Kerjasama Suami Istri dalam Mengelola Usaha

Kerjasama Suami Istri dalam Mengelola Usaha

Oleh : FM. Ulya

Menjalankan sebuah usaha membutuhkan kerjasama yang baik dengan semua pihak, tak terkecuali dengan pasangan suami-istri. Dalam berumahtangga pun kerjasama hendaknya adalah prinsip yang senantiasa dilaksanakan agar tidak menimbulkan kuasa di satu pihak. Salah satu jamaah Kajianmu yang berlokasi di Musholla Al Ikhlas, Dusun Klisat, Sumbersari, Moyudan mencoba menerapkan prinsip kerjasama ini dalam mengelola usaha yang mereka jalani.

Gbr. 1 Bu Iim & Pak Ilham di membawa peralatan rumah tangga buatannya.

Ibu Khusnul Khotimah dan Bapak Muhammad Ilham adalah pasangan suami istri yang menjalankan usaha pembuatan alat-alat rumah tangga terbuat dari alumunium. Peralatan rumah tangga yang biasa dibuat oleh tangan Pak Ilham seperti spatula, irus, serok, panci besar, angsang, Loyang, dan lain-lain. Setiap hari Pak Ilham mampu memproduksi sebanyak 10 alat.

“Sehari sebenarnya bisa memproduksi 10 alat untuk sotil, irus, serok itu Yah yo…. Jadi kalau membuat cekungan ya cekungan semua, kalau gagang ya gagang semua, jadi lebih cepat Mbak. Kalau untuk ansang, panci itu sehari bisa jadi sebenarnya. Tapi kan waktunya harus di bagi-bagi dengan kegiatan yang lain. Tapi kalau wajan kita nggak bikin, karena kan lembarannya dan butuh waktu buat nyekunginnya kan itu lama Mbak.” Cerita Bu Iim dan Pak Ilham saling menimpali.

Awal Mula Memulai Usaha

Usaha pembuatan alat-alat rumah tangga sudah ditekuni Pak Ilham sejak orangtuanya masih hidup. Oleh karena orangtua Pak Ilham juga merupakan pengrajin alat-alat rumah tangga berbahan dasar alumunium. Sehingga kemampuan membuat alat-alat rumah tangga laki-laki berusia 50 tahun ini bisa dikatakan warisan dari orangtuanya. Namun demikian, ia mengaku baru benar-benar fokus memproduksi peralatan rumah tangga dan memasarkan ke lebih banyak tempat setelah ia menikah.

“Sejak kecil kan saya terbiasa membantu Bapak membuat alat-alat ini. Saya lihat Bapak membuat terus saya pingin ikutan juga. Akhirnya saya coba membuat ternyata bisa. Tapi saya benar-benar fokus membuat semenjak menikah, ya sekitar tahun 2000 Mbak sampai sekarang” Tutur Pak Ilham

Pak Ilham pun fokus untuk membuat alat-alat yang berbahan dasar alumunium saja. Ia bisa membuat dari awal atau bisa memperbaiki saja apabila ada pelanggannya yang datang sembari membawa peralatan dapurnya yang sudah rusak/berlubang.

Awalnya Pak Ilham dan Bu Iim hanya memproduksi untuk memenuhi pesanan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya saja. Tetapi seiring berjalannya waktu, mereka kemudian mulai menawarkan produk-produknya ke toko-toko yang ada di pasar, ke swalayan terdekat dan lain-lain.

Gbr. 2 Papan nama usaha yang tertempel di dinding rumah Pak Ilham dan Bu Iim di Dusun Klisat, Sumbersari, Moyudan, Sleman.

Suka Duka Pengrajin Alumunium

Sebagai pengrajin alat-alat rumah tangga berbahan dasar alumunium, realitas tidak selalu berjalan mulus. Saat ini, Pak Ilham seorang diri dalam memproduksi alat-alat rumah tangga. Ia mengaku kesulitan dalam menemukan SDM yang betul-betul bisa mengerjakan sesuai dengan kebutuhan Pak Ilham.

“Pernah ada yang membantu Mbak… ada yang kerja disini, dia yang membuat gagang/pegangannya yang disambung dengan kayu. Tapi ya begitu ya…hasilnya kurang memuaskan. Malah jadi kerja dua kali karena pas di cek ternyata masih kurang bagus hasilnya. Jadi kan diulangi lagi gitu Mbak.” Tutur Bu Iim

Gbr. 3 Spatula buatan Pak Ilham

Selain persoalan SDM yang semuanya dikerjakan sendiri, pasangan suami-istri ini pun pernah mencoba untuk memesan mesin yang berfungsi untuk membantu membuat cekungan. Namun, sampai saat ini mesin yang dapat membuat cekungan agar menghasilkan produk yang dikehendaki pun belum juga bisa terwujud.

“Mesinnya itu belum ketemu-ketemu. Kita udah pernah memesan mesin Mbak berkali-kali, sudah kita DP. Terus pihak mekaniknya itu akhirnya nyerah lagi, kembalikan lagi uang DP yang pernah kami titipkan. Pada awalnya iya sepertinya gampang, untuk bikin legok e wae ben cepat gitu yo. Mungkin mereka awalnya, yo koyoke bisa lah, sanggup. Yasudah kami DP. Ada juga yang datang menawarkan, bisa Mas. Tapi dibikin ternyata nggak jadi. Hehehe.  Sampai sekarang belum nyoba bikin lagi. Nah, ini kemarin ada anak KKN UGM, diupayakan bikin rancangan mesinnya. Coba nanti bilangnya gini ke mekanik, ada perhitungannya. Ya mudah-mudahan jadi rezeki kami untuk punya mesin melalui bantuan rekayasa mereka.” Papar Bu Iim dan Pk Ilham bergantian

Namun demikian, dibalik tantangan-tantangan diatas, peralatan rumah tangga buatan Pak Ilham menuai banyak pelanggan setia dan cepat habis di pasaran. Hal tersebut dikarenakan peralatan buatan Pak Ilham memang sudah terbukti berkualitas.

“Pokoknya Mbak Fiya, ini kalau jadi sudah langsung bisa jadi duit Mbak insyaAllah. Angger (read: asalkan) barang sudah jadi, langsung bisa di duitkan. Dimana saja kami naruh, gampang. Mbok kepeksone (read: jika terpaksanya) Mbak butuh banget saat ini dalam berapa menit, 10 menit tak setorkan langsung nang Mbak Sum wes gelem wae ngono (read: disana mau menerima). Stok seberapapun gelem (read: mau). Soalnya daripada nanti antri, ora popo (read: tidak apa-apa) numpuk barang. Daripada nanti sudah kosong lama, ternyata belum keumanan (read: kebagian). Jadi, walaupun misalnya disana stok masih ada, saya setor itu diterima terus. Kadang kan saya memburu waktu, waton sing (read: asal) dekat langsung tak taruh aja. Kalau barang hanya sedikit saya nggak masukkan ke swalayan, karena disana antri di kasir nya panjang banget, padahal saya memburu waktu.” Lanjut Bu Iim dengan penuh semangat

Bahkan ada yang menitipkan uangnya terlebih dahulu agar bisa mendapatkan barang. Meskipun Bu Iim dan Pak Ilham terkadang merasa tidak enak jika langsung diserahkan sejumlah uang karena belum bisa menjanjikan kapan peralatan bisa diselesaikan. Namun demikian, walaupun terkadang permintaan di pasar banya, kualitas tetap diperhatikan. Pak Ilham biasanya mencoba barang terlebih dahulu sebelum diserahkan ke pelanggan, karena mereka tidak ingin mengecewakan pelanggan dengan kualitas produk yang jelek. Soal harga tidak perlu khawatir, spatula buatan Pak Ilham dijual mulai harga Rp. 11 rb dan yang paling mahal adalah panci berukuran besar yang harganya bisa mencapai Rp. 1,5 jt.

Gbr. 4 Lembaran alumunium sebagai bahan dasar dan beberapa peralatan sebelum finishing.

Prinsip Kerjasama

Hidup berumahtangga berarti sepakat untuk bekerjasama demi kemaslahatan bersama. Begitu pula yang dilakukan oleh pasangan Bu Iim dan Pak Ilham. Dalam hal produksi, boleh saja Pak Ilham melakukannya sendiri karena keterbatasan Bu Iim sebagai seorang perempuan dalam menjalankan pekerjaan yang bersifat fisik. Tetapi dari segi yang lain, Bu Iim masih bisa melakukan sesuatu agar sama-sama bekerja. Dalam hal ini, Bu Iim mengambil peran untuk memasarkan dan menyetorkan produk ke toko-toko dan swalayan.

“Iya, saya bawa produknya buat di setor ke toko, ke swalayan disana ngantri buat pembayarannya.” Ujar Bu Iim

Terakhir, ada tips nih yang dibagikan oleh Pak Ilham dan Bu Iim tentang bagaimana memilih perlatan rumah tangga berbahan alumunium yang berkualitas bagus.

“Pertama, dilihat dari ketebalannya. Caranya adalah dengan meraba permukaan dari peralatan tersebut. Jika terasa tebal berarti produk tersebut bagus. Kedua, dari tangkai kayunya itu kalau yang kayu berwarna putih itu jelas kayu yang kurang bagus. Kalau yang tangkai kayu berwarna hitam itu malah agak bagus itu. Ketiga, coba di ketok-ketok tangkainya. Kalau menimbulkan bunyi yang berat berarti di dalam tangkai itu ada isinya, tidak kosongan, itu awet Mbak. Ini di dalamnya ada isis bambunya penuh agar kencang dan tidak penyok.” Jelas Pak Ilham dan Bu Iim mengakhiri perbincangan sore itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *