Bagaiamana Cara Menuntut Ilmu yang Diajarkan Para Ulama Salaf?

Oleh : Alda Kartika Yudha

Imam Syafi’i mengatakan, bahwa ada enam hal yang harus dimiliki oleh para pencari ilmu, yaitu: Kecerdasan, Kerakusan dalam menuntut ilmu, Kesungguhan, Bekal (harta), Bimbingan guru, dan Waktu yang panjang.

Doc: google.com
  • Kecerdasan

Semua hamba yang mempunyai akal pasti mempunyai kecerdasan, dan kecerdasan masing-masing manusia tentunya berbeda-beda. Tapi yang perlu menjadi perhatian adalah,  bahwa kecerdasan disini hanyalah sarana (alat) dan bukan tujuan. Sebagai hamba, kewajiban kita adalah berusaha keras untuk mencari ilmu, bukan untuk menjadi orang yang pintar. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada kita “Bacalah!”, dan tidak mewajibkan kita untuk “Pintarlah!”. Pintar  adalah hasil yang dikaruniakan oleh Allah untuk kita yang salah satunya lewat sarana kecerdasan. Sedangkan kewajiban kita adalah memanfaatkan kecerdasan itu, semaksimal kita.

  • Kerakusan dalam menuntut ilmu

Kerakusan disini memiliki makna istikamah atau berterus-terusan dalam menuntut ilmu. Dalam perihal membaca kitabnya, menghafalnya, mempelajarinya, menuntut ilmu, dan sebagainya. Sebagai contoh, Imam Bukhari ketika ditanya tentang kekuatan hafalannya, beliau menjawab bahwa hal itu dikarenakan seringnya beliau dalam membaca dan murâjaah kitab.

  • Kesungguhan para ulama

Dalam perihal kesungguhan dalam menuntut ilmu, Syekh Ali Jum’ah bercerita bahwa Imam Nawawi pengarang kitab Arba’în al-Nawawiyah, Syarah Shahih Muslim, al-Majmu’, Raudhah al-Thâlibin, dan lainnya. Setiap hari beliau belajar 12 jenis ilmu. Imam Nawawi juga sangat jarang sekali tidur dengan sisi tubuhnya, beliau tidur dalam keadaan duduk selama dua tahun. Bahkan karena kesungguhan dan pemanfaatan waktunya untuk belajar, dalam perkara makan pun beliau disuapi oleh ibunya. Karena kecintaanya pada ilmu juga, imam Nawawi sampai tidak menikah. Beliau sangat kurus, hingga pernah ada yang tidak yakin bahwa beliau adalah imam Nawawi, karena dia fikir sang imam pastilah berbadan subur dan besar.

Contoh lainnya, dalam buku Shafahât min Sabri al-Ulama, Abdul Fatah Abu Ghudah menceritakan tentang kesabaran dan juhud para ulama dalam menuntut ilmu. Beberapa contohnya adalah Sa’id bin Musayyab yang pernah melakukan perjalanan berhari-hari demi mendapat satu hadis saja.

Ibnu Muqri’ bin Ali juga pernah menceritakan bahwa dirinya, al-Tabrani dan Abu Hayyan pernah menuntut ilmu di Madinah. Waktu itu mereka kehabisan bekal sehingga mereka akhirnya berpuasa wishâl (puasa setiap hari, tanpa jeda). Ketika datang waktu isya’, Ibnu Muqri’ mengaduh karena lapar yang sangat, sembari menyebut nama Rasulullah Saw. Al-Thabrani berkata: “Duduklah, karena pilihannya hanya dua, jika tidak datang rizki maka akan datang kematian! Kemudian Ibnu Muqri’ dan Ibnu Hayyan memutuskan untuk mendirikan salat. Tiba-tiba datang seseorang bersama dua anak kecil membawa keranjang makanan dan berkata: “Kalian mengadu kepada Rasulullah, dan Rasulullah datang ke dalam mimpiku agar membawakan sesuatu untuk kalian”.

  • Bekal

Sebagai contoh konkrit dalam permasalahan ini adalah kisah Yahya bin Ma’in, seorang ulama jarh wa ta’dil yang merupakan guru dari Imam Bukhari dan Muslim, dan guru ulama hadis lainnya. Beliau pernah mendapat warisan dari ayahnya senilai 1.050.000 dirham, yang mana semua itu beliau gunakan untuk belajar ilmu hadis, hingga tidak tersisa untuk beliau meskipun hanya sebuah sandal.

Mengenai hal ini Syekh Ali Jum’ah juga berkata: Berikan pada ilmu apapun yang kau punya, maka dia (ilmu) akan memberimu sebagian darinya”.  Lalu apa yang akan diberikan ilmu pada kita, jika kita pelit atau tidak mempunyai apa-apa sebagai bekal untuk menuntut ilmu?!

  • Bimbingan Guru

Pentingnya guru dalam menuntut ilmu tidak ada yang dapat memungkiri. Tanpanya, meskipun seorang murid sangat rajin membaca buku, pemahamannya bisa jadi salah atau tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pengarang kitab. Dalam konteks ajaran agama, pemahaman  seseorang terhadap teks al-Quran dan sunnah (meskipun terihat benar) bisa jadi tidak sesuai dengan pemahaman Nabi Muhammad Saw. Hal ini sering sekali terjadi pada zaman ini, seseorang dapat menganggap dirinya berada dalam kebenaran, sedangkan cara pandang lainnya adalah faham yang sesat.  Salah satu sebab terjadinya hal ini adalah banyak orang yang meremehkan peran guru, lalu belajar sendiri dari buku (kitab), lalu berfatwa kesana kemari. Pun banyak juga yang menjadikan seseorang sebagai guru, padahal orang tersebut hanya belajar sendiri tanpa mempunyai guru.

Syekh Ali Jum’ah menambahkan, bahwa dalam menuntut ilmu ada yang dinamakan sebagai Rukun Ilmu, yaitu guru, murid, kitab, manhaj (metode), dan lingkungan ilmiah. Syekh Usamah Sayyid al-Azhari juga mengatakan, bahwa lima hal ini bagaikan dua sayap pada burung. Tidak boleh hilang salah satunya.

Dalam salah satu kuliahnya, Syekh Usamah pernah berbicara tentang pentingnya guru dan ketersambungan sanad keilmuan dalam ilmu agama. Beliau mengatakan bahwa ilmu agama ini adalah amanah agama, sehingga kita harus belajar dan mengambil ilmu dari seorang guru yang mempunyai sanad (rantai periwayatan). Maksudnya adalah seorang guru yang belajar dari seorang guru juga, dan guru dari guru ini belajar juga dari seorang guru, dan begitu seterusnya, hingga guru dari guru-guru ini tadi diketahui belajar dari para sahabat dan para sahabat belajar dari Nabi Muhammad Saw.

Beliau menambahkan, bahwa orang yang belajar ilmu agama pada seorang ulama yang tidak memiliki sanad keilmuan (atau sanadnya terputus) hingga Rasulullah itu hakikatnya yatim dalam ilmu agama, seolah ilmunya tidak berayah. Tidak dibenarkan seseorang hanya membaca dan memahami buku agama tanpa seorang guru yang sanad ilmunya tersambung sampai Rasulullah, karena bisa jadi pemahaman yang dimilikinya akan berbeda dengan pemahaman yang diajarkan Rasulullah pada para sahabat.

Dari perkataan Syekh Usamah tersebut dapat dipahami bahwa hakikatnya ilmu agama ini adalah amanah yang diserahkan dari Rasul kepada sahabat, lalu dari sahabat kepada tabi’in dan seterusnya hingga sampai pada ulama zaman sekarang dengan sanad yang bersambung. Hal ini jugalah yang seharusnya diterapkan dan dipahami oleh siapa saja yang mengatakan bahwa dirinya ingin kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Tidak tepat ketika seseorang berkata “kita kembali kepada Al-Quran dan Sunnah”, tetapi tidak memiliki guru yang tersambung sanad keilmuan dan pemahamannnya hingga Rasulullah Saw., apalagi hanya membaca sendiri dari sahih bukhari atau maktabah Syamilah. Bisa jadi itu bukan “kembali kepada al-Quran dan sunnah”, akan tetapi justru kembali kepada hawa nafsu sendiri. Karena meskipun al-Quran dan Sunnah itu maksum, tetapi pemahaman kita pada Quran dan sunnah tidaklah maksum. Maka ketersambungan sanad ini sangat diperlukan sekali. Dengan bersambungnya sanad sampai pada Rasul, maka bisa dikatakan bahwa pada hakekatnya kita langsung belajar pada Rasulullah, dengan perantara para ulama. Dengan begitu, pada hakikatnya kita benar-benar kembali kepada al-Quran dan Sunah sesuai manhaj Nabi Muhammad Saw.

Mengenai pentingnya sanad ini, dalam mukadimah Shahih Muslim, Ibnu Mubarak mengatakan: “Jika bukan karena sanad, maka siapapun bisa mengatakan apapun.” Begitulah pentingnya sanad, oleh karenanya hal ini tidak boleh disepelakan oleh seorang yang ingin mencari kebenaran dalam Islam.

  • Waktu yang panjang

Beberapa cerita mengenai juhud ulama yang telah disampaikan di atas menunjukkan bahwa para ulama sangat mengerti; seseorang yang menuntut ilmu itu tidak bisa hanya dengan proses sehari dua hari lalu abrakadabra dan jadilah ulama atau mujtahid. Bahkan untuk mempelajari satu jilid dari kitab al-Mughni karangan Ibnu Qudamah saja, syekh Ali Jum’ah membutuhkan waktu lebih dari 40 tahun! Hal ini juga menjadi anjuran agar tidak terburu-buru dalam menuntut ilmu, karena terburu-buru dalam menuntut ilmu hanya akan mengantarkan kita pada setan dan kebodohan.

Sebagai sindirian bagi mereka yang menganggap dirinya ulama padahal sejatinya termasuk juhalâ (orang-orang bodoh) disebabkan karena kilatnya dalam menuntut ilmu, Syekh Muhammad Ghazali dalam kitabnya al-Sunnah al-Nabawiyah Baina Ahlu Fiqh wa Ahlul Hadits pernah mengatakan “Saya mempunyai tujuan (cita-cita) untuk memurnikan sunnah nabawiyah dari hal-hal yang mencampurinya, juga menjaga keilmuan islam dari orang-orang yang menuntut ilmu pada hari sabtu, kemudian mengajarkannya pada hari ahad, lalu mengambil gelar professor pada hari senin, dan pada hari selasa mereka berdebat dengan para Imam besar seraya berkata: “nahnu rijal wa hum rijal” (kita ulama dan mereka juga ulama).”

Begitulah kiranya bagaimana para ulama terdahulu berusaha keras dalam menuntut ilmu dan tidak hanya menjadikannya sebagai pekerjaan sambilan. Orang yang berilmu adalah kunci kemajuan semua peradaban, begitu juga peradaban Islam, pun kemunduranya. Sebab lain adalah banyaknya para jahil yang kemudian mengaku sebagai pemimpin dan ulama. Mereka yang jahil ini kemudian berbuat kezaliman atau fatwa sembarangan secara sadar ataupun tidak, dan dengan lantang mengatasnamakan diri mereka Islam yang haq, Islam yang sebenarnya. Mereka telah sesat juga menyesatkan.

Hal ini sesuai sabda Nabi 1500 tahun silam yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambanya dengan cara sekali cabut, akan tetapi dengan memwafatkan para ulama. Sehingga ketika tidak ada lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu. Maka mereka sesat lagi menyesatkan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Konfirmasi  donasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu) atau melalui e-mail di kajianmuid@gmail.com.

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Ilmu dan Ulama Dalam Islam

Oleh : Alda Kartika Yudha

Doc: google.com

Syekh Ali Jum’ah (Mantan Mufti Mesir) pernah mengatakan bahwa tugas manusia sebagai khalifah Allah di dunia ini ada tiga; Ibadah kepada Allah, Memakmurkan atau membangun dunia, dan Mensucikan diri. Dari semua tugas ini ada satu hal yang dibutuhkan dan tidak dapat dilepaskan dari ketiga hal tersebut, yaitu Ilmu.

Ilmu tidak akan terlepas dari segala aspek kehidupan. Orang berilmu pasti akan selalu menjadi penunjuk jalan bagi mereka yang awam. Semua orang sadar akan pentingnya ilmu dan ulama. Lalu bagaimana hakikat ilmu dan ulama dalam islam?

Ulama dan Keistimewaannya

Dalam kitab Tadzkirah as-Sâmi’ wa al-Mutakallim karya Qadhi Badrudin bin Jama’ah, beliau menyebutkan banyak sekali keistimewaan seorang ulama. Beliau mengambil ayat-ayat al-Quran, hadis Nabi, maupun perkataan para sahabat dan ulama, ketika menjelaskan keistimewaan seorang yang bergelar ulama. Beberapa diantaranya adalah firman Allah yang berbunyi:

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang  beriman diantara kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat (al-Mujadalah: 11).

Ibnu Abbas mengatakan bahwa keutamaan ulama itu 700 derajat lebih tinggi daripada mukmin biasa, dan jarak antara masing-masing derajat itu adalah 100 tahun. Termasuk hadis yang sudah tidak asing tentang keistimewaan ulama adalah hadis yang berbunyi: “Para ulama adalah pewaris para nabi.”(HR Tirmidzi).

Jamak diketahui bahwa tidak ada derajat yang lebih mulia di dunia ini daripada derajat kenabian. Akan tetapi Nabi Muhammad Saw adalah nabi terakhir, maka derajat kenabian ini sudah tidak ada lagi. Oleh karena itu derajat kemuliaan tertinggi yang bisa dimiliki oleh manusia sekarang adalah pewaris para nabi, yaitu mereka yang bergelar ulama. Dalam hadis yang diriwayatkan Daru Qutni, Nabi juga mengatakan bahwa satu ahli fikih (ulama) itu lebih dibenci oleh setan daripada 1000 ahli ibadah.

Senada dengan ayat dan hadis tentang keistemewaan ulama,  Abu Muslim al-Khulaini mengatakan bahwa ulama itu layaknya bintang di langit, ketika muncul, maka ia akan menjadi petunjuk jalan bagi manusia. Dan ketika hilang, maka manusia akan kebingungan. Begitu juga Aswad ad-Duali,  beliau menyatakan bahwa raja adalah hakim bagi manusia, dan ulama adalah hakim bagi raja.

Banyak sekali ayat quran, hadis, atsar yang menjelaskan keistimewaan orang yang bergelar ulama. Penulis diatas hanya menyebutkan beberapa saja. Tentunya gelar ulama ini tidak bisa diperoleh dengan mudah dan instan.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Tanya Jawab Kajianmu #2

Oleh : Alda Kartika Yudha

Muslimah Dilarang ke Masjid?

Muslimah tidak boleh kemasjid? Benarkah? Tidak sedikit orang yang kemudian menyerang  Islam hanya karena adanya pendapat yang melarang wanita untuk shalat berjamaah di masjid. Mereka menyerang Islam dan mengatakan bahwa Islam agama pengekang para wanita. Anggapan mereka ini ditambah dengan bumbu-bumbu permasalahan poligami, bolehnya suami memukul istri, hak waris, dll. Padahal jika mereka ini mau mencoba obyektif, pendapat ulama yang mengatakan tidak boleh ini hanyalah pendapat sebagian ulama. Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Permasalahan ini adalah permasalahan khilafiyah. Bahkan dari mereka yang mengatakan tidak boleh ini, ada beberapa yang mengatakan bahwa hal ini hanyalah permasalahan keutamaan bagi wanita untuk shalat di rumah. Lalu benarkah ada ulama yang menganjurkan dan membolehkan wanita untuk shalat berjamaah di masjid?  Apa dalil yang mereka gunakan?

Pendapat yang membolehkan
Syekh Muhammad Ghozali (wafat 1416 H/1996 M)yang merupakan ulama dan pemikir dari Mesir dalam buku Qadhaya Mar’ah (Seputar permasalahan wanita) memberikan penjelasan tentang kebolehan wanita untuk berjamaah di masjid. Beliau mengatakan bahwa hubungan muslim baik laki-laki ataupun perempuan dengan masjid itu bisa menjadi pertanda seberapa dalam perasaannya. Masjid adalah tempat yang penuh dengan lantunan zikir kepada Allah. Didalamnya, orang-orang berkumpul mengharapkan kebaikan. Bahkan dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa salah satu golongan yang akan mendapat naungan di hari kiamat dimana tidak ada naungan selain dariNya, adalah seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid. Muslim dan muslimah mempunyai kesamaan dalam hal keterkaitannya dengan masjid, yang menjadi pembeda adalah pada dasarnya pekerjaan wanita yang paling mulia itu ada dirumahnya.

Kewajiban wanita dalam menjaga rumah dan harta suaminya kelak akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah. Menjaga rumah dan harta suami hukumnya wajib bagi seorang istri, sedangkan shalat jama’ah hukumnya adalah sunnah. Maka tidak boleh seseorang mendahulukan yang sunnah dengan meninggalkan yang wajib. Jika seorang wanita berhalangan hadir ke masjid dikarenakan uzur yang berkaitan dengan tanggungjawabanya sebagai ibu dan istri, maka baginya pahala jamaah, meskipun dia tidak hadir shalat jamaah! Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang istri ataupun ibu membiarkan urusan rumah tangga berantakan, menunda-nunda kebutuhan anak dan suami demi sunnah berjamaah. Namun, jika sang istri sudah menunaikan kewajibannya, maka menjaga shalat jama’ah dan berlomba untuk meraih pahala dari Allah Swt. dengan shalat berjamaah merupakan hak seorang istri. Sang suami tidak boleh melarangnya.

Dalil Mereka
Ada beberapa golongan yang kemudian menyalahkan dan melarang perempuan yang shalat berjamaah dan mengatakan bahwa jamaah itu hanyalah untuk laki-laki. Golongan ini mengatakan bahwa rumah itu lebih baik bagi perempuan daripada masjid, padahal sangat jelas dizaman nabi dan Khulafaur Rasyidin para wanita juga ke masjid.  

Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah hadis dari Abdulllah bin Umar bahwa Rasulullah pernah berkata: “Janganlah kamu melarang wanita-wanitamu ke masjid ketika mereka meminta izinmu.”

Atau hadis yang diriwatkan juga oleh Muslim juga yang berbunyi: “Jangan kamu melarang perempuan-perempuanmu ketika ingin keluar dimalam hari ke masjid.”

Ibnu Hazm juga memberikan sanggahan atas pendapat “tidak boleh” itu dengan berkata “Jika memang begitu, kenapa Rasulullah Saw. membiarkan para sahabiyah yang berdatangan ke masjid jika rumah-rumah mereka lebih afdhal?  Dan juga, kenapa Rasulullah Saw.  memerintahkan para perempuan bahkan yang haid untuk datang ke tanah lapang tempat shalat ied. Anjuran bagi perempuan untuk datang ke shalat ied ini bahkan sampai memerintahkan bagi wanita yang tidak mempunyai jilbab untuk meminjam saudaranya atau tetangganya yang punya jilbab. Dengan hal ini, bagaiamana bisa (shalat) wanita dirumah lebih afdhal?”

Perkataan Ibnu Hazm kemudian dijawab oleh golongan pertama. “Hal itu (red:bolehnya wanita untuk keluar ke masjid pada masa itu) adalah untuk syiar kepada musuh bahwa jumlah umat muslim banyak. Karena jika perempuan tidak ikut ke tanah lapang, akan ketahuan bahwa jumlah umat muslim sedikit.”

Ibnu Hazm kemudian menjawab bantahan mereka dengan perkataan, “Hal ini jelas mengada-ada dan bentuk kedustaan atas nama Rasul. Hal ini jelas perkataan yang tanpa didasari ilmu, karena Rasulullah Saw. sendiri memerintahkan hal ini agar supaya kaum wanita menyaksikan ied  mendapat kebaikan serta menjadi jalan da’wah bagi kaum muslim. Selain pernyataan ini mengada ada, hujjah diatas juga sangat lemah, karena Rasul sendiri tidak mempunyai bala tentara untuk mengintimidasi musuh. Rasul juga tidak mempunyai musuh kecuali orang-orang munafiq dan orang Yahudi Madinah yang pasti tahu bahwa yang berkumpul adalah para wanita.”

Dalam hal ini, Syekh Ghozali juga mengatakan bahwa pada dasarnya larangan jamaah di masjid bagi wanita merupakan hal yang buruk, musibah bagi kehidupan sosial dalam islam, mewariskan kebodohan, menjadi sebab buruknya pendidikan dan juga merupakan taqlid buta. Tidak ada obatnya kecuali kembali kepada ajaran Rasulullah Saw yang mana tertuang pada hadis dan sejarah, serta perbuatan para sahabat.

Banyak kita lihat di zaman ini golongan yang melarang wanita ke masjid tanpa mengatakan bahwa hal ini pada dasarnya adalah masalah khilafiyah. Disisi lain, larangan ini juga menimbulkan efek negatife yang patut kita waspadai yang sangat memprihatinkan bagi umat islam. Efek negatifnya adalah kurangnya pendidikan agama islam bagi para wanita. Jama’ diketahui bahwa masjid adalah tempat untuk pendidikan agama islam. Tidak semua suami sanggup mendidik istri dan anaknya tentang agama islam. Oleh karena itu perginya wanita ke masjid bisa menjadi solusi. Apalagi seorang wanita adalah madrasah pertama bagi anaknya, bagaimana bisa kita mengharapkan generasi berikutnya bisa paham agama jika ibu serta ayah mereka saja tidak paham soal agama, ditambah ibunya tidak boleh pergi ke masjid!?

Catatan yang harus diperhatikan
Meskipun dibolehkan, ada beberapa catatan yang harus diperhatikan oleh umat muslim mengenai hal ini. Beberapa diantaranya adalah kewajiban masyarakat untuk memastikan bahwa jalan menuju ke masjid merupakan jalan yang aman. Pelu diperingatkan juga kepada kaum wanita bahwa perginya mereka kemasjid adalah untuk perkara ibadah dan bukan untuk pamer serta ajang adu cantik di depan para laki-laki.

Diriwayakan dari Zainab istri Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasul pernah bersabda: “Jika kalian ingin ke masjid maka janganlah kalian menggunakan minyak wangi.”

Dalam permasalahan minyak wangi ini, kita dapat membagi minyak wangi ada dua jenis. Jenis pertama adalah minyak wangi yanh igunakan untuk membunuh kuman dan menghilangkan bau tak sedap. Minyak wangi yang seperti ini tentu dibolehkan. Sedangkan jenis kedua adalah minyak wangi dengan bau yang berlebihan yang seolah mengundang orang untuk melihat siapa pemakainya. Inilah jenis yang dilarang. Tidak lupa juga agar tidak menjadi fitnah bagi laki-laki, aturan sebisa mungkin untuk memisahkan pintu masuk antara perempuan dan laki-laki sehingga tidak berdesak-desakan didalamnya. Dalam permasalahan shalat jama’ah di masjid bagi wanita ini, Islam membolehkan, akan tetapi kita juga harus memperhatikan aturan-aturan yang ada demi kemaslahatan bersama.

Wallahu a’lam bissawab

Muhammad al-Ghazali, Qadhâyâ al-Mar`ah, Dar Asy-Syuruq, cet 10, 2013, hal. 207

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Tanya Jawab Kajianmu #1

Oleh : Alda Kartika Yudha

Pertanyaan:

  1. Jika sudah berkeluarga, bagaimana hukumnya memberi/bersedekah kepada orang tua/anak/di luar keluarga? Mana yang didahulukan?, terutama jika sebagai seorang istri, mengingat bakti ke suami adalah yang utama.
  2. Sebagai orang tua, bolehkah mengharap timbal balik/nafkah ketika anak sudah dewasa/sukses nanti?

Jawaban:

Dalam hal memberikan sedekah, sedekah yang paling utama adalah sedekah ketika kewajiban yang ada pada dirinya sudah terlaksana dan juga dimulai dari orang-orang terdekat. Sebagaimana firman Allah Swt:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al Baqarah: 219)

Selain itu, juga sabda Nabi Muhammad SAW:

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Sedekah yang terbaik adalah yang dikeluarkan selebih keperluan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung.” (HR. Bukhari).

Pada dasarnya harta sang istri adalah milik istri sendiri, dan suami tidak berhak untuk mengambilnya. Dari sini seharusnya dapat dipahami bahwa harta istri dapat digunakan untuk bersedekah ataupun digunakan sesuai keinginan si istri.

Pertanyaan kedua: adapun menyoal orang tua mengharapkan nafkah ketika si anak sudah dewasa adalah hal yang sah-sah saja, meskipun pada dasarnya secara akhlak kurang pas.

Jika ditinjau dari boleh/ tidaknya, hal ini tentunya boleh-boleh saja. Kebolehan itu didasarkan karena memang kewajiban si anak untuk berbakti kepada orang tua dengan sesuai kemampuanya, termasuk memberi nafkah ketika orang tua sudah tidak mempunyai penghasilan.

Meskipun begitu dari segi etika mengungkit-ungkit jasa orang tua ketika membesarkan anak adalah hal yang kurang pas. Di sisi lain, seharusnya si anak juga memahami bahwa orang tuanya sudah tidak bekerja dan membutuhkan bantuan nafkah. Disini pemahaman keagamaan dan akhlak luhur perlu ditekankan, agar si anak juga memahami bahwa memberi nafkah kepada orang tua (yang tidak mampu) juga merupakan bagian dari berbakti kepada orang tua yang sifatnya wajib.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Ekonomi Islam Sebagai Solusi Alternatif

Oleh : Alda Kartika Yudha

Riba dan Kapitalisme

doc : google.com

Tidak hanya bunga (riba) menjadi penyumbang inflasi terbesar (57%), dalam dunia eknomi, sejatunya riba adalah AIDS-nya sistem ekonomi. Ekonom sudah sangat sadar bahwa sebenarnya sistem riba (bunga) dan kapitalisme merupakan sistem brutal (rimba) yang kurang (red: tidak) manusiawi. Jamak diketahui bahwa sistem ini mengandalkan hutang yang diberikan kepada pihak lain. Diakui atau tidak sistem hutang menempatkan manusia (debitur dan kreditur) dalam posisi yang tidak setara. Bahkan tak jarang dalam kondisi tertentu sistem ini membuat hidup debitur seolah menjadi “hak milik” kreditur.

Saking berbahayanya riba, jangankan dalam islam, seluruh agama samawi juga melarang sistem riba. Yahudi dengan Tauratnya (Exodus (22:24)), Nasrani dengan Bible-nya (Ezekiel (18:13), Paslms (15:5)), dan Islam (3:130), (30: 39). Tidak hanya agama, Aristoteles juga mengatakan bahwa mengambil riba adalah perbuatan yang salah. Para filusuf Yunani, menyamakan riba dengan kejahatan. Riba= Evil (Jahat).

Dengan kacamata yang lebih bersar, sebenarnya penyakit riba ini adalah cabang  permasalahan dari sistem ekonomi kapitalis yang kita anut. Sistem ekonomi kapitalis yang sangat mengandalkan modal ini mendapatkan pendapat terbesar-nya dari riba  hutang. Contoh konkritya adalah, Negara-negara berkembang yang menjadi pasien Bank Dunia (IMF), yang kemudian Negara ini hanya sibuk dengan membayar bunga dan kesulitan untuk membayar pokok hutangnya. Lalu kemudian jika Negara ini tidak mampu membayar hutangnya, kekayaan alam-nya kemudian digadaikan. Keturunan-nya kemudian hanya mendapatkan warisan berupa hutang plus bunga.

Dalam sejarahnya, ekonomi kapitalis sebenarnya sudah gagal berkali-kali dalam memenuhi kebutuhan hidup seluruh manusia. Sebagai contoh, puncak krisis besar-besaran pada tahun 1930 yang disebut sebagai “The Great Depression”. Setelah itu pada tahun  1980, dan yang belum lama dan masih terngiang dikepala kita, yaitu kriris moneter pada 1998. Semua itu adalah bukti ketidak berdayaan ekonomi kapitalis. Lalu kenapa dunia masih menggunakan sistem ekonomi ini? Ada dua jawabannya singkatnya, 1) Belum ada sistem ekonomi alternatif, 2) ketika muncul sistem alternatif itu, psikologi masyarakat masih takut untuk berpindah dan terlanjur nyaman dengan kapitalisme.

Ekonomi Islam Sebagai Sistem Altenatif

Dunia pada saat ini, sangat sekali membutuhkan sistem ekonomi alternatif  untuk menggantikan ekonomi kapitalis. Dunia membutuhkan sistem ekonomi tanpa bunga dan yang lebih berperikemanusiaan. Melihat hal ini, tahun 1961 muncul sebuah gagasan para ekonom islam untuk membentuk lembaga keuangan islam (yang salah satu prinsipnya adalah ekonomi tanpa riba) yang ternyata disambut baik oleh seluruh dunia. Hingga saat ini aset yang dikelola oleh perbankan islam mencapai US$ 2.1 trliyun dan belum termasuk retail dan sektor usaha besar, dan sudah tersebar di 75 negara dipenjuru dunia dan tak hanya di negara muslim. Hal ini tentu adalah perkembangan pesat jika dilihat dari umur ekonomi islam itu sendiri, yang mana banyak yang mengatakan, sebenarnya ekonomi islam ini masih dalam tahap “janin”.

Di Indonesia, perkembangan ekonomi islam dimulai dengan didirikannya Bank Muamalat Indonesia (BMI). BMI adalah bank syariah pertama yang dibentuk tahun 1991 akan tetapi dilegalisasi pada tahun 1992 dengan pengesahaan UU  No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan. Pada masa awal berdirinya BMI bisa dikatakan tidak mempunyai greget dalam dunia perbankan Indonesia, sampai akhirnya BMI menunjukan taringnya pada tahun 1997 ketika krisis ekonomi menghantam Indonesia yang salah satu penyebabnya adalah bank konvensional tidak mampu membayar bunga nasabah,. Ketika itu BMI menjadi bank yang mampu mengontrol dan menangai krisis ini ketika bank lain terpaksa gulung tikar. Krisis ini bahkan mengakibatkan,  Presiden Soeharto turun,14 bank dilikuidasi dan digabung menjadi satu, 38 bank ditutup 9 bank direkapitalisasi dan 7 bank diambil alih oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dan satu bank, yaitu BMI berdiri melenggang mampu mengatasi krisis yang ada meskipun dengan usaha yang juga tidak mudah. Hingga tahun 2015, sudah terdapat 12 Bank Syariah (Bank Umum Syariah), 22 Bank Konvensional dengan layanan syariah (Unit Usaha Syariah), 163 Bank Pembiayaan Rayat Syariah (BPRS), dengan asset total 260,366 triliyun atau sekitar 5% dari asset perbankan nasional.

Kesimpulan dan Penutup

Bank syariah sudah menunjukan kredibilitasnya, sekarang giliran kita untuk memperjuangkannya. Dalam setiap perjuangan, ada tiga tipe orang. Pertama adalah pejuang, kedua adalah musuh, dan yang ketiga adalah yang memilih diam. Penulis yakin bahwa pembaca pasti bukanlah musuh dalam perjuangan sistem ekonomi syariah, oleh karena itu, penulis mengajak pembaca untuk sama-sama memperjuangkan ekonomi syariah ini dengan kadar kemampuan masng-masing. Mari mulai dengan bertransaksi dengan menggunakan bank syariah dengan niatan menjauhi riba. Jikapun masih memperlukan bank konvensional, cukup dijadikan sebagai lalu-lintas keuangan saja, dan bukan untuk menyimpan uang. Dengan begitu semoga usaha dan hidup kita menjadi lebih berkah. Karena bagi seorang muslim, usaha bukan melulu soal untung dan rugi, tapi juga keridhoan Allah dengan keberkhan yang menyertainya. Wallahu a’lam bishshawab.

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com

Kajianmu : Jalan Tengah Literasi dan Inklusi Keuangan

Menurut survei yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sampai tahun 2018 yang sebentar lagi habis ini masyarakat yang sudah menggunakan produk dan layanan keuangan  (inklusi keuangan) telah mencapai 67,8%, sementara masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan yang memadai  mengenai produk dan layanan keuangan (literasi keuangan) baru 29,7%. Padahal ada target yang harus dicapai dalam literasi keuangan pada akhir tahun ini yaitu minimal harus mencapai 35% dari target 75% di penghujung tahun 2019.

Kajianmu adalah program pemberdayaan masyarakat yang menerapkan tiga pendekatan sekaligus yaitu memberikan pinjaman modal tanpa jaminan tanpa bunga yang penting datang pengajian, memberikan pembinaan kerohanian melalui pengajian, dan melakukan pendampingan usaha kepada para jamaah. Sebagai program pemberdayaan, tujuan utama Kajianmu adalah mewujudkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi dan masyarakat yang tercerahkan secara ruhani atau membentuk masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT.

Meskipun dalam kegiatannya, Kajianmu memiliki unit usaha mandiri, namun keuntungan yang didapatkan dari unit usaha tersebut digunakan kembali sebagai dana bergulir untuk pinjaman modal usaha jamaah. Tidak hanya itu saja, Kajianmu juga berperan sebagai konsultan manajemen dan pengelolaan keuangan jamaah untuk kemudian dapat diberi akses/ di link-an kepada lembaga keuangan formal syari’ah jika memerlukan suntikan pinjaman modal usaha yang lebih besar.

Kajianmu fokus melakukan pemberdayaan kelompok ibu-ibu ekonomi kelas menengah ke bawah. Oleh sebab itu, Kajianmu sangat strategis untuk memberikan edukasi keuangan pada masyarakat pedesaan. Literasi keuangan sangat erat kaitannya dengan inklusi keuangan. Jika kemampuan dan keterampilan masyarakat pedesaan terkait dengan manajemen keuangan dan pemahaman mengenai peran lembaga keuangan formal sudah semakin baik, maka otomatis tingkat penggunaan produk dan layanan keuangan pada masyarakat pedesaan juga semakin meningkat.

Jika selama ini beda persentase inklusi keuangan dan literasi keuangan cukup tinggi, maka Kajianmu berupaya untuk mengambil jalan tengah agar penggunaan produk dan layanan keuangan selaras dengan pemahaman, keterampilan dan kepercayaan masyarakat pada lembaga keuangan formal juga meningkat. Dengan meningkatnya akses ke lembaga keuangan formal utamanya lembaga keuangan formal syari’ah baik bank maupun non bank maka sudah bisa kita pastikan kepercayaan masyarakat untuk meminjam dana kepada rentenir juga akan semakin turun. Rentenir tidak lagi menjadi alternatif masyarakat untuk mengakses pinjaman modal usaha karena alasan “tidak ribet”, melainkan masyarakat sudah terdidik untuk lebih memilih menggunakan produk dan layanan keuangan di lembaga formal.

Jalan tengah Kajianmu bukan tanpa alasan. Ia lahir dari kegelisahan akibat ulah rentenir yang sangat tinggi pada masyarakat pedesaan. Rentenir berani mendatangi masyarakat secara langsung door to door untuk menawarkan pinjaman dana. Ada masyarakat yang pada akhirnya meminjam karena memang sangat membutuhkan, ada yang meminjam karena hawa nafsu/ tergiur dengan rayuan rentenir untuk memenuhi keinginan konsumtifnya, atau bahkan karena ketidaktahuan masyarakat tentang produk dan layanan lembaga keuangan syari’ah yang sebentulnya bisa mereka akses. Ada pula masyarakat yang sama sekali enggan meminjam kepada rentenir karena memang pedapatannya sudah cukup, mengetahui bahwa pinjam ke rentenir adalah riba, bunga yang sangat tinggi, dan seterusnya. Permasalahan-permasalahan itulah yang ingin diselesaikan oleh Kajianmu. Gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan gerakan sosial untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kajianmu adalah jalan tengah literasi keuangan  sekaligus inklusi keuangan pada masyarakat pedesaan yang membutuhkan akses modal untuk usaha kecil mereka plus dilakukan dengan akad-akad syar’i.

 

Kajianmu menerima donasi untuk kami salurkan sebagai dana bergulir melalui program pemberdayaan umat yang kami bina di No. Rekening BNI Syari’ah  0741493468 a.n Kajian Memberdayakan Umat. Untuk konfirmasi silahkan hubungi (085643501290) Rini Wijayanti (Bendahara Kajianmu).

Website : kajianmu.id
Instagram : @kajianmu.id
E-mail : kajianmuid@gmail.com