Tanya Jawab Kajianmu #3

Oleh : Alda Kartika Yudha

Bagaimana Setan Menyerang Kita ?

Manusia hidup mempunyai satu tujuan, yaitu ridha Allah SWT. Dalam mendapatkan ridhoNya, setiap manusia mempunyai musuh yang harus mereka lawan yaitu setan la’natullah ‘alaihim. Setan yang sudah ada sejak zaman nabi Adam AS ini terus-terusan tak bosan (dan tak akan pernah bosan) menggoda manusia agar bisa menjadi teman abadi mereka di neraka kelak. Mereka sudah belajar tips dan trik jitu menjerumuskan kita sejak zaman Nabi Adam AS. Ibarat gelar akademik, kaum tersesat ini sudah mendapatkan beribu-beribu gelar professor dalam bidang ke-neraka-an.

Bagi orang yang sedang berperang agar bisa memenangkan pertempuran hal pertama yang harus dilakukan adalah fokus (sadar dan tetap waspada disetiap saat). Berikutnya adalah mempunyai senjata  dan strategi untuk menghadapi mereka. Rasulullah SAW sudah meninggalkan dua hal berupa Al Qur’an dan Hadist yang didalamnya terdapat senjata dan strategi perang yang jitu dalam melawan setan. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Kemudian, yang perlu kita jadikan bekal berperang adalah pengetahuan kita tentang musuh dan strategi mereka.

Dalam kitab Madârij Assâlikîn karya Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwasanya setan memliki 7 jalan/ level untuk mengajak manusia agar abadi bersamanya di neraka.

doc: google.com

1) Jalan kekafiran. Inti dari jalan ini menjadikan kita kafir terhadap Allah. Jika sudah kafir, maka semua amal akan tertolak. Ini merupakan simbol dosa tertinggi, karena tidak ada dosa lagi setelah kafir.

2) Jalan bid’ah. Jika setan gagal merayu kita lewat jalan kekafiran maka mereka akan masuk lewat jalan ke-bid’ah-an. Bid’ah merupakan sesuatu hal yang baru dalam ibadah wajib yang tidak diajarkan oleh Rasululah SAW. Termasuk didalamnya adalah percaya pada benda-benda yang bersifat mistik yang bisa berujung pada khurafat.

3) Jalan dosa besar. Berikutnya mereka akan menggoda kita untuk melakukan dosa besar. Misalnya, zina, minum khamr, menyuap dll. Yang mengkhawatirkan dari perilaku dosa besar ini adalah bahwa jarak antara dia dan kekufuran hanyalah satu jengkal saja. Maksudnya, orang yang sudah terbiasa dengan dosa besar, ketika mereka tertimpa musibah, mereka rentan untuk terjerumus pada kekafiran, sebagaimana ada kemungkinan mereka akan bertobat karena musibah tersebut.

4) Jalan dosa-dosa kecil. Misalnya, menyentuh wanita, lepas jilbab, menggunjing, dll. Setan akan berusaha meyakinkan manusia dengan dalih bahwa dosa kecil akan gugur dengan melakukan shalat dengan dalil hadist nabi bahwasanya diantara dua shalat itu ada pengguuran dosa bagi yang melakukan shalat. Sepintas, apa yang dikatakan setan ini jelas benar. Akan tetapi maksud dari setan sendiri itu tak lebih dari sebuah kebatilan. Ditambah lagi, dosa besar manusia cenderung mengingat bahkan mungkin hingga hari kiamat. Akan tetapi dosa-dosa kecil, karena kita sering meremehkan, bisa jadi di akhirat kelak dosa kita seudah menumpuk tak terkira.

5) Menggoda kita untuk melakukan banyak hal yang mubah (dibolehkan), hingga membuat kita lalai dalam perkara sunah atau bahkan wajib. Misalanya, tidur yang banyak hingga kita susah shalat tahajud, atau makan yang banyak, hingga kita menjadi malas.

6) Jalan ketaatan. Yaitu dengan cara membuat kita sibuk dengan ketaatan yang keutamaan sedikit, supaya kita lali dengan ketaatan yang pahalanya lebih besar. Misalnya, setan akan membuat kita sibuk shalat di rumah hingga kita melupakan shalat berjamaah di masjid. Atau menyibukkan kitadalam shalat tahajud yang kemudian membuat kita ketiduran untuk melakukan shalat subuh.

7) Jika jalan ke enam-pun mereka gagal, setan sudah tidak bisa menggoda manusia lagi. Yang tersisa adalah gangguan dari prajurit-prajurit mereka yang sudah tersebar dalam bentuk manusia dan jin. Oleh karena itu dikatakan bahwa orang yang mendapatkan cobaan terberat adalah para nabi, kemudian orang soleh, kemudian yang dibawahnya. Semakn mereka soleh, semakin mereka akan mendapatkan cobaan/gangguan yang berat dari golongan jin dan manusia.

Al-Ghazali menambahkan, tidak semua dosa berasal dari bisikan setan. Bisa jadi itu berasal dari diri kita sendiri. Buktinya adalah, setiap Bulan Ramadhan, masih saja ada orang yag berbuat maksiat padahal setan sedang dibelenggu. Untuk membedakannya, keinginan melakukan maksiat yang datangnya dari setan, sedikit banyak bisa hilang dengan memperbanyak membaca ta’awudz. Yang kedua, perbuatan buruk yang sudah menjadi kebiasaan kita merupakan dosa yang berasal dari diri kita sendiri, bukan bisikan setan. Contohnya ketika manusia merokok. Awal-awal manusia memiliki keinginan merokok, hal itu datangnya dari setan, namun setelah merokok selama satu tahun, maka perbuatan jelek itu datangnya bukan dari setan lagi, melainkan diri kita sendiri.

Setelah mengetahui hal ini, tugas kita sekarang adalah mengidentifikasi dijalan/level mana setan menggoda kita. Berikutnya, tergantung usaha untuk belajar dan melatih diri dalam menjaga hawa nafsu (mujahadah nafs) agar kita bisa naik ke level yang lebih tinggi. Semoga kita senantiasa selalu dalam lindungan Allah SWT. Wallahu a’lam bisshawab.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Konfirmasi  donasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu) atau melalui e-mail di kajianmuid@gmail.com.

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com