Tanya Jawab Kajianmu #2

Oleh : Alda Kartika Yudha

Muslimah Dilarang ke Masjid?

Muslimah tidak boleh kemasjid? Benarkah? Tidak sedikit orang yang kemudian menyerang  Islam hanya karena adanya pendapat yang melarang wanita untuk shalat berjamaah di masjid. Mereka menyerang Islam dan mengatakan bahwa Islam agama pengekang para wanita. Anggapan mereka ini ditambah dengan bumbu-bumbu permasalahan poligami, bolehnya suami memukul istri, hak waris, dll. Padahal jika mereka ini mau mencoba obyektif, pendapat ulama yang mengatakan tidak boleh ini hanyalah pendapat sebagian ulama. Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Permasalahan ini adalah permasalahan khilafiyah. Bahkan dari mereka yang mengatakan tidak boleh ini, ada beberapa yang mengatakan bahwa hal ini hanyalah permasalahan keutamaan bagi wanita untuk shalat di rumah. Lalu benarkah ada ulama yang menganjurkan dan membolehkan wanita untuk shalat berjamaah di masjid?  Apa dalil yang mereka gunakan?

Pendapat yang membolehkan
Syekh Muhammad Ghozali (wafat 1416 H/1996 M)yang merupakan ulama dan pemikir dari Mesir dalam buku Qadhaya Mar’ah (Seputar permasalahan wanita) memberikan penjelasan tentang kebolehan wanita untuk berjamaah di masjid. Beliau mengatakan bahwa hubungan muslim baik laki-laki ataupun perempuan dengan masjid itu bisa menjadi pertanda seberapa dalam perasaannya. Masjid adalah tempat yang penuh dengan lantunan zikir kepada Allah. Didalamnya, orang-orang berkumpul mengharapkan kebaikan. Bahkan dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa salah satu golongan yang akan mendapat naungan di hari kiamat dimana tidak ada naungan selain dariNya, adalah seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid. Muslim dan muslimah mempunyai kesamaan dalam hal keterkaitannya dengan masjid, yang menjadi pembeda adalah pada dasarnya pekerjaan wanita yang paling mulia itu ada dirumahnya.

Kewajiban wanita dalam menjaga rumah dan harta suaminya kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah. Menjaga rumah dan harta suami hukumnya wajib bagi seorang istri, sedangkan shalat jama’ah hukumnya adalah sunnah. Maka tidak boleh seseorang mendahulukan yang sunnah dengan meninggalkan yang wajib. Jika seorang wanita berhalangan hadir ke masjid dikarenakan uzur yang berkaitan dengan tanggungjawabanya sebagai ibu dan istri, maka baginya pahala jamaah, meskipun dia tidak hadir shalat jamaah! Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang istri ataupun ibu membiarkan urusan rumah tangga berantakan, menunda-nunda kebutuhan anak dan suami demi sunnah berjamaah. Namun, jika sang istri sudah menunaikan kewajibannya, maka menjaga shalat jama’ah dan berlomba untuk meraih pahala dari Allah Swt. dengan shalat berjamaah merupakan hak seorang istri. Sang suami tidak boleh melarangnya.

Dalil Mereka
Ada beberapa golongan yang kemudian menyalahkan dan melarang perempuan yang shalat berjamaah dan mengatakan bahwa jamaah itu hanyalah untuk laki-laki. Golongan ini mengatakan bahwa rumah itu lebih baik bagi perempuan daripada masjid, padahal sangat jelas dizaman nabi dan Khulafaur Rasyidin para wanita juga ke masjid.  

Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah hadis dari Abdulllah bin Umar bahwa Rasulullah pernah berkata: “Janganlah kamu melarang wanita-wanitamu ke masjid ketika mereka meminta izinmu.”

Atau hadis yang diriwatkan juga oleh Muslim juga yang berbunyi: “Jangan kamu melarang perempuan-perempuanmu ketika ingin keluar dimalam hari ke masjid.”

Ibnu Hazm juga memberikan sanggahan atas pendapat “tidak boleh” itu dengan berkata “Jika memang begitu, kenapa Rasulullah Saw. membiarkan para sahabiyah yang berdatangan ke masjid jika rumah-rumah mereka lebih afdhal?  Dan juga, kenapa Rasulullah Saw.  memerintahkan para perempuan bahkan yang haid untuk datang ke tanah lapang tempat shalat ied. Anjuran bagi perempuan untuk datang ke shalat ied ini bahkan sampai memerintahkan bagi wanita yang tidak mempunyai jilbab untuk meminjam saudaranya atau tetangganya yang punya jilbab. Dengan hal ini, bagaiamana bisa (shalat) wanita dirumah lebih afdhal?”

Perkataan Ibnu Hazm kemudian dijawab oleh golongan pertama. “Hal itu (red:bolehnya wanita untuk keluar ke masjid pada masa itu) adalah untuk syiar kepada musuh bahwa jumlah umat muslim banyak. Karena jika perempuan tidak ikut ke tanah lapang, akan ketahuan bahwa jumlah umat muslim sedikit.”

Ibnu Hazm kemudian menjawab bantahan mereka dengan perkataan, “Hal ini jelas mengada-ada dan bentuk kedustaan atas nama Rasul. Hal ini jelas perkataan yang tanpa didasari ilmu, karena Rasulullah Saw. sendiri memerintahkan hal ini agar supaya kaum wanita menyaksikan ied  mendapat kebaikan serta menjadi jalan da’wah bagi kaum muslim. Selain pernyataan ini mengada ada, hujjah diatas juga sangat lemah, karena Rasul sendiri tidak mempunyai bala tentara untuk mengintimidasi musuh. Rasul juga tidak mempunyai musuh kecuali orang-orang munafiq dan orang Yahudi Madinah yang pasti tahu bahwa yang berkumpul adalah para wanita.”

Dalam hal ini, Syekh Ghozali juga mengatakan bahwa pada dasarnya larangan jamaah di masjid bagi wanita merupakan hal yang buruk, musibah bagi kehidupan sosial dalam islam, mewariskan kebodohan, menjadi sebab buruknya pendidikan dan juga merupakan taqlid buta. Tidak ada obatnya kecuali kembali kepada ajaran Rasulullah Saw yang mana tertuang pada hadis dan sejarah, serta perbuatan para sahabat.

Banyak kita lihat di zaman ini golongan yang melarang wanita ke masjid tanpa mengatakan bahwa hal ini pada dasarnya adalah masalah khilafiyah. Disisi lain, larangan ini juga menimbulkan efek negatife yang patut kita waspadai yang sangat memprihatinkan bagi umat islam. Efek negatifnya adalah kurangnya pendidikan agama islam bagi para wanita. Jama’ diketahui bahwa masjid adalah tempat untuk pendidikan agama islam. Tidak semua suami sanggup mendidik istri dan anaknya tentang agama islam. Oleh karena itu perginya wanita ke masjid bisa menjadi solusi. Apalagi seorang wanita adalah madrasah pertama bagi anaknya, bagaimana bisa kita mengharapkan generasi berikutnya bisa paham agama jika ibu serta ayah mereka saja tidak paham soal agama, ditambah ibunya tidak boleh pergi ke masjid!?

Catatan yang harus diperhatikan
Meskipun dibolehkan, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh umat muslim mengenai hal ini. Beberapa diantaranya adalah kewajiban masyarakat untuk memastikan bahwa jalan menuju ke masjid merupakan jalan yang aman. Pelu diperingatkan juga kepada kaum wanita bahwa perginya mereka kemasjid adalah untuk perkara ibadah dan bukan untuk pamer serta ajang adu cantik di depan para laki-laki.

Diriwayakan dari Zainab istri Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasul pernah bersabda: “Jika kalian ingin ke masjid maka janganlah kalian menggunakan minyak wangi.”

Dalam permasalahan minyak wangi ini, kita dapat membagi minyak wangi ada dua jenis. Jenis pertama adalah minyak wangi yanh igunakan untuk membunuh kuman dan menghilangkan bau tak sedap. Minyak wangi yang seperti ini tentu dibolehkan. Sedangkan jenis kedua adalah minyak wangi dengan bau yang berlebihan yang seolah mengundang orang untuk melihat siapa pemakainya. Inilah jenis yang dilarang. Tidak lupa juga agar tidak menjadi fitnah bagi laki-laki, aturan sebisa mungkin untuk memisahkan pintu masuk antara perempuan dan laki-laki sehingga tidak berdesak-desakan didalamnya. Dalam permasalahan shalat jama’ah di masjid bagi wanita ini, Islam membolehkan, akan tetapi kita juga harus memperhatikan aturan-aturan yang ada demi kemaslahatan bersama.

Wallahu a’lam bissawab

Muhammad al-Ghazali, Qadhâyâ al-Mar`ah, Dar Asy-Syuruq, cet 10, 2013, hal. 207

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *