Bu Suwaryuni, Tetap Merosok Meski Suami Telah Tiada

Oleh: FM. Ulya

Kita sama-sama tahu bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat mendahului datangnya ajal dan tidak pula dapat mengundurkannya. Semua telah diatur Allah SWT dengan sangat tepat waktu. Bulan Agustus 2018 lalu, Ibu 3 anak ini ditinggal oleh suami untuk selama-lamanya. Sejak suami sering sakit-sakitan dan menderita penyakit batu ginjal dan komplikasi, wanita yang akrab disapa Bu Yuni ini masih tetap menjalankan usaha kecilnya yaitu jual beli barang bekas/ rosok. Sembari merawat suami yang makin sering keluar-masuk rumah sakit.

Gbr. 1 Bu Suwaryuni berada di depan rumah yang sekaligus sebagai tempat usahanya jual beli barang bekas.

Bu Yuni merupakan salah seorang jamaah di majelis Kajianmu Griya Kencana Permai (GKP) yang bisa dikatakan istiqomah. Saat jamaah lain yang dulu mengajaknya sudah jarang aktif, Bu Yuni tetap menunjukkan komitmennya untuk hadir. Sekitar pertengahan bulan Juli tim Kajianmu sempat bersilaturrahmi ke rumah beliau di dusun Karanglo, Argorejo, Sedayu. Saat itu tim Kajianmu juga bertemu langsung dengan suami Bu Yuni yang secara fisik terlihat sangat lemah. Bahkan untuk berjalan saja harus dilakukan dengan sangat pelan

“Sebenarnya saya itu pingin banget berangkat Kajianmu. Tapi kalau saya tinggal, suami tidak ada yang mengurus. Jadi saya mohon maaf sekali belum bisa berangkat lagi. Nanti insyaAllah kalau suami sudah mendingan dan bisa ditinggal saya pasti akan berangkat ngaji lagi.” Jelas Bu Yuni ketika dikunjungi di rumahnya.

Sembari berbincang, pasangan suami istri itu juga memperlihatkan produk-produk daur ulang dari rosok yang dibuat sendiri olehnya dan suami. Ada cukup banyak produk, mulai dari bunga hias, hiasan dinding, figura, hiasan meja, dan seterusnya. Namun, tidak ada yang bisa menawar ajal. Sekira satu bulan setelah kunjungan tersebut, tim Kajianmu mendapat kabar bahwasannya suami Bu Yuni telah meninggal dunia.

Gbr. 2 Beberapa produk daur ulang yang dibuat sendiri oleh Bu Suwaryuni dan Alm. Suaminya.

Kembali Berangkat Ngaji

Kepergian suami membuat Bu Yuni terpukul dan merasakan kehilangan yang teramat dalam. Setelah lebaran 2018 Bu Yuni mulai berangkat ngaji kembali di Kajianmu majelis GKP. Tiap kali ada jamaah yang mengucapkan bela sungkawa, raut muka Ibu yang juga berprofesi sebagai pengasuh anak ini seketika berubah. Ada air yang tertahan di sudut mata bulatnya. Pun dari kalimat yang terucap mengisyaratkan permohonan pemakluman dari jamaah lain yang belum mengetahui kondisi Bu Yuni saat itu.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, Bu Yuni mulai bisa bangkit dan hingga kini sudah rutin kembali datang mengaji setipa sabtu sore. Bu Yuni sadar bahwa dengan mengaji hatinya semakin tenang. Di tambah berkumpul bersama dengan jamaah lainnya, ia merasa terhibur karena bisa saling berbagi cerita satu sama lain. Tak hanya itu, Bu Yuni pun mengakui jika ia sering mengaji di rumah dibanding dengan sebelum-sebelumnya.

Gbr. 3 Bu Suwaryuni (paling kanan) sedang bersama Ibu-Ibu Jmaah Kajianmu.

Alhamdulillah… sekarang habis maghrib di rumah saya sering baca-baca, meskipun bacanya kadang masih ngikutin huruf latin di bawahnya terus saya pas-pasin. Saya belajar sendiri meskipun juga masih ada yang keliru. Kalau saya hari sabtu sore nggak ikut yang disini, saya biasanya malamnya ikut yang di masjid sana, ngaji Iqro’ juga. Alhamdulillah saya juga sekarang lebih sering jamaah maghrib-Isya’ di masjid.” Tutur Bu Yuni dengan semangat.

“Saya berterimakasih Mbak bisa ikut Kajianmu. Senang rasanya berangkat Kajianmu apalagi disini ramai, ketemu dengan Ibu-Ibu bisa cerita-cerita dan mendengarkan ceramah dari relawan. Kalau nggak ada halangan saya pasti usahakan berangkat Mbak.” Lanjut Bu Yuni

Tanggungan Hutang dan Menghindari Riba

Semenjak mendapatkan informasi tentang pinjaman modal tanpa jaminan tanpa bunga yang penting datang pengajian dari tetangganya, Bu Yuni mengaku sangat tertarik dan langsung menyampaikan kepada alm. suaminya. Bu Yuni sadar bahwa selama ini ia banyak meminjam ke bank plecit maupun pinjaman-pinjaman lain yang berbunga untuk menambah modal usaha dan mencukupi kebutuhan keluarga. Alm. suami pun mendukung Bu Yuni untuk ikut bahkan bersedia untuk antar-jemput ke lokasi Kajianmu yang berjarak kurang lebih 1 km dari rumahnya.

“Saat saya menyampaikan tentang Kajianmu ke suami ternyata suami saya sadar, yawes Mak ikut aja wong nggak ada bunganya terus koe entuk ilmu, ke Kajianmu sesok tak anteri. Ya kulo semangat !. Terutama yang plecit-plecit itu Mak nek iso, insyaAllah iso ngresiki dosane awake dewe. (baca : Yasudah Bu ikut saja, lagi pula tidak ada bunga dan kamu juga mendapat ilmu, Ya saya semangat !. Terutama untuk melunasi pinjaman bank plecit/ rentenir jika bisa, insyaAllah bisa membersihkan dosa kita).” Tutur Bu Yuni menirukan ucapan alm. suaminya.

Upaya dan dukungan alm. suami ternyata berbuah manis. Perlahan pinjaman-pinjaman di bank-bank plecit mulai bisa dilunasi. Meskipun sepeninggal suami masih ada beberapa hutang dan pinjaman RT. Bu Yuni bertekad untuk akan membayar pinjaman tersebut selagi ia masih bisa mencari uang dan tidak akan meminjam lagi di bank plecit atau pun pinjaman berbunga lainnya. Karena ia merasa tidak tenang saat memiliki banyak hutang.

Alhamdulillah sudah selesai semua tinggal 100 rb apa ya tapi orangnya sudah nggak pernah ke rumah lagi. Tapi saya sudah nggak pinjam lagi, biar saya agak tenang. Saya udah nggak mau yang riba-riba begitu. Tinggal yang punya bapak itu sama kemarin kan ada Pak RT datang ke rumah setelah bapak nggak ada. Saya bilang, insyaAllah Pak RT saya kembalikan nanti jika ada uang, nggak usah diminta akan saya kembalikan.” Ungkap Ibu 49 tahun ini.

Selain itu, Bu Yuni sekarang merasa lebih tenang karena tanggungan hutang berbunganya sudah banyak yang dilunasi.

“Ya sekarang saya merasa lebih tenang karena udah nggak dikejar-kejar setoran lagi, misalkan mau beli apa gitu jadi lebih tenang. Hidup saya sekarang istilahnya nyari uang itu nggak ngongso banget (read: tidak terlalu dipaksa), aku harus bayar ini..bayar ini, kemrungsung (read: tidak tenang).” Lanjutnya.

Tetap Merosok Meski Sudah Tidak Ada Suami

Ketika hidup alm. suami pernah mengatakan kepada Bu Yuni jika ia akan tetap menjalankan usaha rosok sampai meninggal. Bu Yuni lantas diajari cara untuk membeli barang, menawar, dan menjualnya kembali.

“Walaupun dia sakit, dia tetap merosok terus itu lho Mbak. Dia bilang, Mak..aku sampai mati pun aku tetap merosok. Terus saya diajari cara belinya dan sebagainya. Itu yasudah saya lanjutkan sampai sekarang.” Ucap wanita kelahiran 12 Februari 1969 ini.

Meskipun kini sudah tidak ada suami yang membantunya mengangkut barang-barang rosok, namun Bu Yuni tetap menjalankan usaha tersebut untuk mendapatkan uang. Anak-anak pun mengizinkan Bu Yuni untuk tetap menjalankan usaha jual-beli rosok.

“Setelah bapak meninggal itu saya bilang ke anak-anak, kalau misalkan saya ngelanjutin rosok boleh nggak ?, kata anak-anak saya, ora opo-opo Mak yang penting halal (read: tidak apa-apa Bu yang penting halal). Tak minta bantuin anak-anakku yo ternyata mau, bantu bawa sama milih-milih.” Terang Wanita asli Bantul tersebut.

Jika barang-barang rosok yang harus di ambil cukup banyak, ia sering dibantu oleh anak atau tetangga samping rumah. Terkadang Bu Yuni tidak hanya membeli barang rosok, tetapi juga diminta bantuan untuk menjualkan barang second milik orang lain. Barang tersebut seperti barang elektronik atau barang-barang lain yang masih bisa terpakai. Anak Bu Yuni akan membantu mempromosikan melalui media sosialnya.

“Saya misalnya ditawarin orang, Bu nggonku nduwe (read: saya punya) gerobak ini masih bisa dipakai tolong dijualkan. Terus anak saya nanti yang bantu jualkan gitu. Berapanya nanti yang penting saya yang beli nanti Ibunya tak kasih berapa.” Paparnya

Kemudahan-kemudahan lain pun di dapatkan oleh Bu Yuni. Misalnya apabila ia tidak bisa mengambil sendiri barang rosoknya, ia akan menghubungi bos rosok untuk membantunya mengangkut barang. Demikian pula, saat tidak memiliki cukup uang untuk membayar rosok, ia dapat menghubungi bos rosok untuk membayarkannya terlebih dahulu. Kini, meskipun suami sudah tak disampingnya lagi, kesetiaan Bu Yuni tetap abadi.

Apa itu Riba?

Oleh : Alda Kartika Yudha

Oleh para ulama, riba secara bahasa berarti tambahan, sedangkan secara istilah diartikan sebagai “segala pinjaman yang mendatangkan manfaat”. Mudahnya, ketika A mengatakan “aku berikan kamu pinjaman 1 juta, dan nanti kembalikan 1 juta plus pijitin aku”, maka pijit disini bisa menjadi riba. Riba tidak harus berbentuk uang, tapi juga bisa berbentuk barang atau jasa. Berbeda kasusnya ketika, “pijit” atau tambahan tadi diberikan dari peminjam sebagai hadiah dan bukan sebagai ketentuan yang disepakati dari awal. Jika diberikan sebagai hadiah, maka hal itu diperbolehkan.

            Ada beberapa jenis riba, yaitu riba yang terjadi dalam jual beli, dan riba yang terjadi dalam akad pinjam meminjam.

Riba Jual beli

            Riba jual beli terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:

  1. Riba Fadl, misalnya membeli 1 kilo kurma bagus dibayar dengan 1,5 kurma jelek. Syaratnya sejenis dan beda kualitas.
  2. Riba Yad, yaitu riba dalam transaksi dengan satu jenis barang yang dapat diperdagangkan dengan dua skema yaitu kontan dan kredit tanpa ketetapan harga. Contoh: harga mobil baru jika dibeli tunai seharga Rp. 100 juta, dan Rp. 150 juta bila mobil itu dibeli secara kredit dan sampai dengan keduanya berpisah tidak ada keputusan mengenai salah satu harga yang ditawarkannya. Berbeda dengan akad murabahah, yang harga barang tersebut sudah fix dan disepakati diawal, meskipun dibayar dengan cara mengangsur.

Riba dalam Pinjaman

  1. Riba Qardh: Mensyaratkan adanya tambahan ketika memberikan pinjaman. Contohnya, meminjam 10 juta, harus dikembalikan 11 juta..
  2. Riba Nasiah: ketika jatuh tempo, diberikan opsi, ingin dibayar atau diperpanjang (dengan tambahan biaya).

Bagaimana dengan Bunga Bank?

Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Bunga, menyatakan bahwa BUNGA BANK=RIBA. Praktek Penggunaan tersebut hukumnya adalah haram, baik di lakukan oleh Bank, Asuransi,Pasar Modal, Pegadian, Koperasi, Dan Lembaga Keuangan lainnya maupun dilakukan oleh individu.

Bolehkah Menggunakan Jasa Bank?

Boleh, dengan syarat bukan yang bersinggungan dengan riba. Contoh: transfer, beli pulsa, dll.

Bank Syari’ah

Bank syari’ah merupakan salah satu solusi atas permasalahan perlunya Islam untuk menerapkan sistem ekonomi Islam dan mendobrak sistem ekonomi kapitalis dan sosialis. Banyak yang menentang dan mengatakan bank syariah sama saja dengan bank konvensional yang mencari keuntungan dan bahkan jauh lebih banyak. Problematika tentang biaya dan bagi hasil yang lebih banyak tentunya adalah kebijakan masing-masing perbankan, akan tetapi dalam permasalahan “mencari keuntungan” tentunya kita semua paham bahwa dalam bisnis, tujuanya adalah memang untuk mencari keuntungan. Bedanya dengan bank konvensional, adalah tentang “bagaimana cara mencari keuntunganya?”.

Pun demikian, dalam pendapat penulis, bank syariah belum sepenuhnya 100% syariah. Hal ini karena bagaimanapun bank syariah sendiri harus menginduk dibawah BI yang menggunakan bunga. Meskipun demikian tak dapat dipungkiri bahwa bank syari’ah adalah solusi atas permasalahan bunga yang marak di masyarakat Indonesia ini, atau setidaknya bank syariah adalah upaya untuk mencari solusi daripada diam dan hanya bisa berdiri mengkritik tanpa melakukan apapun.

Ada beberapa dalil yang menguatkan tentang keharusan muslim menggunakan bank syariah, meskipun masih dalam tahap yang belum 100%, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kaidah mâ lâ yudraku kulluh lâ yutraku kulluh (jika kita tidak bisa mendapatkan semuanya, maka jangan ditinggalkan semuanya). Dalam praktiknya, lebih baik kita menggunakan bank yang hampir dan mempunyai itikad baik untuk bersyariah, dari pada yang tidak.
  2. Fikih tadriji (fikih berjenjang). Maksudnya adalah, seperti dalam pelarangan minum khamr yang tidak langsung haram sekaligus, akan tetapi perlu adanya jenjang dalam pelarangannya. Bayi tidak mungkin langsung disuruh untuk lari, akan tetapi harus merangkak dan terjatuh terlebih dahulu, sebagaimana bank syariah yang sedang diterapkan di Indonesia.
  3. Bank konvensional berbeda dengan bank syariah dalam permasalahan akadnya. Dalam Islam, beda akad, beda hukumnya, meskipun hasilnya sama. Hal ini sama seperti dalam permasalahan menikah dan berzina. Sama-sama berhubungan badan dan mempunyai keturuan, akan tetapi satunya bernilai ibadah, dan satunya bernilai dosa.
  4. Perbedaan bank syariah dan bank konvensional juga ada pada penerapan bagi hasil, bukan pada bunga yang fix.

Bu Rika, Ikut Kajianmu karena Ingin Bisa Baca Al Qur’an

Oleh : FM. Ulya

Membaca kitab suci Al Qur’an adalah kebutuhan bagi setiap muslim. Lebih-lebih jika berusaha memahami makna dan kandungan dari ayat yang di baca.  Tak terkecuali Bu Rika, salah seorang jamaah Kajianmu di Argorejo, Sedayu, Bantul. Wanita pemilik nama lengkap Rikawati Ristyawardani ini telah menjadi jamaah Kajianmu sejak bulan Februari 2018.

Bu Rika sedang membuat pesanan jajanan pasar di dapurnya yang tampak sederhana.

Awal Mula Ikut Kajianmu

Ajakan mengikuti Kajianmu datang dari tetangganya yang juga sudah aktif mengikuti Kajianmu. Ajakan yang pertama dan kedua ditanggapi oleh Ibu satu anak ini dengan tidak begitu antusias. Baru setelah ajakan yang ketiga kalinya, ia memantapkan diri untuk berangkat pengajian. Awalnya ia merasa malu karena masih belum bisa membaca Iqro’ dengan lancar.

“Ya saya bilang Mbak ke Bu Indra (tetangga yang mengajak) kalau saya mau berangkat Kajianmu nanti setelah saya bisa baca huruf hijaiyah. Saya malu orang belum bisa baca. Tapi kata Bu Indra, niat baik itu disegerakan nggak perlu di tunda-tunda. Yasudah akhirnya saya berangkat.” Jelasnya.

Keputusan Bu Rika untuk berangkat di sore itu ternyata membuat hatinya nyaman dan sreg dengan pengajian di Kajianmu karena ngajinya simpel dan menyenangkan.

Seorang Muallaf

Wanita kelahiran 19 September 1978 ini adalah seorang Muallaf. Ia mengucapkan dua kalimat Syahadat pada usia 20 tahun. Sejak kecil Bu Rika di didik oleh orangtuanya untuk menjadi nasrani yang taat. Ia di sekolahkan di sekolah kesusteran dan menjadi putra altar pendeta. Bahkan saat remaja ia juga aktif di organisasi Muda-Mudi Katholik (Mudika).

“Saya dulu hidup di lingkungan nasrani Mbak. Tapi setelah ayah saya meninggal, keluarga pindah ke Malang, Jawa Timur. Sejak saat itu saya tinggal bersama dengan keluarga besar Ibu saya yang semuanya Islam.” Tutur Bu Rika

Perpindahan dari Yogyakarta ke Malang membuat Bu Rika lebih mengenal Islam. Apalagi seluruh saudara-saudaranya adalah muslim. Ia menceritakan bagaimana dahulu saat semua saudaranya sedang merayakan lebaran, sholat ‘Ied, sholat Tarawih bersama- sama ke masjid sedangkan dirinya hanya di diam di rumah, Bu Rika merasa sedih. Perlahan, Ia belajar tentang Islam dengan menanyakan kepada Kakak sepupunya, membaca buku-buku tentang Islam dan mengamati saudara-saudaranya menjalankan Ibadah. Hingga pada suatu malam, Ia sering bermimpi mendirikan sholat. Akhirnya wanita yang sekarang berusia 40 tahun ini memberanikan diri untuk mengatakan ke Ibu dan saudaranya bahwa ia ingin memeluk agama Islam. Niat Bu Rika pun disambut dengan penuh syukur dan haru dari seluruh keluarga besarnya di Jawa Timur.

“Saya waktu itu masuk Islam jam 3 sore pas besoknya hari pertama bulan Ramadhan. Saya dipanggilkan Ustadz oleh keluarga besar dan saat itu Kakak kandung saya juga ikut masuk Islam. Kata Ustadznya waktu itu, saya masuk Islam di bulan Ramadhan itu suatu berkah dari Allah SWT, dosa-dosa saya yang dulu di hapus, kembali seperti bayi yang baru lahir. Akhirnya saya menangis dan semua keluarga besar yang menyaksikan juga ikut menangis.” Kenang Bu Rika sembari berlinangan air mata.

Ikut Kajianmu karena Ingin Bisa Baca Al Qur’an

Setelah menikah, Bu Rika berpindah ke Yogyakarta mengikuti pekerjaan suaminya. Saat ini, Ia dan keluarga kecilnya tinggal di daerah Argorejo, Sedayu, Bantul. Sehari-hari ia membuat kue-kue kecil/ jajanan pasar untuk memenuhi pesanan. Wanita berkacamata ini merasa bersyukur bisa hidup di lingkungan yang mendukung ia dan suaminya untuk belajar agama. Apalagi sekarang ia sudah aktif mengikuti pengajian di Kajianmu. Ajakan tetangganya untuk ikut Kajianmu ternyata membuat Bu Rika merasa candu. Ia merasa gelo jika tidak berangkat Kajianmu yang dilakukan setiap Sabtu sore.

“Waktu saya berangkat Kajianmu pertama kali saya masih belajar a..ba..tapi Alhamdulillah, ternyata disana saya nggak malu. Dari rumah itu saya udah niatkan bahwa saya harus bisa baca Al Qur’an. Saya berfikir, kenapa Simbahnya suami saya itu orangnya nggak bisa baca tulis tapi bisa baca Al Qur’an, kok aku ini yang bisa baca tulis malah nggak bisa !?. Berarti kan saya harus belajar tho.. ya, itu di Kajianmu itu.” Papar Bu Rika dengan semangat.

Meskipun Bu Rika juga tidak menafikkan bahwa pinjaman modal dan pendampingan usaha yang diberikan Kajianmu juga dirasakan manfaatnya oleh beliau. Namun, tujuan paling utamanya adalah ingin bisa membaca Al Qur’an. Semangat wanita paruh baya ini untuk bisa membaca Al Qur’an telah membawanya sampai di Iqro’ 3 dari awalnya masih bingung dalam mengenal huruf hijaiyah.

Bu Rika sedang mengulang membaca Iqro’ secara mandiri di rumah sembari menunggu anak pulang sekolah.

“Apalagi di Kajianmu itu, pertama, selain memberi pinjaman, terus terang saya ingin belajar bisa baca Al Qur’an nya Mbak. Kedua, cara pengajarannya itu yang enak, dan yang ketiga, saya ingin hidup tanpa riba. Saya ingin hidup damai tanpa riba. Saya tuh merasa rugi, eman kalau nggak berangkat. Pas hari Sabtu yang lalu saya nggak berangkat itu saya mikir, aduh apa nggak apa-apa ya kalau saya berangkat terlambat..gitu. Pulang dari pengajian itu rasanya kayak hp habis di isi baterai itu lho Mbak.” Lanjut Bu Rika.

Bu Rika juga merasa bersyukur karena dengan adanya pendampingan usaha Kajianmu, pesanannya semakin banyak. Ia mengungkapkan bahwa omset bulan Oktober 2018 ini adalah tertinggi dari sebelum-sebelumnya yang mencapai Rp. 800.000. Selain itu, pinjaman yang di dapatkan dari Kajianmu digunakan untuk menutup pinjaman Dasa Wisma yang menurutnya mengandung unsur riba. Wanita yang dahulu pernah menjalankan usaha Kerupuk Ikan dan Stik ini pun berharap agar Kajianmu bisa terus ada sehingga ia sampai bisa membaca Al Qur’an dengan lancar. Amiin

InsyaAllah ya Bu…semoga berkah rahmat Ilahi senantiasa mengiringi tiap-tiap upaya kita semua !.