Punya Rumah Sendiri Setelah 11 Tahun

Punya Rumah Sendiri Setelah 11 Tahun

Oleh : FM. Ulya

Tempat tinggal atau papan merupakan kebutuhan primer bagi setiap orang. Terlebih bagi mereka yang sudah berkeluarga, tempat tinggal adalah kebutuhan yang harus segera dipenuhi terlebih dahulu.  Seperti kisah salah seorang jamaah Kajianmu yang menjalani proses selama 11 tahun sampai bisa menempati rumah milik sendiri. Ia adalah Ibu Fera Salmawati. Wanita yang akrab di sapa Bu Fera ini sehari-hari menjalankan usaha membuat Pesanan Aneka Jajanan Pasar dan Kue. Melalui tangan terampilnya, Bu Fera mampu menghasilkan berbagai  jajanan tiap harinya.

Gbr. 1 Rumah pribadi Bu Fera dan keluarga tampak dari depan

Awal Memulai Usaha

Bu Fera adalah wanita asal Purwokerto, Jawa Tengah yang menikah dengan orang asli Yogyakarta. Awal menikah ia dan suami tinggal di rumah mertuanya di daerah Notoprajan, Ngampilan, Yogyakarta yang juga serumah dengan kakak suaminya yang sudah berkeluarga. Selama tinggal bersama mertua, wanita kelahiran Banyumas, 10 Oktober 1982 ini belajar membuat makanan tradisional seperti Nogosari, Lemet (makanan basah terbuat dari Ketan), Putu Ayu, Monte/ Kupu Tarung, Lemper, dan sebagainya. Ia memanfaatkan waktu tinggal bersama mertua untuk hal-hal yang mengasah skill kulinernya. Hasilnya pun tak sia-sia, apalagi di topang dengan hobinya yang memang suka berkelindan di dapur membuat aneka makanan.

“Saya membuat makanan tradisional kayak Nogosari itu resep Ibu mertua. Nah misalnya saya nanya, “Bu, nek ndamel niki pripun ? (read: Bu kalau membuat makanan jenis ini bagaimana ?) misalnya gitu. Jadi, yang tradisional kebanyakan dari Ibu semua kayak Nogosari, lemet, monte misalnya gitu. Nah kalau yang lain-lain saya belajar sendiri dari Youtube. Lihat video-video dari Youtube, belajar resep di Facebook.” Jelas Ibu 3 anak ini

Gbr. 2 Bu Fera sedang membuat adonan kue untuk memenuhi pesanan

Namun demikian, Bu Fera masih belum cukup percaya diri untuk  memasarkan produknya. Tetapi ia terus belajar untuk mengasah kemampuan membuat aneka makanan. Hal ini dibuktikan dengan keikutsertaannya di komunitas Diajeng Jogja (DJ) yakni komunitas yang mewadahi Ibu-Ibu untuk belajar bersama membuat aneka makanan dan kue di Yogyakarta. Semenjak bergabung dengan komunitas tersebut, ia menemuka kepercayaan diri mulai menerima pesanan. Feedback pelanggan terhadap makanan olahan Bu Fera pun tergolong bagus sehingga ia semakin percaya diri untuk mengambil setiap pesanan yang ia terima.

“Saya memang dari kecil itu rajin. Yo senang masak, senang membantu orangtua, senang bersih-bersih rumah gitu lho. Akhirnya kemarin itu kan ada facebook itu to Mbak. Nah, pertama buat facebook ikut grup masak-masak gitu kok terus nemu teman-teman Jogja. Kita bikin grup sendiri di Jogja. Akhirnya kumpul-kumpul, belajar masak bareng dari situ saya mulai timbul keinginan untuk buat usaha.” Lanjut Bu Fera

Dari komunitas memasak itu lah Bu Fera mulai percaya diri untuk membuat jajanan yang dititipkan ke penjual-penjual di pasar Gamping, di sekolah- sekolah, pesanan dari teman-temannya, maupun mencoba dipasarkan melalui facebook pribadinya. Saat ini, setiap hari Bu Fera hampir selalu melayani berbagai pesanan. Bahkan akhir-akhir ini omset  tiap bulan bisa mencapai Rp. 2.000.000.

“Alhamdulillah Mbak..setelah saya sering baca sholawat, karena pernah dibilangin kan pas Kajianmu sama Mbak-Mbak yang ngisi kalau sering baca sholawat itu insyaAllah ada aja rezekinya. Ya memang benar Mbak saya rasakan itu. Omsetnya ya mungkin Rp. 2.000.000 ada Mbak untuk saya lho. Cuma istilahnya saya kan roda nya lagi di bawah Mbak. Jadi, suami buat bayar hutang dan saya buat makan.” Ujar wanita asli Purwokerto ini.

Tak hanya itu saja, sebelum berangkat kerja suami Bu Fera juga sering membantu membuat pesanan. Sehingga ia merasa usaha yang dijalankannya di dukung oleh suami dan sekaligus juga membantu meringankan beban kerjanya. Ke depannya wanita berusia 36 tahun ini berharap dapat merekrut karyawan untuk membantu menjalankan usaha pesanannya serta memiliki keinginan membuka warung makan. Dengan usaha warung makan tersebut, ia ingin memberdayakan saudara-saudaranya yang belum memiliki pekerjaan.

“Rencana saya kedepannya kalau usaha pesanan saya ini tetap jalan. Ya mungkin kalau terlalu banyak pesanan ya tetap ambil orang ya…butuh orang. Tapi yang tujuan saya itu kalau usaha ini benar-benar udah jalan saya pingin buka warung makan dengan melibatkan saudara-saudara saya. Disana kakak saya yang di Purwokerto dan kakak saya disini yang belum ada kegiatan. InsyaAllah rencana saya seperti itu Mbak.” Papar Bu Fera dengan bersemangat.

Ngontrak Selama 11 Tahun

Ibu Fera menikah dengan suaminya pada tahun 2007 dan sejak saat itu mereka tinggal di Yogyakarta. Setelah memutuskan untuk berpisah rumah dengan mertua, Bu Fera dan suami lalu berpindah ke rumah kontrakan di daerah Sodanten, Gamping. Mereka pun memiliki kisah menarik saat menemukan rumah yang pernah ditinggalinya sampai pertengahan tahun 2018 itu.

“Dulu Mbak pas suami saya nyari kontrakan itu kan disana ada 2 rumah. Satu menghadap ke utara dan yang satunya ke barat. Nah, pas masuk ke rumah saya  itu kok suami saya waktu itu ngerasa adem gitu Mbak. Itu kan dulunya musholla Mbak..musholla keluarga gitu. Terus katanya lagi Mbak, setiap orang yang habis ngontrak dari sana itu keluar pasti punya rumah sendiri. Jadi, keluar itu bukan karena ada masalah atau apa tapi mesti pindah ke rumah sendiri gitu Mbak..Alhamdulillah.” Tutur Wanita yang murah senyum ini.

Mulai dari rumah kontrakan itulah Bu Fera berani menjalankan usaha pesanan. Bahkan pada tahun 2016 ia juga sempat membuka warung kecil-kecilan di depan rumah kontrakannya. Meskipun demikian, rumah kontrakan tetaplah rumah kontrakan, bukan rumah sendiri yang terasa tenang dihuni. Maka, sembari mengontrak, ia dan suami juga istiqomah menabung dan mencari rumah yang bisa di-KPR-kan. Hal tersebut dilakukan karena Bu Fera merasa kurang nyaman mengontrak walaupun ia tinggal disana juga membayar.

Gbr. 3 Bu Fera (Kanan) menerima pinjaman modal dari Kajianmu

“Jadi gini Mbak, kalau selama ngontrak kan punya anak..jadi rasanya itu ada rasa sedih tersendiri yo Mbak. Mosok yo anakku tak ajakin ngontrak gini gini. Apalagi kalau ngontrak pindah dari satu tempat ke tempat lain kan sedihnya ada gitu lho Mbak. Alhamdulillah saya kan dari kecil tidak terbiasa hidup berpindah-pindah..tapi di rumah sendiri. Kemarin begitu punya suami terus belajar hidup sendiri. Ya ngerasa sedih Mbak, enak nggak enak itu kalau ngontrak itu tetap nggak enak gitu lho. Biarpun kita bayar itu rasanya, jenenge orang nunut itu rasane benar-benar nggak enak Mbak (read: namanya orang menumpang itu rasanya benar-benar tidak nyaman). Padahal kita bayar gitu lho.” Ucap Bu Fera dengan mimik sendu

Punya Rumah Sendiri

Setelah bertahan selama 5 tahun di rumah kontrakan, pada pertengahan tahun 2011 Bu Fera memperoleh informasi dari sesama wali murid di TK anak pertamanya. Orang tersebut memberi informasi bahwa ada rumah yang dijual dan bisa di KPR kan. Maka tak perlu menunggu waktu lama, ia dan suam pun segera mendatangi rumah yang dimaksud. Gayung pun bersambut. Rumah yang awalnya di jual dengan harga Rp. 175 juta kemudian di tawar oleh Bu Fera seharga Rp. 155 juta dan pemilik rumah menyambut tawaran tersebut. Ia pun merasa sangat bersyukur pada akhirnya bisa mendapatkan rumah yang diinginkan.

“Alhamdulillah. Setelah 11 tahun akhirnya..ya seneng banget Mbak, senangnya benar-benar sudah tidak bisa digambarkan. Bahagianya…wes pokoknya sebahagia-bahagianya.” Ujar Bu Fera dengan penuh rasa syukur.

Kemudahan-kemudahan lain pun didapatkan wanita yang menjadi salah satu jamaah Kajianmu ini.  Proses pembuatan sertifikat yang memakan waktu 2 tahun sejak pertama kali tawaran diterima penjual, membuat Bu Fera dan suami merasa terbantu karena masih ada jeda waktu untuk mengumpulkan uang dan mengangsur rumah yang sudah lama diimpikannya. Ia sempat mengontrakkan rumah itu kepada 3 orang secara bergantian hingga akhirnya angsuran lunas. Kini, Alhamdulillah Bu Fera dan keluarga telah menghuni rumah pribadi hasil perjuangan bersama suaminya. Perjuangan Bu Fera dari  usaha pesanan aneka jajanan dan suami yang menjalankan usaha jual kaca mata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *