Bu Yuni, Pinjaman Kajianmu untuk Tambah Modal Jahit

Bu Yuni, Pinjaman Kajianmu untuk Tambah Modal Jahit

Oleh: FM. Ulya

Modal merupakan hal yang sangat penting untuk keberlangsungan menjalankan usaha. Terlebih modal lunak dalam bentuk uang. Tanpa adanya modal, mustahil sebuah usaha bisa berjalan dengan baik. Begitu pula yang dirasakan oleh Ibu Yuni Hartati. Ia adalah jamaah Kajianmu yang berlokasi di Masjid Mujahidin, Dusun Bakal Pokok, Argodadi, Sedayu, Bantul. Sehari-hari Bu Yuni menyibukkan diri dengan menekuni usaha jahit baju daster dan kaos.

Usaha jahit baju belum lama ditekuni Ibu dua anak ini, yakni dimulai setelah lebaran tahun 2018. Saat itu, ia memutuskan berhenti dari pekerjaan sebelumnya yakni menjadi buruh jahit di pabrik garment. Selepas keluar dari pabrik, Bu Yuni lalu memutuskan untuk membuka usaha jahit sendiri. Hal tersebut dipilih karena menjahit di rumah bisa dilakukan kapan saja pun dapat dikompromikan dengan pekerjaan lain.

Gbr 1. Bu Yuni menyelesaikan jahitan daster di rumahnya.

Keterampilan Menjahit

Kemampuan menjahit yang dimiliki Bu Yuni bukan asal-asalan. Ia mulai belajar menjahit semenjak lulus SMP. Saat itu, kedua orangtua Bu Yuni memiliki keterbatasan biaya untuk mengirimkan wanita kelahiran Bantul, 11 Juni 1978 ini ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Akhirnya, orangtua mengirimkan Bu Yuni ke tempat kursus menjahit.

“Saya dulu kursus jahit Mbak sekitar tahun 1994 pas saya lulus SMP. Saya kan tidak bisa meneruskan sekolah to, mau minta sekolah adiknya banyak. Jadi, sing gedhe ngalah sing sekolah sing cilik-cilik (read: Jadi, yang besar yang mengalah dan yang kecil-kecil yang sekolah). Lha terus saya kursus menjahit di kelompok atau organisasi apa itu Fatayat. Nah, terus habis itu saya ikut Bulik (Read: Tante) saya cari pengalaman di Jakarta 2 bulan terus nggak kerasan.Hehehe” Papar Bu Yuni

Ia pun meneruskan kisahnya semasa bekerja di Jakarta bahwa dirinya diminta untuk membantu mengobraskan jahitan. Tetapi karena tidak kunjung hafal jalan menuju lokasi obras, ia lalu memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta. Pengalaman bekerja di Jakarta yang singkat itu ternyata membuat Bu Yuni tertarik untuk tetap menekuni dunia jahit-menjahit. Wanita berperawakan kecil ini pun kemudian melamar pekerjaan sebagai penjahit di pabrik garment di Yogyakata dan beberapa kali sempat pindah. Terakhir Bu Yuni bekerja di daerah Ngasem, Yogyakarta.

Gbr. 2 Bu Yuni Hartati, 41 tahun telah menekuni dunia jahit-menjahit semenjak lulus SMP.

“Habis dari Jakarta njuk (read: lalu) melamar di pabrik itu to. Dulu pernah di Liberty yang daerah Pelemgurih. Macam-macam dulu saya juga di ekspor gitu di blouse-blouse panjang. Beberapa kali ganti karena bosan dan pingin cari pengalaman yang lain. Masuk pabrik itu di tes bikin kerah hem biasa. Itu kan sulit to..pokoknya baju itu kan yang paling sulit di kerah. Jelek atau nggaknya itu di kerah. Kalau kerahnya menceng (read: tidak lurus) itu mesti jahitannya jelek.” Ungkap Bu Yuni sembari tertawa

Perjalanan karir sebagai pekerja di pabrik pada akhirnya membuat Bu Yuni merasa lelah. Hal tersebut dikarenakan setiap hari ia harus mengendarai sepeda motor sendiri dari rumahnya yang terletak di Dusun Bakal Pokok, Argodadi, Sedayu, Bantul. Keputusan yang diambil pun cukup tepat. Sekarang Bu Yuni memiliki 2 mesin di rumah dan ia bisa menjalankan pekerjaannya dari rumah.

Sempat Sakit

Beberapa waktu yang lalu, istri dari Bapak Sugito ini sempat mengalami sakit gula yang membuatnya harus rela kehilangan separuh jari telunjuk tangan kanannya. Padahal saat menjahit, peranan jari telunjuk sangat penting untuk memastikan kain terjahit dengan sempurna.

“Capek to Mbak nyetir terus tiap hari, kena hujan. Akhirnya saya berhenti dan sejak habis lebaran kemarin mulai jahit di rumah. Kemarin juga habis sakit to Mbak.  Ini aja mesinnya belum lunas.” Kisah Bu Yuni sembari terkekeh

Meskipun Bu Yuni telah kehilangan separuh jari telunjuk kanannya, namun hal tersebut tidak membuatnya patah semangat dalam menjahit. Ia tetap lincah menggerakkan jari jemarinya untuk memastikan benang terjahit sempurna pada kain. Kelincahan wanita berusia 41 tahun ini terbukti dengan kemampuannya menjahit baju daster malioboroan yang dalam sehari bisa mencapai 50 pcs jahitan.

Upah Sedikit

Meskipun akhir-akhir ini tren industri fashion tampak mengalami  kenaikan, tetapi tidak serta merta membuat penjahit sejahtera. Sosok-sosok seperti Bu Yuni ada banyak sekali. Mereka menghargai ongkos jahit hanya Rp. 750 per potong daster yang dijahit atau Rp. 1000 untuk jahitan kaos malioboroan. Tak berhenti disitu, benang dan perintilan jahit lainnya masih harus disediakan secara mandiri oleh penjahit.

“Saya ambil kain dari tempat lain terus dijahit di rumah. Kainnya sudah di potong jadi saya tinggal jahit saja. Saya punya mesin di rumah, nah nanti satu orang ambil terus dibagi-bagi. Saya bawa pulang terus nanti teman saya juga bawa pulang. Yang diambil itu sana itu potongan kain, cuma kita nanti beli peralatannya sendiri. Misalnya benang-benang terus ya peralatan jahit lainnya.” Tutur Bu Yuni

Padahal untuk menghasilkan kaos yang siap pakai diperlukan 4 mesin yang berbeda yaitu mesin jahit biasa, mesin obras, mesin rantai, dan mesin overdeck. Kecuali untuk baju daster, bisa diselesaikan hanya dengan mesin jahit biasa. Sedangan di rumah Bu Yuni hanya ada 2 mesin yaitu mesin jahit biasa dan mesin obras. Sehingga saat Bu Yuni menerima orderan jahit kaos, ia harus berbagi dengan temannya sesama penjahit yang memiliki mesin lebih lengkap.

Pinjaman untuk Tambah Modal

Sebagai salah satu jamaah Kajianmu, Bu Yuni tergolong orang yang rajin berangkat mengaji. Ia pun termasuk salah satu penerima manfaat pinjaman tanpa jaminan dan tanpa bunga dari Kajianmu untuk level pertama di Dusun Bakal Pokok, Argodadi, Sedayu. Bu Yuni memperoleh pinjaman sebanyak Rp. 500.000. Ketika ditanya tentang uang pinjaman yang diperoleh digunakan untuk keperluan apa, Bu Yuni pun secara jujur menjawab bahwa uangnya digunakan untuk menambah modal jahit, seperti untuk membeli benang, membeli karet, dan perlengkapan jahit lainnya. Serta sebagian uangnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok.

Gbr. 3 Dua mesin di rumah Bu Yuni untuk menjahit daster dan kaos.

“Ya Alhamdulillah Mbak, uangnya buat tambahan beli benang dan lain-lain. Kan jahitan itu diselesaikan dan diambil tiap Sabtu pagi. Jadi, malam minggunya bisa buat ngangsur di Kajianmu. Ya uangnya kemarin buat beli kebutuhan juga.” Jelas Bu Yuni menutup pembicaraan sore itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *