Bu Kantri, Ingin Punya Mesin Pemecah Kedelai

Bu Kantri, Ingin Punya Mesin Pemecah Kedelai

Oleh: FM. Ulya

Tersedianya peralatan adalah suatu keniscayaan dalam menjalankan usaha. Tiap-tiap usaha pun memiliki peralatan masing-masing yang sesuai dengan kebutuhannya. Tanpa peralatan, mustahil sebuah usaha dapat berjalan dengan sempurna. Ya meskipun kesempurnaan hanya milik Allah semata, iya kita sama-sama tahu itu.

Demikian hal nya yang dibutuhkan oleh Ibu Siti Kantri Yuliati. Jamaah Kajianmu Masjid An Nafi’, Dusun Puluhan, Argomulyo, Sedayu, Bantul ini sudah lebih dari 15 tahun menjalankan  usaha Tempe Daun. Sehari-hari ia biasa memenuhi permintaan rumah tangga maupun warung-warung yang ada di sekitar Dusun Puluhan, Argomulyo. Tempe daun Bu Kantri dijual dengan harga yang amat sangat terjangkau. Uang Rp. 1000 bisa mendapat 5 buah tempe daun atau satu tempe seharga Rp. 200.

Usaha Tempe Daun

Sejak kedatangannya di Dusun Puluhan, Argomulyo pada tahun 1991, wanita yang akrab disana Bu Kantri ini mulai belajar membuat tempe dari Neneknya. Ketika sang Nenek masih hidup, Bu Kantri hanya bertugas membantu mengantarkan tempe ke pelanggan. Ketika itu ia hanya melihat proses pembuatan tempe saja. Sementara yang membuat tempe masih dipegang penuh oleh Neneknya.

Gbr. 1 Ibu Siti Kantri Yuliati memproduksi tempe di rumahnya.

“Saya buat tempe sudah dari kapan ya Mbak. Sudah  dari dulu, lama banget…tahun 1991 apa ya. Pas saya pindah kesini. Dulu kan saya belajar sama Simbah Mbak, ngewangi (read: membantu) itu to. Saya yang merebus, membersihkan kedelainya terus Simbah yang bungkus dan saya yang mengantarkan ke warung.” Cerita Bu Kantri.

Seiring berjalannya waktu, kesehatan Nenek sudah tidak stabil sehingga usaha tempe diwariskan kepada Bu Kantri. Bahkan wanita kelahiran Sleman, 2 Juli 1966 ini tidak ada banyangan sama sekali jika usahanya akan bertahan sampai sekarang. Pasalnya harga kedelai sering tidak stabil. Namun demikian, para pelanggan tempe buatan Nenek Bu Kantri enggan berpindah, sehingga Bu Kantri kemudian memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melanjutkan usaha tempe daun.

“Ini sebenarnya ya saya itu cuma..karena pelanggan itu enggan pindan ke orang lain gitu to Mbak. Jadi saya meneruskan sebisa saya.” Lanjut Ibu berusia 53 tahun itu

Meski sudah berjalan selama lebih dari 15 tahun, Ibu Kantri belum membuat variasi bungkusan dalam produk tempenya. Dari awal hingga sekarang, ia fokus membuat tempe berbungkus daun pisang saja yang berukuran kecil. Ia belum mencoba membuat variasi tempe dengan ukuran yang lebih besar. Oleh Karena ia berfikir bahwa tempe produksinya hanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan lama. Padahal, peluang untuk membuat variasi ukuran tempe sangat terbuka lebar apalagi Bu Kantri adalah pemain lama bertahan dalam dunia tersebut.                                                                                                                                                                                 

Membuat Tempe Harus Bersih

Proses membuat tempe betul-betul harus memperhatikan tempat dan wadah yang digunakan  benar-benar bersih agar kedelai bisa sukses menjadi tempe. Jika salah satu wadah yang digunakan ada yang tidak bersih, maka tempe bisa berubah rasa menjadi pahit atau masih utuh berwujud kedelai. Bu Kantri pun menceritakan pengalamannya pernah gagal membuat tempe dan pada akhirnya bahan-bahan harus dibuang, hanya karena terkena air hujan.

“Pernah Mbak, saya pernah bikin tempe dan nggak jadi. Ya kalau nggak jadi terus tak buang ke sawah. Waktu itu nggak jadi karena terkena air hujan. Atau karena terkena minyak juga bisa gagal jadi tempe Mbak. Kan bakul tempe itu resikan wadah e (read: penjual tempe itu harus menjaga kebersihan tempat pembuatan), nek kena minyak nggak jadi, kena garam juga atau ketika tangan kita nggak bersih saat mengaduk ragi ke kedelai itu juga nggak jadi. Wadahnya juga harus sendiri-sendiri khusus buat bikin tempe.” Tutur Ibu yang memiliki 3 anak ini

So, buat teman-teman yang masih mengira tempe itu diproses kurang higienis coba dipikirkan ulang ya..karena wadahnya saja harus benar-benar steril dari bahan-bahan lain, meski garam sekalipun atau tangan yang lupa tidak dicuci sebelum mencampur kedelai.

Gbr. 2 Proses Penirisan kedelai sebelum dicampur ragi (jamur Ryzhopus sp).

Nah, ada tips juga nih yang dibagi Bu Kantri tentang mengidentifikasi apakah sebuah kedelai bekualitas bagus atau tidak. Pertama, dilihat dari warnanya. Jika kedelai berwarna agak kemerah-merahan itu tandanya kedelai sudah lama digudangkan sehingga kedelai sudah tidak fresh lagi. Kedelai yang berkualitas bagus adalah yang warnanya masih kekuning-kuningan dan cenderung bersih. Kedua, dilihat dari ukurannya, ukuran kedelai yang agak besar biasanya tergolong kedelai yang memiliki kualitas bagus.

Butuh Mesin Pemecah Kedelai

Untuk memproduksi tempe dalam jumlah yang lebih banyak, Bu Kantri membutuhkan tenaga yang bisa membantu. Meskipun selama ini Ia melakukannya sendiri namun wanita berperwakan sedang-kurus tersebut mengungkapkan bahwa ia membutuhkan mesin pemecah kedelai untuk membantu kinerjanya.

“Besok kalau dapat pinjaman lagi dari Kajianmu mau tak buat beli mesin pletesan atau mesin yang buat mecah kedelai itu lho Mbak, daripada saya injak. Kisaran harganya sekitar 2,5 – 3 juta Mbak. Saya langsung dikasih hutangan mesin juga nggak apa-apa Mbak. Kan itu kalau kedelai sudah direbus terus di pecah. Ya cuma untuk membuang kulit air kedelai Mbak.” Ungkap Bu Kantri sembari tertawa

Dalam sehari Bu Kantri memproduksi sebanyak 7- 8 Kg kedelai. Dari 7-8 Kg kedelai dapat menghasilkan sebanyak 400-500 buah bungkus tempe dengan kalkulasi 1 Kg = 65 bungkus. Kesemuanya dilakukan secara manual menggunakan tenaganya sendiri, mulai dari merebus kedelai, meniriskan, menginjak/menghilangkan kulit ari kedelai, menyampurkan ragi (jamur Ryzhopus sp) ke kedelai yang sudah ditiriskan, hingga membungkus kedelai dalam bungkusan daun yang kecil. Sementara, tenaga Bu Kantri saat ini sudah tidak seperti waktu Ia masih muda. Oleh sebab itu, Ia sangat menginginkan bisa memiliki mesin pemecah kedelai agar kemampuan produksinya tetap stabil atau dapat bertambah.

Gbr. 3 Proses pembungkusan kedelai menggunakan daun pisang.

“Ya pingin Mbak, saya pingin usahanya makin maju. Disitu itu kan ada to Mbak tetangga yang bikin tempe juga dan udah nyetorin kemana-mana ke restoran-restoran, bikinnya udah banyak Mbak.” Lanjut Bu Kantri

Sebagai jamaah Kajianmu, Bu Kantri sudah memanfaatkan pinjaman modal usaha level pertama sebanyak Rp. 500.000. Setiap pekan Ia biasa mengangsur Rp. 25.000 bersamaan dengan pengajian rutin Kajianmu dan sudah hampir lunas.

“Kajianmu ada manfaatnya Mbak. Pinjamannya nggak ada bunganya, jadi saya kalau setor gitu Mbak, setor tempe terus malamnya buat ngangsur. Karena pinjaman daerah sini pakai bunga Mbak, jadi untungnya kan cuma buat bayar bunga.” Ujar Bu Kantri sembari tersenyum.

Mohon do’anya Bu semoga Kajianmu bisa terus memberikan manfaat dan menjangkau ke lebih banyak orang. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *