Tak Sekedar Penjual Jamu

Tak Sekedar Penjual Jamu

Oleh : FM. Ulya

Menjalani profesi apapun jika dilakukan dengan ikhlas dan hati yang tulus insyaAllah akan mendatangkan kebahagiaan dan keberkahan. Mungkin kalimat tersebut cukup tepat untuk menggambarkan sosok Bu Temon. Pemilik nama lengkap Temon Maryati ini sudah kurang lebih 35 tahun berprofesi sebagai penjual jamu. Namun, baru lima belas tahun terakhir atau sejak sekitar tahun 2003 ia mengantongi izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) dan Sertifikat Halal. Bu Temon adalah salah satu jamaah Kajianmu yang berlokasi di Masjid Al Ikhlas, Dusun, Samben, Argomulyo, Sedayu.

Gbr. 1. Bu Temon bersiap untuk keliling berjualan.

Perjalanan Karir

Wanita 52 tahun ini mewarisi keahlian Ibunya sebagai pembuat jamu. Sejak masih muda, ia terbiasa membantu Ibunya meracik ramuan jamu, sehingga semakin lama mampu membuat racikan sendiri. Namun demikian, Bu Temon baru memulai usaha jamu secara mandiri saat kedua anaknya duduk di bangku sekolah dasar (SD).

“Wah… sebenarnya saya udah lama Mbak, dari anak saya kelas 6 SD dan 4 SD udah mulai jualan jamu. Tapi baru 2003 itu yang sudah diakui secara resmi. Ya udah ada 35-an tahun itu yang pribadi lho…sudah dari anak saya masih kecil-kecil.” Papar Bu Temon sambil tersenyum.

Awal berjualan, wanita kelahiran Bantul, 7 Mei 1966 ini masih berjalan kaki keliling daerah Argomulyo dan sekitarnya. Setelah bertahun-tahun jualan, berkahnya kemudian ia mendapat bantuan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) atas rekomendasi dari salah seorang pimpinan ‘Aisyiyah setempat. Bantuan tersebut berupa sepeda jengki, 100 buah gelas, blender, alat penggorengan, dan lainnya. Setelah memiliki sepeda, Bu Temon lalu berkeliling menggunakan sepeda. Mulai dari itu, ia bisa menjangkau lebih luas area keliling jualannya.

“Waktu itu saya dapat bantuan sepeda jengki, terus gelas 100 biji atau 8 lusin. Ada panci gorengan, ada blender dan macam-macam itu pokokmen. Segala macam itu dapat bantuan dari UMY nopo yo, Bu Nahya waktu itu pimpinannya. Itu pertama kali saya dapat bantuan.” Jelas Bu Temon sembari mengingat peristiwa beberapa tahun yang lalu itu.

Bantuan alat-alat produksi dirasakan sangat bermanfaat bagi Bu Temon. Hal tersebut lalu memicu semangatnya untuk terus memproduksi jamu. Hingga kini, Bu Temon masih konsisten untuk menjual jamu produksi sendiri dengan kemasan botol. Selain jamu, wanita paruh baya yang sudah memiliki 3 orang cucu ini juga menjual jus buah dan terkadang juga menjajakan aneka macam gorengan.

 “Saya nggak cuma bawa jamu lho Mbak. Kadang sambil bawa jus buah, kalau nggak ya jual gorengan-gorengan gitu Mbak.” Lanjut Bu Temon

Saat ini, Bu Temon berkeliling jualan jamu dengan mengendarai sepeda motor. Ia berjualan setiap dua hari sekali atau 3 waktu dalam seminggu. Daerah pemasarannya pun sudah melingkupi Kecamatan Sedayu. Ia biasanya berhenti di Kantor Kecamatan Sedayu, Puskesmas Sedayu, pasar Sedayu, pasar Semampir, dan lainnya.

Produk yang Dihasilkan

Sebagai penjual jamu, Bu Temon termasuk sosok yang inovatif. Di saat para penjual yang lain masih menggunakan gelas untuk menyajikan jamu, ia berani memulai menggunakan kemasan botol. Pun membuat produk jamu instan berbentuk serbuk. Produk instan tersebut tidak hanya di jual sendiri. Jika ada teman sesama penjual jamu yang membutuhkan, ia akan membuat produk instan cukup banyak sesuai kebutuhan dan permintaan. Produk jamu instan Bu Temon seperti Kunyit Putih, Jahe Merah Instan dan Temulawak Instan.

“Untuk keliling saya produksi jamu sendiri. Saya juga bikin yang instan lho..instan kayak Kunyit Putih, Jahe Merah Instan, Temulawak Instan saya juga produksi. Itu saya bawa sendiri kalau nanti ada yang membutuhkan saya bikin lebih banyak. Itu ada karung-karungan itu kan..bahan untuk jamu.” Jelas Bu Temon sambil menunjukkan karung-karung bahan baku jamu.

Gbr. 2. Jamu produksi Bu Temon yang di bawa keliling berjualan.

Selain jamu serbuk instan, Bu Temon juga menjual jamu siap minum dalam kemasan botol. Setiap jualan, ia biasa membuat sekitar 25-30 botol.

Tantangan Jualan Jamu

Dalam sekali jalan, wanita yang juga menjalankan usaha pecel lele bersama anaknya ini bisa mendapatkan laba bersih Rp. 50.000. Namun demikian, semenjak harga bahan baku jamu mengalami kenaikan, kini ia hanya mendapatkan laba bersih sekitar Rp. 25.000. Bu Temon mengakui jika keuntungan yang didapatkan semakin sedikit.

Ketoke (read: tampaknya) kalau dari segi saya belajar pembuatan jamu ya ketoke lebih piye yo (read: bagaimana ya)…lebih maju dalam berkarya terus bisa mengangkat usaha kecil menengah (UKM) mikro kecil juga bisa diangkat. Untuk bisa mencapai..karena bahan-bahan terlalu larang (read : mahal). Ini ketigo (read: musim kemarau) ini lholarang untuk kencur itu berapa ?, Rp. 60.000/kg, kunirnya (read: harga Kunyit) Rp. 15.000, Gula Jawa nya… larang niki nopo-nopo (read: apa-apa mahal). Jadi ya untuk jamunya ya tetap bikin. Untuk mutu tetap seperti biasa dan harga takaran juga sama seperti biasa. Botolnya saja kalau botol baru itu Rp. 2000 lho.” Papar Ibu berusia 52 tahun ini.

Gbr. 3. Bu Temon sedang membongkar bahan baku dari karung yang akan di buat racikan jamu.

Meskipun harga bahan baku naik, Bu Temon tetap menjual jamu dengan harga normal. Ia tidak bisa menaikkan harga karena jika harga jamu ikut naik, banyak pembelinya yang protes dengan kenaikan harga tersebut. Sehingga Bu Temon tidak menaikkan harga, tetapi kemudian berimbas pada perolehan keuntungan yang semakin sedikit.

Berjualan dan Aktif Berkegiatan

Di balik pergolakan harga dan produk jamu, ada hal menarik lain dari Bu Temon yang membuatnya tak sekedar penjual jamu. Sejak tahun 2003 Bu Temon sudah mulai aktif bergabung dengan kelompok pedagang jamu yang di sebut dengan Kelompok Seruni Putih di desa Argomulyo. Bu Temon merupakan anggota yang aktif sehingga ia lalu di daulat menjadi wakil ketua Kelompok Seruni Putih sampai sekarang. Terkadang Bu Temon tak hanya menjalankan tugas sebagai wakil ketua, tetapi juga merangkap sebagai penghubung/ humas, pemegang notulen, dan sebagainya. Kesemuanya ia kerjakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab karena Bu Temon sadar jika anggota-anggota yang lainnya dari segi usia sudah semakin tua. Berkat ikut Kelompok Seruni Putih, Bu Temon berhasil mendaftarkan produk jamunya ke dinas kesehatan hingga mendapatkan P-IRT dan juga Sertifikasi Halal.

“Sekarang saya sudah punya P-IRT atau surat izin memproduksi jamu, sudah punya surat halal. Halal maksudnya yang tidak mengandung bahan-bahan kimia. Jadi sejak 2003 saya masuk resmi ke kelompok itu. Terus saya itu yo menjabat nopo nggih ten nggen pengurus yo wakil ketua, yo mencakup segalanya lah. Penghubung juga, pemegang notulen, nggih karang nggen kulo niku wonge sepuh-sepuh (read: di kelompok saya orangnya sudah tua-tua).” Tutur Bu Temon sambil sesekali tertawa

Selain itu, Bu Temon bersama dengan produk jamunya juga aktif mengikuti pameran-pameran. Sebagaimana penuturannya bahwa ia pernah mengikuti pameran di Keraton Yogyakarta, pameran di stadion Mandala Krida dalam acara Hari ASI se-dunia, pameran di stadion Sultan Agung, di Parasamya, serta acara pameran yang bertempat di Pasar Seni Gabusan yang diselenggarakan tiap tahun.

“Kalau pameran itu saya itu sudah di… pundhi nggih (read: dimana ya) ten Keraton, terus wonten..lali aku Mbak okeh banget masalahe (read: terus dimana lagi saya lupa, karena sangat banyak). Di Mandala Krida kemarin acara hari ASI se-dunia, kemarin tanggal berapa itu. Terus di lapangan jalan Imogiri, di stadion Sultan Agung. Kemudian ikut di Parasamya, terus di Pasar Seni Gabusan itu setiap tahun mengikuti event persaingan produksi niku lho.. ada tiap tahun.” Tutur Bu Temon dengan bahasa campuran.

Ia aktif mengikuti acara-acara yang ada di sekitar DIY. Namun, untuk acara di luar DIY ia tidak mendapatkan izin dari suaminya. Meskipun ada undangan untuk mengikuti pameran antar provinsi, Bu Temon tidak bisa mengikutinya karena terlalu jauh dan tidak mendapatkan izin suami. Selain aktif di kelompok jamu dan mengikuti berbagai pameran, Bu Temon juga merupakan kader program keluarga berencana yang dicanangkan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sehingga tidak heran jika ia sering diundang mengikuti penyuluhan baik oleh Puskesmas atau pun acara yang diselenggarakan di bawah BKKBN secara langsung.

Wah.. semoga bisa menginspirasi jamaah yang lainnya ya Bu !. Amiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *