa berarti tambahan, sedangkan secara istilah diartikan sebagai “segala pinjaman yang mendatangkan manfaat”. Mudahnya, ketika A mengatakan “aku berikan kamu pinjaman 1 juta, dan nanti kembalikan 1 juta plus pijitin aku”, maka pijit disini bisa menjadi riba. Riba tidak harus berbentuk uang, tapi juga bisa berbentuk barang atau jasa. Berbeda kasusnya ketika, “pijit” atau tambahan tadi diberikan dari peminjam sebagai hadiah dan bukan sebagai ketentuan yang disepakati dari awal. Jika diberikan sebagai hadiah, maka hal itu diperbolehkan.

            Ada beberapa jenis riba, yaitu riba yang terjadi dalam jual beli, dan riba yang terjadi dalam akad pinjam meminjam.

Riba Jual beli

            Riba jual beli terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:

  1. Riba Fadl, misalnya membeli 1 kilo kurma bagus dibayar dengan 1,5 kurma jelek. Syaratnya sejenis dan beda kualitas.
  2. Riba Yad, yaitu riba dalam transaksi dengan satu jenis barang yang dapat diperdagangkan dengan dua skema yaitu kontan dan kredit tanpa ketetapan harga. Contoh: harga mobil baru jika dibeli tunai seharga Rp. 100 juta, dan Rp. 150 juta bila mobil itu dibeli secara kredit dan sampai dengan keduanya berpisah tidak ada keputusan mengenai salah satu harga yang ditawarkannya. Berbeda dengan akad murabahah, yang harga barang tersebut sudah fix dan disepakati diawal, meskipun dibayar dengan cara mengangsur.

Riba dalam Pinjaman

  1. Riba Qardh: Mensyaratkan adanya tambahan ketika memberikan pinjaman. Contohnya, meminjam 10 juta, harus dikembalikan 11 juta..
  2. Riba Nasiah: ketika jatuh tempo, diberikan opsi, ingin dibayar atau diperpanjang (dengan tambahan biaya).

Bagaimana dengan Bunga Bank?

Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Bunga, menyatakan bahwa BUNGA BANK=RIBA. Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram, baik di lakukan oleh Bank, Asuransi,Pasar Modal, Pegadian, Koperasi, Dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.

Bolehkah Menggunakan Jasa Bank?

Boleh, dengan syarat bukan yang bersinggungan dengan riba. Contoh: transfer, beli pulsa, dll.

Bank Syari’ah

Bank syari’ah merupakan salah satu solusi atas permasalahan perlunya Islam untuk menerapkan sistem ekonomi Islam dan mendobrak sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Banyak yang menentang dan mengatakan bank syariah sama saja dengan bank konvensional yang mencari keuntungan dan bahkan jauh lebih banyak. Problematika tentang biaya dan bagi hasil yang lebih banyak tentunya adalah kebijakan masing-masing perbankan, akan tetapi dalam permasalahan “mencari keuntungan” tentunya kita semua paham bahwa dalam bisnis, tujuanya adalah memang untuk mencari keuntungan. Bedanya dengan bank konvensional, adalah tentang “bagaimana cara mencari keuntunganya?”.

Pun demikian, dalam pendapat penulis, bank syariah belum sepenuhnya 100% syariah. Hal ini karena bagaimanapun bank syariah sendiri harus menginduk dibawah BI yang menggunakan bunga. Meskipun demikian tak dapat dipungkiri bahwa bank syari’ah adalah solusi atas permasalahan bunga yang marak di masyarakat Indonesia ini, atau setidaknya bank syariah adalah upaya untuk mencari solusi daripada diam dan hanya bisa berdiri mengkritik tanpa melakukan apapun.

Ada beberapa dalil yang menguatkan tentang keharusan muslim menggunakan bank syariah, meskipun masih dalam tahap yang belum 100%, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kaidah mâ lâ yudraku kulluh lâ yutraku kulluh (jika kita tidak bisa mendapatkan semuanya, maka jangan ditinggalkan semuanya). Dalam praktiknya, lebih baik kita menggunakan bank yang hampir dan mempunyai itikad baik untuk bersyariah, dari pada yang tidak.
  2. Fikih tadriji (fikih berjenjang). Maksudnya adalah, seperti dalam pelarangan minum khamr yang tidak langsung haram sekaligus, akan tetapi perlu adanya jenjang dalam pelarangannya. Bayi tidak mungkin langsung disuruh untuk lari, akan tetapi harus merangkak dan terjatuh terlebih dahulu, sebagaimana bank syariah yang sedang diterapkan di Indonesia.
  3. Bank konvensional berbeda dengan bank syariah dalam permasalahan akadnya. Dalam Islam, beda akad, beda hukumnya, meskipun hasilnya sama. Hal ini sama seperti dalam permasalahan menikah dan berzina. Sama-sama berhubungan badan dan mempunyai keturuan, akan tetapi satunya bernilai ibadah, dan satunya bernilai dosa.
  4. Perbedaan bank syariah dan bank konvensional juga ada pada penerapan bagi hasil, bukan pada bunga yang fix.

Riba: nge-RIBA-nget

Oleh : Alda Kartika Yudha

Dalam Islam, ancaman untuk para pelaku riba sangatlah berat. Dalam QS al-Baqarah 278-279, Allah dan Rasulullah mendeklarasikan perang terhadap para pelaku riba.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُون

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (QS. Al-Baqarah: 278-279).

Lebih mengerikan lagi, dosa riba tidak hanya ditanggung oleh yang memakan riba saja, akan tetapi juga semua yang mempunyai andil dalam akad yang berkaitan dengan riba tersebut, mulai dari juru tulisnya dan saksi-saksinya. Hal ini sebagaimana hadis riwayat Muslim:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

dari Jabir dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, orang yang menyuruh makan riba, juru tulisnya dan saksi-saksinya.” Dia berkata, “Mereka semua sama.” (HR. Muslim).

Tidak hanya dalam agama Islam, seluruh agama samawi juga melarang sistem riba. Yahudi dengan Tauratnya (Exodus (22:24)), Nasrani dengan Bible-nya (Ezekiel (18:13), Paslms (15:5)), dan Islam (3:130), (30: 39). Tidak hanya agama, Aristoteles juga mengatakan bahwa mengambil riba adalah perbuatan yang salah. Para filusuf Yunani, menyamakan riba dengan kejahatan. Riba= Evil (Jahat).

Doc : google.com

Ancaman dan bahaya riba sudah jelas, akan tetapi pada kenyatanya banyak yang tidak memperdulikan hal ini. ancaman perang dari Allah dan Rasulnya seolah hanya nyanyian nina bobo belaka. Banyak yang beralasan, tanpa pinjaman maka tidak bisa mendirikan usaha, ada juga yang beralasan ingin menaikan taraf hidup, ada juga yang mungkin memilih berurusan dengan riba karena gengsinya. Semua alasan itu kemudian mengalahkan kenyataan bahwa Allah mengharamkanya dan melarangnya, dan bahkan memeranginya.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Konfirmasi  donasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu) atau melalui e-mail di kajianmuid@gmail.com.

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com