Bu Tuti, Berani Buka Laundry Sendiri

Bu Tuti, Berani Buka Laundry Sendiri

Oleh: FM. Ulya

Keputusan adalah hal paling penting yang mengarahkan langkah kita mengarungi hidup ini. Keputusan untuk berani melakukan sesuatu atau tidak beserta seluruh konsekuensinya. Begitu pula keputusan yang telah ditetapkan oleh Ibu Sudi Astuti. Sudah dua tahun wanita 36 tahun ini membuka usaha laundry.

Gbr. 1 Bu Tuti berada di depan rumahnya yang sekaligus sebagai usaha laundry dengan nama “DHEA Laundry”.

Wanita yang biasa disapa Bu Tuti ini menjalankan usaha laundry di rumahnya, yang berada di daerah Bakal Pokok, Argodadi, Sedayu, Bantul. Sehari-hari ia fokus mengurusi usaha yang kian hari semakin membuat Bu Tuti semangat untuk mengembangkannya. Bu Tuti adalah salah satu jamaah Kajianmu yang berlokasi di Masjid Mujahidin, Bakal Pokok.

Membuka Usaha Laundry

Bu Tuti adalah wanita asli Sentolo, Kulonprogo yang menikah kemudian tinggal di rumah suaminya di Bakal Pokok. Sebelum membuka laundry di rumah, Bu Tuti bekerja sebagai buruh cuci dan setrika baju di laundry milik orang. Namun karena usia Ibu satu anak ini masih muda sehingga muncul benih-benih keberanian untuk memulai usaha sendiri.

Modal awal istri dari Bapak Hendri Yanto ini berupa pinjaman dari koperasi yang digunakannya untuk membeli mesin cuci. Selain itu, keterampilan Bu Tuti selama bekerja di laundry milik orang lain adalah modal berharga tak ternilai untuk menjalankan usaha tersebut.

Gbr. 2 Mesin cuci yang digunakan Bu Tuti untuk melayani pelanggan.

“Dulu saya pinjam di koperasi KSP sebanyak Rp. 5 juta terus sudah selesai. Nah, kemarin pinjam lagi buat beli mesin cuci yang ini, yang otomatis sekalian pengeringnya. Terus saya dulu kan pernah kerja di laundry punya orang terus saya keluar dari sana buka sendiri di rumah.” Ungkap Ibu Tuti.

Dengan modal awal berupa pinjaman dan ketampilan tersebut, kini setelah memasuki tahun ketiga usaha semakin berkembang. Perkembangan tersebut tampak pada banner yang bertuliskan “DHEA Laundry” terpampang di genteng teras dan juga sambungan atap untuk mengangin-anginkan baju laundry-an. Tak hanya itu saja, Bu Tuti juga sudah berinisiatif membuat brosur dan melayani jemput laundry.

“Saya kan bikin ini lho Mbak..tapi masih salah. Brosur ini tapi salah buat tak sebar. Disini kan banyak ngontrak-ngontrak, ngekos gitu. Tapi itu salah nulisnya, harusnya cuci jadi cucu. Kalau orang nanya ya cuma ya itu cuci maksudnya. Ini saya menyebarkan baru dapat 1 orang tadi orangnya kesini.” Cerita Bu Tuti sambil tertawa

Manfaat Kajianmu

Wanita kelahiran Kulonprogo, 16 Oktober 1983 ini sudah mengikuti Kajianmu sejak awal dibukanya di Masjid Mujahidin, Bakal Pokok. Dari sisi kehadiran mengaji, ia termasuk jamaah yang rajin berangkat meskipun cuaca terkadang tidak menentu. Selain belajar membaca Iqro’/Al Qur’an bersama dengan relawan Kajianmu, Bu Tuti juga merasakan manfaat dari Kajianmu yakni pinjaman modal. Untuk pencairan yang paling awal, ia mendapatkan pinjaman modal usaha sebanyak Rp. 500.000.

“Iya ada manfaatnya. Ya bisa belajar ngaji terus dapat pinjaman juga nggak pakai bunga dan jaminan. Itu uangnya kemarin saya pakai untuk beli atap (atap plastik panjang) buat nampung jemuran laundry agar tidak kehujanan. Kemarin dapatnya Cuma Rp. 500.000 jadi ya baru bisa buat bikin itu aja. Kemarin rencana mau bikin rumah-rumahan, kalau semisal ditinggal itu kan biar aman. Ya namanya tinggal di desa Mbak, kan nggak tau ya diambil atau apa. Semoga besok bisa dapat pinjaman lebih besar. ” Papar Bu Tuti

Gbr. 3 Pinjaman dari Kajianmu digunakan untuk membuat tambahan atap sebagai tempat jmenjemur/menganginkan baju laundry.

Ia pun berharap bahwa usaha laundrynya dapat semakin berkembang dan semakin ramai pelanggan.

“Ya saya berharap semoga lancar, banyak konsumen masuk..pelanggan masuk. Kalau pas banyak gitu kan sudah ada teman yang bantu menyetrika.” Lanjut Ibu berkulit sawo matang tersebut.

Godaan Bank Plecit

Bu Tuti tidak menafikkan jika dirinya memiliki pinjaman di koperasi yang digunakannya untuk membeli mesin cuci. Ia pun memiliki tabungan yang dititipkannya kepada tukang mendreng yakni setiap kali tukang mendreng tersebut datang, Bu Tuti biasa menitipkannya sebanyak Rp. 10.000.

“Iya nabung itu biasanya nitip di mendreng itu lho Mbak, nabung Rp. 10.000.” Ungkap Bu Tuti

Selain mendreng yang menyambanginya di rumah, bank-bank plecit pun tidak mau kalah. Bu Tuti menuturkan bahwa dirinya ditawari berkali-kali untuk mengambil pinjaman di bank plecit tersebut. Seakan mereka tidak mengenal lelah untuk selalu menawari lagi dan lagi saat berkeliling dan bertemu Bu Tuti. Biasanya bank plecit akan gencar menawarkan jasa  pada Ibu-Ibu yang sekiranya memiliki usaha cukup berjalan.

“Sering Mbak saya ditawari buat ngambil, kadang itu lewat sini nawari saya. Itu kan kalau pinjam berapa itu cairnya dipotong adminstrasi dulu terus nanti mengembalikannya ada bunganya. Terus saya juga sudah pinjam di koperasi, jadi saya nggak pinjam. Bunganya itu lho.” Papar Bu Tuti penuh semangat

Beruntung, Ia tidak tergoda untuk mengambil pinjaman ke bank plecit. Jangan sampai tergoda ya Bu !.

Pengelolaan Keuangan

Bu Tuti dan suaminya bekerja untuk bersama-sama mencukupi kebutuhan keluarga. Suami  adalah seorang tukang bangunan yang bekerja by project di suatu daerah tertentu. Sementara Bu Tuti fokus menjalankan usaha laundry. Layaknya Bu Tuti, suaminya biasanya juga menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Sehingga mereka sama-sama memiliki simpanan masing-masing. Namun ternyata tak hanya uang pribadi, Bu Tuti juga mencatat keuangan laundrynya. Ia mencatat pemasukan dan pengeluaran di buku secara manual. Hal tersebut dilakukan agar jelas perhitungan pemasukan, pengeluaran maupun keuntungan.

“Bantar tak ambilkan. Ini saya catat di buku, baru kemarin saya mulai mencatat, sebelumnya tidak dicatat. Sekarang di catat.” Tandas Bu Tuti.

Sukses terus Bu untuk usahanya semoga makin jaya dan berkah. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *