Bu Ponirah, Sudah Mengaji Sampai Al Qur’an

Oleh: Fiya Ma’arifa Ulya

Adalah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata saat kita, sebagai umat Islam dapat membaca Al Qur’an dengan lancar, pelafalan hurufnya benar, dan apalagi jika dilantunkan dengan nada yang indah, serta dapat memahami makna ayatnya dengan baik. Untuk mencapai itu semua, tentu membutuhkan proses yang panjang. Bahkan seumur hidup kita tidak akan cukup untuk mempelajari Ilmu-Ilmu Al Qur’an. Namun demikian, belajar tetaplah sebuah proses yang bertahap.

Namanya Bu Ponirah, ia adalah jamaah Kajianmu di Dusun Sundi Kidul, Argorejo, Sedayu, Bantul. Meski usianya sudah semakin senja, semangat Bu Ponirah untuk bisa lancar membaca Al Qur’an justru semakin membara. Setiap Sabtu sore, ia datang membawa mushaf Al Qur’an yang berukuran cukup besar ke lokasi Kajianmu. Ia mengaku sangat senang karena kini sudah mengaji sampai Al Qur’an.

“Saya senang Mbak sudah bisa baca Al Qur’an meskipun bacanya masih terbata-bata. Alhamdulillah, karena yang ngajarin juga telaten datang.” Uangkap Ibu berusia 62 tahun tersebut.

Belajar dari Iqro’

Ibu yang dahulunya bekerja sebagai pembuat cobek dari tanah liat ini sudah mengikuti Kajianmu sejak awal dibuka Kajianmu di dusun tempat Bu Ponirah tinggal. Yaitu sekitar akhir tahun 2017. Saat itu, ia memulai dengan mengaji Iqro’ karena memang masih belajar mengidentifikasi huruf dan membunyikannya.

“Dulu pas ikut ngaji pertama kali itu sampai Iqro’ Mbak, kan dulu masih belajar baca hurufnya. Saya ikut Kajianmu sejak masih di rumah Bu Gesti dulu terus pindah-pindah itu kan, Alhamdulillah yang ngajarin telaten, datang terus.” Cerita Bu Ponirah

Awal mula belajar Iqro’ hingga saat ini sudah sampai Al Qur’an membuat Bu Ponirah semakin bertambah semangat karena cita-cita selanjutnya adalah bisa lancar membaca Al Qur’an hingga khatam. Ia juga berterimakasih kepada relawan Kajianmu yang setiap Sabtu sore telaten datang, meskipun terkadang cuaca kurang bagus atau Ibu-Ibu yang berangkat tidak selalu banyak.

“Dulu saya pernah belajar juga Mbak di musholla itu kan, ada yang ngajarin. Tapi terus lama-kelamaan yang ngajarin mungkin sibuk dan jarang datang, terus malah jadi tidak pernah datang. Padahal waktu itu saya masih belajar baca. Ya terus saya cuma dengarkan cucu saya baca Al Qur’an saja.” Tutur Bu Ponirah sembari mengingat kisah yang pernah ia alami.

Tak lama setelah peristiwa tersebut, Bu Ponirah mendengar kabar bahwa ada program Kajianmu yang kegiatannya adalah belajar membaca Iqro’ dan Al Qur’an. Tanpa berfikir lama, ia pun mengikuti dengan penuh suka cita.

“Terus saya dikasih tahu ada Kajianmu langsung saya ikut Mbak, terus mulai belajar lagi.” Tutur Bu Ponirah sembari menyunggingkan senyum.

Termotivasi dari Cucu

Keinginan Bu Ponirah untuk bisa membaca Al Qur’an termotivasi dari cucunya. Saat Bu Ponirah masih belajar membaca Iqro’, cucunya sudah bisa membaca Al Qur’an dengan lancar. Ia pun kemudian mengikuti majelis belajar mengaji.

“Saya itu kan liat cucu saya kok pada bisa baca Al Qur’an. Bacanya bagus, anak saya juga begitu. Tapi kok saya nggak bisa, akhirnya saya gimana caranya biar saya juga bisa baca Al Qur’an. Meskipun masih terbata-bata dan sudah tua tapi saya tetap mau belajar.” Ujar Ibu kelahiran Bantul, 31 Desember 1956 tersebut.

Gayung pun bersambut. Keinginan Bu Ponirah untuk bisa membaca Al Qur’an mengantarkannya sampai bertemu dengan Kajianmu.

Sudah Sampai Al Qur’an

Sejak pertama kali bergabung dengan Kajianmu hingga kini, Bu Ponirah hampir selalu berangkat mengikuti pengajian. Konsistensi, kemauan dan juga pengajar yang telaten datang mengaj ngaji menjadi faktor yang membuat Bu Ponirah sukses menuntaskan Iqro’ dan berlanjut di mengaji Al Qur’an.

“Alhamdulillah Mbak, sudah ada beberapa bulan ini saya sudah sampai Al Qur’an. Meskipun belum lancar seperti Bu Yulianti dan Bu Yayuk yang sudah dari kecil belajar.  Dan saya juga membacanya masih pelan-pelan.” Lanjutnya

Mari kita sama-sama mendo’akan agar Bu Ponirah bisa mencapai cita-citanya untuk lancar membaca Al Qur’an dan sampai khatam. Bismillah Bu !.

Tak Sekedar Penjual Jamu

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Menjalani profesi apapun jika dilakukan dengan ikhlas dan hati yang tulus insyaAllah akan mendatangkan kebahagiaan dan keberkahan. Mungkin kalimat tersebut cukup tepat untuk menggambarkan sosok Bu Temon. Pemilik nama lengkap Temon Maryati ini sudah kurang lebih 35 tahun berprofesi sebagai penjual jamu. Namun, baru lima belas tahun terakhir atau sejak sekitar tahun 2003 ia mengantongi izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) dan Sertifikat Halal. Bu Temon adalah salah satu jamaah Kajianmu yang berlokasi di Masjid Al Ikhlas, Dusun, Samben, Argomulyo, Sedayu.

Perjalanan Karir

Wanita 52 tahun ini mewarisi keahlian Ibunya sebagai pembuat jamu. Sejak masih muda, ia terbiasa membantu Ibunya meracik ramuan jamu, sehingga semakin lama mampu membuat racikan sendiri. Namun demikian, Bu Temon baru memulai usaha jamu secara mandiri saat kedua anaknya duduk di bangku sekolah dasar (SD).

“Wah… sebenarnya saya udah lama Mbak, dari anak saya kelas 6 SD dan 4 SD udah mulai jualan jamu. Tapi baru 2003 itu yang sudah diakui secara resmi. Ya udah ada 35-an tahun itu yang pribadi lho…sudah dari anak saya masih kecil-kecil.” Papar Bu Temon sambil tersenyum.

Awal berjualan, wanita kelahiran Bantul, 7 Mei 1966 ini masih berjalan kaki keliling daerah Argomulyo dan sekitarnya. Setelah bertahun-tahun jualan, berkahnya kemudian ia mendapat bantuan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) atas rekomendasi dari salah seorang pimpinan ‘Aisyiyah setempat. Bantuan tersebut berupa sepeda jengki, 100 buah gelas, blender, alat penggorengan, dan lainnya. Setelah memiliki sepeda, Bu Temon lalu berkeliling menggunakan sepeda. Mulai dari itu, ia bisa menjangkau lebih luas area keliling jualannya.

“Waktu itu saya dapat bantuan sepeda jengki, terus gelas 100 biji atau 8 lusin. Ada panci gorengan, ada blender dan macam-macam itu pokokmen. Segala macam itu dapat bantuan dari UMY nopo yo, Bu Nahya waktu itu pimpinannya. Itu pertama kali saya dapat bantuan.” Jelas Bu Temon sembari mengingat peristiwa beberapa tahun yang lalu itu.

Bantuan alat-alat produksi dirasakan sangat bermanfaat bagi Bu Temon. Hal tersebut lalu memicu semangatnya untuk terus memproduksi jamu. Hingga kini, Bu Temon masih konsisten untuk menjual jamu produksi sendiri dengan kemasan botol. Selain jamu, wanita paruh baya yang sudah memiliki 3 orang cucu ini juga menjual jus buah dan terkadang juga menjajakan aneka macam gorengan.

 “Saya nggak cuma bawa jamu lho Mbak. Kadang sambil bawa jus buah, kalau nggak ya jual gorengan-gorengan gitu Mbak.” Lanjut Bu Temon

Saat ini, Bu Temon berkeliling jualan jamu dengan mengendarai sepeda motor. Ia berjualan setiap dua hari sekali atau 3 waktu dalam seminggu. Daerah pemasarannya pun sudah melingkupi Kecamatan Sedayu. Ia biasanya berhenti di Kantor Kecamatan Sedayu, Puskesmas Sedayu, pasar Sedayu, pasar Semampir, dan lainnya.

Produk yang Dihasilkan

Sebagai penjual jamu, Bu Temon termasuk sosok yang inovatif. Di saat para penjual yang lain masih menggunakan gelas untuk menyajikan jamu, ia berani memulai menggunakan kemasan botol. Pun membuat produk jamu instan berbentuk serbuk. Produk instan tersebut tidak hanya di jual sendiri. Jika ada teman sesama penjual jamu yang membutuhkan, ia akan membuat produk instan cukup banyak sesuai kebutuhan dan permintaan. Produk jamu instan Bu Temon seperti Kunyit Putih, Jahe Merah Instan dan Temulawak Instan.

“Untuk keliling saya produksi jamu sendiri. Saya juga bikin yang instan lho..instan kayak Kunyit Putih, Jahe Merah Instan, Temulawak Instan saya juga produksi. Itu saya bawa sendiri kalau nanti ada yang membutuhkan saya bikin lebih banyak. Itu ada karung-karungan itu kan..bahan untuk jamu.” Jelas Bu Temon sambil menunjukkan karung-karung bahan baku jamu.

Selain jamu serbuk instan, Bu Temon juga menjual jamu siap minum dalam kemasan botol. Setiap jualan, ia biasa membuat sekitar 25-30 botol.

Tantangan Jualan Jamu

Dalam sekali jalan, wanita yang juga menjalankan usaha pecel lele bersama anaknya ini bisa mendapatkan laba bersih Rp. 50.000. Namun demikian, semenjak harga bahan baku jamu mengalami kenaikan, kini ia hanya mendapatkan laba bersih sekitar Rp. 25.000. Bu Temon mengakui jika keuntungan yang didapatkan semakin sedikit.

Ketoke (read: tampaknya) kalau dari segi saya belajar pembuatan jamu ya ketoke lebih piye yo (read: bagaimana ya)…lebih maju dalam berkarya terus bisa mengangkat usaha kecil menengah (UKM) mikro kecil juga bisa diangkat. Untuk bisa mencapai..karena bahan-bahan terlalu larang (read : mahal). Ini ketigo (read: musim kemarau) ini lholarang untuk kencur itu berapa ?, Rp. 60.000/kg, kunirnya (read: harga Kunyit) Rp. 15.000, Gula Jawa nya… larang niki nopo-nopo (read: apa-apa mahal). Jadi ya untuk jamunya ya tetap bikin. Untuk mutu tetap seperti biasa dan harga takaran juga sama seperti biasa. Botolnya saja kalau botol baru itu Rp. 2000 lho.” Papar Ibu berusia 52 tahun ini.

Meskipun harga bahan baku naik, Bu Temon tetap menjual jamu dengan harga normal. Ia tidak bisa menaikkan harga karena jika harga jamu ikut naik, banyak pembelinya yang protes dengan kenaikan harga tersebut. Sehingga Bu Temon tidak menaikkan harga, tetapi kemudian berimbas pada perolehan keuntungan yang semakin sedikit.

Berjualan dan Aktif Berkegiatan

Di balik pergolakan harga dan produk jamu, ada hal menarik lain dari Bu Temon yang membuatnya tak sekedar penjual jamu. Sejak tahun 2003 Bu Temon sudah mulai aktif bergabung dengan kelompok pedagang jamu yang di sebut dengan Kelompok Seruni Putih di desa Argomulyo. Bu Temon merupakan anggota yang aktif sehingga ia lalu di daulat menjadi wakil ketua Kelompok Seruni Putih sampai sekarang. Terkadang Bu Temon tak hanya menjalankan tugas sebagai wakil ketua, tetapi juga merangkap sebagai penghubung/ humas, pemegang notulen, dan sebagainya. Kesemuanya ia kerjakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab karena Bu Temon sadar jika anggota-anggota yang lainnya dari segi usia sudah semakin tua. Berkat ikut Kelompok Seruni Putih, Bu Temon berhasil mendaftarkan produk jamunya ke dinas kesehatan hingga mendapatkan P-IRT dan juga Sertifikasi Halal.

“Sekarang saya sudah punya P-IRT atau surat izin memproduksi jamu, sudah punya surat halal. Halal maksudnya yang tidak mengandung bahan-bahan kimia. Jadi sejak 2003 saya masuk resmi ke kelompok itu. Terus saya itu yo menjabat nopo nggih ten nggen pengurus yo wakil ketua, yo mencakup segalanya lah. Penghubung juga, pemegang notulen, nggih karang nggen kulo niku wonge sepuh-sepuh (read: di kelompok saya orangnya sudah tua-tua).” Tutur Bu Temon sambil sesekali tertawa

Selain itu, Bu Temon bersama dengan produk jamunya juga aktif mengikuti pameran-pameran. Sebagaimana penuturannya bahwa ia pernah mengikuti pameran di Keraton Yogyakarta, pameran di stadion Mandala Krida dalam acara Hari ASI se-dunia, pameran di stadion Sultan Agung, di Parasamya, serta acara pameran yang bertempat di Pasar Seni Gabusan yang diselenggarakan tiap tahun.

“Kalau pameran itu saya itu sudah di… pundhi nggih (read: dimana ya) ten Keraton, terus wonten..lali aku Mbak okeh banget masalahe (read: terus dimana lagi saya lupa, karena sangat banyak). Di Mandala Krida kemarin acara hari ASI se-dunia, kemarin tanggal berapa itu. Terus di lapangan jalan Imogiri, di stadion Sultan Agung. Kemudian ikut di Parasamya, terus di Pasar Seni Gabusan itu setiap tahun mengikuti event persaingan produksi niku lho.. ada tiap tahun.” Tutur Bu Temon dengan bahasa campuran.

Ia aktif mengikuti acara-acara yang ada di sekitar DIY. Namun, untuk acara di luar DIY ia tidak mendapatkan izin dari suaminya. Meskipun ada undangan untuk mengikuti pameran antar provinsi, Bu Temon tidak bisa mengikutinya karena terlalu jauh dan tidak mendapatkan izin suami. Selain aktif di kelompok jamu dan mengikuti berbagai pameran, Bu Temon juga merupakan kader program keluarga berencana yang dicanangkan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sehingga tidak heran jika ia sering diundang mengikuti penyuluhan baik oleh Puskesmas atau pun acara yang diselenggarakan di bawah BKKBN secara langsung.

Wah.. semoga bisa menginspirasi jamaah yang lainnya ya Bu !. Amiin

Bu Sugiyanti, Hati-Hati dalam Meminjam Uang

Oleh: Fiya Ma’arifa Ulya

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, dijelaskan bahwasannya sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar. Memang, kita tidak bisa memungkiri jika pasar adalah jantung perekonomian masyarakat. Interaksi tidak hanya antar penjual dan pembeli, tetapi juga antar berbagai pihak yang memiliki kepentingan dengan penjual di pasar. Salah satunya adalah para bank plecit/ rentenir.

Keberadaan bank plecit di pasar seperti api dalam sekam yang sekilas tampak tidak menghanguskan tetapi sebetulnya ia membakar dari dalam. Fenomena bank plecit di pasar pun di kisahkan oleh Ibu Sugiyanti. Ia adalah jamaah Kajianmu di Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo. Bu Sugiyanti sehari-hari memanfaatkan waktunya untuk berjualan di Pasar Semampir, Argorejo, Sedayu, Bantul. Ia menjajakan aneka bumbu untuk menambah keihsanan rasa masakan.

Mencoba Berjualan

Semenjak Ibu yang memiliki satu anak ini memutuskan untuk berhenti bekerja di pabrik tekstile, ia kemudian mencoba menjalankan profesi lain, yakni berdagang. Oleh karena menjadi buruh di pabrik membuatnya terlalu lelah bekerja, sementara usia Bu Sugiyanti sudah semakin senja.

“Kulo nembe sadeyan niku anyaran niki (pasar). Dereng dangu kok, namung anyaran niki. Tahun piro yo nok ?, tahun 2016 akhir nopo.. ini kan baru. Riyin kan tunggale kulo ten ngriki sadeyan, terus pindah. Terus kulo sek ten ngriki (read: Saya baru berjualan itu sejak baru nya tempat ini/selesai pasar direnovasi. Belum lama, hanya sejak tempat ini direnovasi. Thun berapa itu ya nak ?, sekitar akhir tahun 2016. Pasar ini kan masih baru. Dahulu kan saudara saya yang jualan disini, terus dia pindah. Kemudian saya yang menempati disini).” Papar Ibu berperawakan kecil kurus ini.

Bu Sugiyanti belajar berjualan dengan kakaknya yang juga menyediakan bumbu di Pasar Semampir, Argorejo. Namun, Bu Sugiyanti berjualan dalam jumlah yang lebih sedikit daripada kakaknya. Modal awal untuk membeli berbagai bumbu yang akan dijual lagi sebanyak kurang lebih Rp. 500.000. Bu Sugiyanti biasa berkulakan dari tengkulak yang mangkal di depan pasar setiap pagi.

“Saya belinya di depan sana itu Mbak. Kan tiap pagi ada to.. Mbak. Ten ngajeng niku kan okeh to Mbak mben enjing. Kulakane nggih mboten mesti, nek mpun telas nggih kulak (read: di depan itu kan banyak Mbak setiap pagi. Kulakan kalau sudah habis).” Ujar Bu Sugiyanti

Ia menceritakan bahwa sebagai pedagang baru yang belum lama berjualan, terkadang ia bingung saat harus melayani pembeli yang datang secara bergantian dan kesemuanya minta segera dilayani. Menurut Bu Sugiyanti, seorang pedagang baru seringkali menjadi sasaran pembeli dikarenakan status “baru” nya tersebut.

“Riyin rame Mbak, pas kulo awal-awal niko. Pedagang baru itu baru..terus sami mriki, mumet kulo leh ngedoli (Dahulu ketika awal berjualan itu rame. Pedagang baru itu baru..terus pada kesini, pusing saya saat melayani). Kisah Ibu yang memiliki 1 anak tersebut.

Selain berjualan di pasar, Bu Sugiyanti juga melayani pembeli yang datang ke rumah. Meskipun di rumah juga tidak membuka lapak layaknya di pasar, namun para tetangga sudah mafhum bahwa ia berjualan berbagai macam bumbu. Sehingga cukup banyak tetangga yang datang ke rumah untuk membeli bumbu apalagi di pagi hari.

Kulo ten mriki mawon, tapi ten griyo nggih wonten sing tumbas. Kan mpun ngertos to Mbak nek kulo sade. Nek enjing niko kathah biasane (read: Saya jualannya di pasar ini aja, tapi di rumah juga ada yang beli. Kan sudah pada tahu Mbak kalau saya jualan. Kalau pagi itu biasanya banyak yang beli).” Lanjutnya

Tawaran Pinjaman

Sebagai pedagang yang masih baru dan belum tahu kondisi pasar, Bu Sugiyanti kerap kali menjadi sasaran bank plecit yang menawarkan layanan pinjaman uang dengan bunga tinggi. Ia menceritakan bahwasannya hampir setiap hari ia ditawari untuk meminjam uang.

Kathah Mbak ten mriki niku. Ben dinten wonten, kulo sok ditawari tapi kulo mboten mundhut Mbak. Wedi kulo (read: banyak Mbak disini ini. Setiap hari ada, saya suka ditawari tetapi saya nggak mau pinjam soalnya saya takut). Kan belum pernah pinjam sama sekali, dados kulo wedi (read: jadi saya takut).”Ungkap istri dari Bapak Paijo tersebut.

Sejak pertama kali berjualan pada sekitar tahun 2016 akhir hingga sekarang, Bu Sugiyanti sama sekali tidak pernah meminjam ke rentenir, meskipun bujuk rayu selalu datang tiap kali berjualan. Ia sangat berhari-hati dalam bertindak perihal keuangan, tidak sembarangan meminjam. Bagi Bu Sugiyanti, peran suami adalah pertahanan diri paling kuat untuk tidak pernah berkata “iya” pada bank plecit atau rentenir.

Kulo sok sanjang kalih bojo kulo Mbak. Nek badhe mundhut pinjaman angsal mboten ngoten. Nek bojo kulo mboten nggih kulo mboten Mbak. Wedi kulo, mboten tau utang kulo niku. (read: Saya suka menyampaikan ke suami saya Mbak. Kalau mau mengambil pinjaman boleh apa tidak. Kalau suami saya mengatakan tidak ya saya tidak pinjam Mbak. Saya takut, saya tidak pernah hutang).” Jelasnya

Ikut Kajianmu

Bu Sugiyanti adalah sosok yang sering berjamaah di masjid, sehingga saat Kajianmu diadakan sejak pertama kali di Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo, ia sudah mengikuti. Ia merasa senang dengan ikut Kajianmu karena jadi bisa kembali belajar membaca Al Qur’an dan tentu saja bernostalgia karena kembali merasakan mengaji di masjid sebagaimana yang biasa Bu Sugiyanti lakukan di waktu kecil.

“Bermanfaat Mbak, wong pelajarane yo apik-apik kok Mbak. Mbangane ning umah, wong bojone yo, ngono melu ngaji-ngaji tiap hari. Nek kulo malah senang Mbak..soale keluargane kulo riyin tertib-tertib, aktif ten masjid ket kulo umur ya pokoknya sejak kecil lah. (read: Kajianmu bermanfaat Mbak, hal-hal yang diajarkan juga bagus Mbak. Daripada hanya berdiam diri di rumah, orang suami saya juga menyuruh saya agar pergi mengaji setiap hari. Kalau saya malah senang Mbak, soalnya keluarga saya dahulu tertib, aktif di masjid sejak usia saya masih kecil).” Ungkap Bu Sugiyanti

Selain mengaji, Ibu yang berpembawaan lembut ini juga merasakan manfaat dari pinjaman yang disalurkan oleh Kajianmu, utamanya bisa untuk menambah modal jualan di pasar.

“Iya bermanfaat, pinjamannya bisa buat tombok-tombok jualan ini. Buat nambah modal ini, saya hanya ambil Rp. 200.000 kok Mbak. Saya kan nggak pernah hutang to Mbak, jadi saya baru nyoba-nyoba kemarin. Ya semoga besok bisa pinjam yang lebih besar lagi.” Lanjut Bu Sugiyanti sembari tertawa.

Bu Tuminah, Ibu Tunggal & Tulang Punggung Keluarga

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Jika bisa memilih, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berharap menjadi ibu tunggal/single mother. Setiap perempuan membutuhkan laki-laki sebagai pasangan hidup untuk bekerjasama dalam mengelola rumah tangga dan mendidik anak. Terlebih seorang Ibu Tunggal juga harus memainkan peran ganda dan menjadi tulang punggung keluarga. Begitu lah yang dialami oleh Ibu Tuminah.

Jamaah Kajianmu di Masjid Al Ishlah, Dusun Senowo, Argorejo ini sehari-hari bekerja membuat gerabah/keren di siang hari dan buruh di industri rumah tangga jajan pasar pada pagi harinya. Ibu Tuminah memiliki 3 orang anak. Anak pertamanya adalah seorang perempuan yang saat ini bekerja selepas lulus dari SMK. Sementara anak kedua Bu Tuminah masih duduk di bangku kelas XI SMA dan anak terakhir masih SD.

Menjadi Ibu Tunggal

Ibu Tuminah sudah lama berpisah rumah dengan suaminya. Sejak anak pertama masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), namun saat itu ia dan suami masih bertemu satu tahun sekali di daerah asal suaminya. Tetapi setelah anak ketiga lahir, ia sudah benar-benar berpisah dengan suaminya. Perihal perpisahan dengan suami pun tidak terlalu banyak diceritakan oleh beliau.

Sejak berpisah dengan suami itu lah Bu Tuminah harus berperan menjadi Ibu sekaligus ayah bagi ketiga anaknya. Ia tidak menyerah dengan keadaan tersebut. Hal ini terbukti dengan semangatnya dalam mengasuh ketiga anak dan menjalani berbagai profesi agar anak-anaknya bisa tetap pergi ke sekolah, mendapat tempat tinggal, serta makanan tercukupi.

“Ya kalau pagi saya bantu bikin jajan itu di Sundi. Ngantar-ngantarkan jajanan ke orang-orang. Setelah dari sana saya bikin cobek tapi tergantung cuaca juga Mbak. Kalau lagi panas ya saya bikin, tapi kalau hujan seperti ini ya susah karena nanti cobeknya tidak kering. Terus kadang disuruh orang untuk ngerjakan apa gitu juga saya Mbak.” Papar Bu Tuminah

Bahkan tidak jarang ia juga bekerja mengangkut kotoran sapi.

Tulang Punggung Keluarga

Menjadi Ibu tunggal sekaligus menempatkan Bu Tuminah menjadi tulang punggung keluarga. Apalagi anak pertamanya juga merupakan seorang perempuan yang masih tergolong belia. Ia hampir menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja. Di pagi hari, ia pergi ke dusun sebelah yaitu Sundi Kidul untuk bekerja membuat jajanan pasar sekaligus mengantarkan jajanan ke lapak-lapak orang. Lalu di siang hari sekitar pukul 10.00 pagi, Bu Tuminah berganti pekerjaan dengan membuat cobek. Siang hari/sore hari jika ada orang yang emnyuruh mengangkut kotoran sapi, maka ia juga tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan tersebut.

“Pagi saya ngantarkan snack itu Mbak terus setelah dari sana ya bikin cobek, kalau siangnya ada orang yang nyuruh itu to ya saya juga ngerjain, apa ke sawah kalau ada orang nyuruh tandur itu Mbak. ” Jelasnya

Bekerja menjadi buruh di tempat pembuatan jajanan pasar, dalam sebulan Bu Tuminah mendaoatkan upah sebesar Rp. 300.000. Sementara keterampilan membuat cobek ia dapatkan dari bekerja di tempat sudaranya. Kemudian Bu Tuminah dipinjami alat pembuat gerabah oleh temannya yang hingga saat ini alat tersebut masih digunakan. Sejak dipinjami alat oleh temannya itu lah Bu Tuminah akhirnya membuat gerabah secara mandiri di rumah.

“Ya saya dulu ikut di saudara Mbak, itu di tempat Bu Mus. Terus kan saya dipinjami alat sama teman. Teman saya udah nggak bikin lagi. Jadi alatnya dipinjamkan ke saya, ya nanti kalau teman saya mau pakai lagi ya diambil lagi. Tapi ini kayanya dipakai saya.” Terang wanita berperawakan kecil tersebut

Ia pun menuturkan bagaimana proses pembuatan gerabah yang cukup panjang. Mulai dari mengambil tanah liat yang ada di sawah, proses mendiamkan tanah liat agar kandungan airnya berkurang, mencampur dengan tanah biasa, membuang kerikil-kerikil kecil yang ada di tanah liat, membentuk, hingga menjemur. Itu pun masih berwujud gerbah mentah. Proses yang cukup panjang tersebut ternyata tidak sebanding dengan harga jual gerabah mentah.

“Kalau yang cobek ukuran kecil itu Rp.700, kalau yang seukuran piring itu harganya Rp. 1000 dan kalau yang ukurannya besar banget itu Rp. 1500. Itu kan masih mentah Mbak..kalau sudah dibakar harganya Rp. 15.000 – 20.000, terus yang paling besar itu Rp. 25.000. Tapi kan saya nggak bakar Mbak..bakarnya di tempat orang karena nggak ada alatnya. Jadi ya dapat uangnya segitu aja ada yang Rp. 100, Rp. 1000, Rp. 1500.” Jelasnya

Kondisi tersebut tidak membuat Bu Tuminah berpaling dari usaha pembuatan gerabah mentah. Hal tersebut karena keterampilan yang dimiliki dan alat yang dimiliki hanya itu.

Ikut Kajianmu

Ia menuturkan bahwa sebenarnya sudah alam diajak oleh Ibu-Ibu di Dusun Sundi Kidul untuk ikut Kajianmu. Namun, Bu Tuminah merasa belum terpanggil. Setelah Kajianmu diselenggarakan di dusun ia tinggal, ia pun lantas ikut Kajianmu disana.

“Seneng Mbak kan jadi bisa ngaji, diajarin ngaji. Ya meskipun saya masih Iqro. Terus kan juga ada pinjamannya nah saya pingin mengajukan.” Tuturnya

Bu Tuminah mengatakan bahwa pengajuan pinjamannya adalah untuk membantunya membeli bahan-bahan membuat gerabah. Meskipun kami menduga bahwa pinjaman tersebut tentu saja untuk membantu perekonomiannya. Entah untuk membeli beras atau untuk membayar sekolah anaknya. Semoga Allah SWT menempatkan Ibu di tempat terbaik kelak di akhirat. Aamiin.

Berjualan untuk Membantu Ekonomi Keluarga

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Di belahan bumi manapun setiap Ibu memiliki naluri yang sama. Ibu akan mengorbankan apapun demi kebaikan anak-anaknya, meski harus bertaruh nyawa. Apalagi dalam hal ekonomi. Kini semakin banyak Ibu yang bekerja di luar rumah agar dapur tetap mengepul dan anak bisa berangkat ke sekolah dengan uang saku yang layak. Meski terkesan memiliki beban kerja yang bertambah banyak, namun menjadi perempuan yang tangguh dan mandiri di zaman sekarang memang perlu. Sebab, rumah tangga tak hanya tentang mengandalkan suami. Lebih dari itu, dalam segi apapun harus ada kerjasama yang baik suami istri demi kebaikan keluarga yang telah sepakat mereka bangun.

Salah satu kisah menarik jamaah Kajianmu adalah Bu Saginem. Wanita yang oleh tetangga-tetangganya akrab dipanggil Budhe Ginem ini saban pagi menjajakan aneka jenis makanan untuk sarapan. Di warungnya yang sangat sederhana, Budhe Ginem melayani para pembeli dengan ramah. Tempat yang berlokasi di pojok dusun Ngentak Argorejo itu pun menjadi lading rezeki bagi Bu Saginem.

Pertama Berjualan

Sebagai seorang yang belum pernah memiliki pengalaman berjualan, Budhe Ginem di awal-awal merasa canggung. Namun, kecanggungan tersebut mau tidak mau harus dibuang jauh agar ia bisa membantu ekonomi keluarga. Apalagi keluarga Budhe Ginem merupakan keluarga besar, sehingga perlu alokasi yang besar juga untuk memnuhi kebutuhan dasar seluruh keluarga. Ia tidak bisa hanya mengandalkan suami yang bekerja sebagai penjaga di sebuah loseman.

“Saya mulai berjualan sejak 2 tahun lalu. Saya kan belum pernah jualan to Mbak, yasudah. Dulu saya bikin gerabah itu Mbak. Tapi kalau bikin gerabah itu kan 3 hari baru dapat uang. Nah, saya terus jualan ini. Kalau jualan kayak gini saya bisa setiap hari pegang uang meskipun nggak seberapa.” Tutur jamaah Kajianmu di Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo ini.

Di awal-awal berjualan, Ibu yang memiliki 4 orang anak ini hanya menjajakan menu berat saja yakni nasi, bubur, dan pecel bakmi. Seiring berjalannya waktu, di warung sarapan Bu Saginem kini juga menyediakan aneka jenis jajanan pasar dari orang-orang yang menitip dagangan di lapaknya.

“Dulu awal-awal saya cuma jualan ini aja Mbak, bubur, nasi, pecel bakmi. Tapi terus ada yang nitip. Jadi sekarang ada jajanan, susu kedelai & jus. Ya Alhamdulillah Mbak.” Lanjutnya

Ia bersyukur karena hingga hari ini masih istiqomah berjualan setiap pagi. Meskipun situasi bersifat fluktuatif. Di satu situasi warungnya ramai sehingga tutup lebih cepat. Kemudian, di situasi yang lain jualan sepi sehingga pulang masih membawa banyak sisa makanan.

Semenjak pertama berjualan, lapak tempat berjualannya pun tidak perlu menyewa karena merupakan tanah desa. Sehingga Bu Ginem hanya perlu meminta izin kepada dusun dan setiap bulan hanya perlu membayar iuran listrik sebesar Rp. 10.000.

“Disini terus Mbak, nggak bayar. Ini kan punya desa, ya paling tiap bulan itu iuran listrik Rp. 10.000. Kalau pas hujan ya pindah ke meja angkringan yang belakang situ biar nggak kehujanan. Alhamdulillah disini lumayan ramai.” Ungkap Bu Saginem sembari tersenyum

Membantu Ekonomi Keluarga

Bu Saginem adalah salah satu protret bagaimana menjadi seorang perempuan itu harus tangguh, mandiri dan penuh inisiatif. Dalam berbagai situasi, seorang perempuan dituntut adaptif terlebih bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Ketika kondisi keuangan keluarga sudah mulai tidak stabil seiring dengan pengeluran yang semakin banyak karena menanggung biaya sekolah yang tidak sedikit, maka Budhe Ginem yang sebelumnya bekerja sebagai pembuat gerabah dan terkadang buruh di sawah memutuskan untuk mulai berjualan. Membuka warung yang menjual sarapan adalah upaya Ibu berusia 50 tahun ini untuk membantu keluarga. Pasalnya suami Bu Saginem hanya bekerja di sebuah losemen dan gajian setiap bulan. Praktis, kebutuhan tidak terduga yang berjumlah cukup banyak menjadi tidak terpenuhi. Apalagi ketiga anaknya masih sekolah, ia menginginkan agar anak-anaknya bisa berangkat ke sekolah dengan membawa uang saku yang layak.

“Alhamdulillah Mbak, jualan kayak gini bisa buat bantu-bantu keluarga. Suami saya kan kerja di sana itu lho…di losemen, hotel baru disana itu. Kalau jualan gini kan saya pegang uang tiap hari. Lumayan buat jajan anak dan uang saku mereka.” Tuturnya

Wanita yang lahir pada 7 Mei 1968 ini memiliki 4 orang anak. Anak pertama Bu Saginem sudah menikah, sedangkan 3 lainnya masih bersekolah. Dua diantaranya adalah kembar yang saat ini masih duduk di bangku SMA dan satu anak terakhir adalah kelas 3 SMP. Kondisi tersebut membuat Bu Saginem merasa terpanggil untuk membantu suami dalam mencukupi keuanga keluarga.

“Ya anak-anak masih sekolah Mbak. Si kembar masih SMA terus anak saya yang terakhir masih kelas 3 SMP, jadi ya jualan gini lumayan untuk bantu-bantu keluarga.” Ucap Ibu yang mengenakan kacamata ini

Menjadi Jamaah Kajianmu

Menurut penuturan relawan Kajianmu, Bu Saginem merupakan wanita yang sering sholat berjamaah di masjid. Ia pun aktif mengikuti grup hadroh Ibu-Ibu di Masjid Darussalam, Ngentak, Argorejo sebagai vokalis. Saat sosialisasi pengajuan pencairan pinjaman dari Kajianmu, istri dari Bapak Ngatimin ini mengajukan pinjaman dana untuk tambahan modal usaha di warung sarapannya sebesar Rp. 500.000. Bu Saginem pun mengaku sangat terbantu dengan pinjaman Kajianmu tersebut untuk membeli bahan-bahan berjualan.

“Iya sangat membantu Mbak. Apalagi sekarang kan harga-harga pada naik, kayak telur, ayam itu kan naik. Makanya saya nggak ngadep (read: menyediakan) ayam karena mahal, resikonya besar. Alhamdulillah, kemarin dapat pinjaman itu kan buat kulakan bahan-bahan. Terus kan nggak ada bunganya juga to Mbak. Ya senang Mbak.” Tutur Bu Saginem sembari tertawa.

Kedepannya, Ibu yang berperawakan sedang ini berharap agar usahanya bisa semakin maju, pendapatannya makin banyak dan pinjaman Kajianmu bisa lebih besar untuk mendukung usahanya.

Semoga Allah ijabah harapan-harapan Ibu, karena harapan selalu beriringan dengan masa depan !.

Bu Tuti, Berani Buka Laundry Sendiri

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Keputusan adalah hal paling penting yang mengarahkan langkah kita mengarungi hidup ini. Keputusan untuk berani melakukan sesuatu atau tidak beserta seluruh konsekuensinya. Begitu pula keputusan yang telah ditetapkan oleh Ibu Sudi Astuti. Sudah dua tahun wanita 36 tahun ini membuka usaha laundry.

Wanita yang biasa disapa Bu Tuti ini menjalankan usaha laundry di rumahnya, yang berada di daerah Bakal Pokok, Argodadi, Sedayu, Bantul. Sehari-hari ia fokus mengurusi usaha yang kian hari semakin membuat Bu Tuti semangat untuk mengembangkannya. Bu Tuti adalah salah satu jamaah Kajianmu yang berlokasi di Masjid Mujahidin, Bakal Pokok.

Membuka Usaha Laundry

Bu Tuti adalah wanita asli Sentolo, Kulonprogo yang menikah kemudian tinggal di rumah suaminya di Bakal Pokok. Sebelum membuka laundry di rumah, Bu Tuti bekerja sebagai buruh cuci dan setrika baju di laundry milik orang. Namun karena usia Ibu satu anak ini masih muda sehingga muncul benih-benih keberanian untuk memulai usaha sendiri.

Modal awal istri dari Bapak Hendri Yanto ini berupa pinjaman dari koperasi yang digunakannya untuk membeli mesin cuci. Selain itu, keterampilan Bu Tuti selama bekerja di laundry milik orang lain adalah modal berharga tak ternilai untuk menjalankan usaha tersebut.

“Dulu saya pinjam di koperasi KSP sebanyak Rp. 5 juta terus sudah selesai. Nah, kemarin pinjam lagi buat beli mesin cuci yang ini, yang otomatis sekalian pengeringnya. Terus saya dulu kan pernah kerja di laundry punya orang terus saya keluar dari sana buka sendiri di rumah.” Ungkap Ibu Tuti.

Dengan modal awal berupa pinjaman dan ketampilan tersebut, kini setelah memasuki tahun ketiga usaha semakin berkembang. Perkembangan tersebut tampak pada banner yang bertuliskan “DHEA Laundry” terpampang di genteng teras dan juga sambungan atap untuk mengangin-anginkan baju laundry-an. Tak hanya itu saja, Bu Tuti juga sudah berinisiatif membuat brosur dan melayani jemput laundry.

“Saya kan bikin ini lho Mbak..tapi masih salah. Brosur ini tapi salah buat tak sebar. Disini kan banyak ngontrak-ngontrak, ngekos gitu. Tapi itu salah nulisnya, harusnya cuci jadi cucu. Kalau orang nanya ya cuma ya itu cuci maksudnya. Ini saya menyebarkan baru dapat 1 orang tadi orangnya kesini.” Cerita Bu Tuti sambil tertawa

Manfaat Kajianmu

Wanita kelahiran Kulonprogo, 16 Oktober 1983 ini sudah mengikuti Kajianmu sejak awal dibukanya di Masjid Mujahidin, Bakal Pokok. Dari sisi kehadiran mengaji, ia termasuk jamaah yang rajin berangkat meskipun cuaca terkadang tidak menentu. Selain belajar membaca Iqro’/Al Qur’an bersama dengan relawan Kajianmu, Bu Tuti juga merasakan manfaat dari Kajianmu yakni pinjaman modal. Untuk pencairan yang paling awal, ia mendapatkan pinjaman modal usaha sebanyak Rp. 500.000.

“Iya ada manfaatnya. Ya bisa belajar ngaji terus dapat pinjaman juga nggak pakai bunga dan jaminan. Itu uangnya kemarin saya pakai untuk beli atap (atap plastik panjang) buat nampung jemuran laundry agar tidak kehujanan. Kemarin dapatnya Cuma Rp. 500.000 jadi ya baru bisa buat bikin itu aja. Kemarin rencana mau bikin rumah-rumahan, kalau semisal ditinggal itu kan biar aman. Ya namanya tinggal di desa Mbak, kan nggak tau ya diambil atau apa. Semoga besok bisa dapat pinjaman lebih besar. ” Papar Bu Tuti

Ia pun berharap bahwa usaha laundrynya dapat semakin berkembang dan semakin ramai pelanggan.

“Ya saya berharap semoga lancar, banyak konsumen masuk..pelanggan masuk. Kalau pas banyak gitu kan sudah ada teman yang bantu menyetrika.” Lanjut Ibu berkulit sawo matang tersebut.

Godaan Bank Plecit

Bu Tuti tidak menafikkan jika dirinya memiliki pinjaman di koperasi yang digunakannya untuk membeli mesin cuci. Ia pun memiliki tabungan yang dititipkannya kepada tukang mendreng yakni setiap kali tukang mendreng tersebut datang, Bu Tuti biasa menitipkannya sebanyak Rp. 10.000.

“Iya nabung itu biasanya nitip di mendreng itu lho Mbak, nabung Rp. 10.000.” Ungkap Bu Tuti

Selain mendreng yang menyambanginya di rumah, bank-bank plecit pun tidak mau kalah. Bu Tuti menuturkan bahwa dirinya ditawari berkali-kali untuk mengambil pinjaman di bank plecit tersebut. Seakan mereka tidak mengenal lelah untuk selalu menawari lagi dan lagi saat berkeliling dan bertemu Bu Tuti. Biasanya bank plecit akan gencar menawarkan jasa  pada Ibu-Ibu yang sekiranya memiliki usaha cukup berjalan.

“Sering Mbak saya ditawari buat ngambil, kadang itu lewat sini nawari saya. Itu kan kalau pinjam berapa itu cairnya dipotong adminstrasi dulu terus nanti mengembalikannya ada bunganya. Terus saya juga sudah pinjam di koperasi, jadi saya nggak pinjam. Bunganya itu lho.” Papar Bu Tuti penuh semangat

Beruntung, Ia tidak tergoda untuk mengambil pinjaman ke bank plecit. Jangan sampai tergoda ya Bu !.

Pengelolaan Keuangan

Bu Tuti dan suaminya bekerja untuk bersama-sama mencukupi kebutuhan keluarga. Suami  adalah seorang tukang bangunan yang bekerja by project di suatu daerah tertentu. Sementara Bu Tuti fokus menjalankan usaha laundry. Layaknya Bu Tuti, suaminya biasanya juga menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Sehingga mereka sama-sama memiliki simpanan masing-masing. Namun ternyata tak hanya uang pribadi, Bu Tuti juga mencatat keuangan laundrynya. Ia mencatat pemasukan dan pengeluaran di buku secara manual. Hal tersebut dilakukan agar jelas perhitungan pemasukan, pengeluaran maupun keuntungan.

“Bantar tak ambilkan. Ini saya catat di buku, baru kemarin saya mulai mencatat, sebelumnya tidak dicatat. Sekarang di catat.” Tandas Bu Tuti.

Sukses terus Bu untuk usahanya semoga makin jaya dan berkah. Aamiin

Bu Parti Ingin Punya Gerobak Bakso Tusuk

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Menjalankan usaha adalah komitmen. Yaitu komitmen untuk terus mengembangkan, memperbaiki kualitas dan menjaga kelangsungan usaha agar tidak berhenti. Usaha apapun jika dilakukan dengan penuh komitmen , dapat berdampak pada keuntungan ekonomi  pemiliknya.

Salah satunya adalah kisah jamaah Kajianmu Masjid Nurul Ikhsan, Ngentak Kidul, Argorejo, Sedayu, Bantul, bernama Ibu Parti. Wanita berusia 51 tahun ini sudah lebih dari 5 tahun menjalankan usaha membuat makanan berbahan dasar terigu dan tahu. Salah satu usaha yang terlama dilakukan oleh Bu Parti adalah melayani pesanan tahu bakso. Sedangkan usaha lainnya yang juga sedang dijalankan selama beberapa tahun terakhir ini adalah berjualan bakso tusuk.

Usaha bakso tusuk dilakuka oleh Bu Parti di depan rumahnya. Peluang berjualan bakso tusuk didapatkan karena rumah Bu Parti berdampingan dengan rumah anaknya yang membuka usaha bengkel motor. Sehingga saat orang-orang sedang menunggu motor mereka di betulkan, bisa sambil jajan bakso tusuk.

“Kalau bikin tahu bakso itu udah lama Mbak. Udah ada 5 tahunan lebih. Kalau jualan bakso tusuk kuah itu yang baru. Kan orang-orang yang bengkelin di anak saya itu bisa sekalian jajan to sambil nunggu gitu.” Ungkap Bu Parti

Awal Memulai Usaha

Ibu Parti sewaktu muda pernah merantau ke Pulau Sumatera hingga menikah pun masih di pulau perantauan tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, ia dan suami memutuskan untuk kembali ke kampung halaman di Dusun Ngentak Kidul, Argorejo, Sedayu, Bantul. Sekembalinya ke kampung halaman Bu Parti kemudian bekerja di sebuah pabrik genteng.

Sembari bekerja di pabrik, Bu Parti mulai memberanikan diri untuk membuat tahu bakso dan dititipkan di warung atau lapak jajan pasar. Kemampuan membuat tahu bakso didapatkan Bu Parti dari anaknya yang pernah bekerja di pembuat jajanan pasar. Dari anaknya itulah Bu Parti mulai belajar cara membuat tahu bakso.

“Ya dulu coba-coba aja Mbak. Kan anak saya itu dulu pernah bantu temannya bikin tahu bakso. Jadi tiap kali ada pesanan, anak saya bantu. Terus coba bikin sendiri di rumah eh ternyata bisa sampai sekarang.” Paparnya

Saat ini, di Ngentak Kidul Bu Parti sudah dikenal oleh masyarakat sebagai pembuat tahu bakso, sehingga saat ada acara atau kegiatan di masyarakat, Bu Parti sering menerima pesanan.

“Ya Alhamdulillah setiap hari ada pesanan Mbak. Kalau disini biasanya yang rutin itu pas ada pengajian di masjid, terus kegiatan PKH terus ada acara RT gitu Mbak, yang lain-lain juga ada. Pesanan terjauh itu ada juga yang dari Seyegan, terus Gowok itu pak dukuhnya, terus ke Wonogiri juga pernah Mbak, bosnya anak saya itu.” Papar Bu Parti dengan penuh semangat

Tahu bakso Bu Parti dijual dengan seharga Rp. 1000 untuk tahu ukuran biasa dan Rp. 1.500 untuk tahu berukuran besar.

Berjualan Bakso Tusuk & Es

Semangat Bu Parti untuk menjalankan usaha patut dijadikan contoh. Setelah usaha pemesanan tahu baksonya berjalan cukup lancar, Bu Parti yang bekerjasama dengan anaknya sejak sekitar beberapa tahun yang lalu memutuskan untuk membuka warung kecil-kecilan di teras rumahnya. Warung Bu Parti menjual bakso tusuk kuah dan aneka es instan.

“Ya kan anak saya itu buka bengkel Mbak biar kalau orang yang lagi benerin motor haus jajannya dekat. Terus anak-anak TPA itu kan pada beli minuman disini. Pada beli marimas gitu.” Lanjutnya

Bakso tusuk Bu Parti juga kadangkala menerima pesanan sesuai dengan permintaan pembeli. Bu Parti dapat melayani bakso tusuk daging sapi maupun daging ayam dengan harga yang sangat terjangkau. Namun demikian, meski usahanya sudah berjalan Bu Parti seringkali masih kesulitan saat ingin berjualan di tempat-tempat tertentu atau saat ada acara yang cukup besar di sekitar Sedayu, Bantul. Pasalnya, selama satu tahun berjualan, ia masih menggunakan meja rumahan dan kompor beserta gas yang tidak bisa praktis sekali angkut. Sehingga saat ia berkeinginan berjualan di acara tertentu seperti saat perayaan sekaten di alun-alun utara, ia harus menggotong meja dan seluruh peralatannya kesana.

“Saya itu pingin punya gerobak bakso tusuk kuah yang bisa dibawa kemana-mana itu lho Mbak. Jadi kalau ada acara apa saya langsung kesana, yang bisa dipasang di motor itu. Kemarin pas sekaten itu kan saya jualan disana ngangkut meja sama kompor gas. Repot Mbak..kalau ada gerobaknya itu kan enak. Bisa kemana-mana, praktis. Saya pingin jualan di waduk situ itu Mbak, kalau sore kan rame.” Ujarnya

Bu Parti berharap keinginannya bisa memiliki gerobak untuk berjualan bakso tusuk dapat segera terwujud, sehingga usahanya semakin lancar dan omsetnya pun bertambah banyak.

Dapat Pinjaman Modal Kajianmu

Sebagai seorang perempuan yang bersemangat dalam membantu mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga, Bu Parti pun mengaku bersyukur dengan kehadiran Kajianmu di dusunnya. Hal tersebut karena ia dapat merasakan manfaat berupa pinjaman modal usaha tanpa jaminan dan bunga dari Kajianmu. Pencairan tahap pertama Bu Parti dari Kajianmu sebesar Rp. 800.000. Uang tersebut digunakan untuk membeli bahan-bahan penunjang usahanya, seperti tepung terigu, minyak, ansang, dan seterusnya.

“Sangat bermanfaat Mbak. Ngajinya juga saya senang kan jadi tahu dari yang sebelumnya nggak tahu. Terus juga ada pinjamannya kemarin saya pakai buat modal usaha beli bahan-bahan gitu Mbak. Kemarin saya dapat Rp. 800.000. Semoga besok bisa lebih besar.” Ujar Bu Parti

Bu Parti berharap dengan suntikan modal yang difasilitasi Kajianmu, usahanya semakin bertambah maju, semakin lancar, sukses dan banyak pesanannya. Sukses selalu Ibu dalam mencari rezeki halalan thoyyiban !.

Bu Yuni, Pinjaman Kajianmu untuk Tambah Modal Jahit

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Modal merupakan hal yang sangat penting untuk keberlangsungan menjalankan usaha. Terlebih modal lunak dalam bentuk uang. Tanpa adanya modal, mustahil sebuah usaha bisa berjalan dengan baik. Begitu pula yang dirasakan oleh Ibu Yuni.Ia adalah jamaah Kajianmu yang berlokasi di Masjid Mujahidin, Dusun Bakal Pokok, Argodadi, Sedayu, Bantul. Sehari-hari Bu Yuni menyibukkan diri dengan menekuni usaha jahit baju daster dan kaos.

Usaha jahit baju belum lama ditekuni Ibu dua anak ini, yakni dimulai setelah lebaran tahun 2018. Saat itu, ia memutuskan berhenti dari pekerjaan sebelumnya yakni menjadi buruh jahit di pabrik garment. Selepas keluar dari pabrik, Bu Yuni lalu memutuskan untuk membuka usaha jahit sendiri. Hal tersebut dipilih karena menjahit di rumah bisa dilakukan kapan saja pun dapat dikompromikan dengan pekerjaan lain.

Keterampilan Menjahit

Kemampuan menjahit yang dimiliki Bu Yuni bukan asal-asalan. Ia mulai belajar menjahit semenjak lulus SMP. Saat itu, kedua orangtua Bu Yuni memiliki keterbatasan biaya untuk mengirimkan wanita kelahiran Bantul, 11 Juni 1978 ini ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Akhirnya, orangtua mengirimkan Bu Yuni ke tempat kursus menjahit.

“Saya dulu kursus jahit Mbak sekitar tahun 1994 pas saya lulus SMP. Saya kan tidak bisa meneruskan sekolah to, mau minta sekolah adiknya banyak. Jadi, sing gedhe ngalah sing sekolah sing cilik-cilik (read: Jadi, yang besar yang mengalah dan yang kecil-kecil yang sekolah). Lha terus saya kursus menjahit di kelompok atau organisasi apa itu Fatayat. Nah, terus habis itu saya ikut Bulik (Read: Tante) saya cari pengalaman di Jakarta 2 bulan terus nggak kerasan.Hehehe” Papar Bu Yuni

Ia pun meneruskan kisahnya semasa bekerja di Jakarta bahwa dirinya diminta untuk membantu mengobraskan jahitan. Tetapi karena tidak kunjung hafal jalan menuju lokasi obras, ia lalu memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta. Pengalaman bekerja di Jakarta yang singkat itu ternyata membuat Bu Yuni tertarik untuk tetap menekuni dunia jahit-menjahit. Wanita berperawakan kecil ini pun kemudian melamar pekerjaan sebagai penjahit di pabrik garment di Yogyakata dan beberapa kali sempat pindah. Terakhir Bu Yuni bekerja di daerah Ngasem, Yogyakarta.

“Habis dari Jakarta njuk (read: lalu) melamar di pabrik itu to. Dulu pernah di Liberty yang daerah Pelemgurih. Macam-macam dulu saya juga di ekspor gitu di blouse-blouse panjang. Beberapa kali ganti karena bosan dan pingin cari pengalaman yang lain. Masuk pabrik itu di tes bikin kerah hem biasa. Itu kan sulit to..pokoknya baju itu kan yang paling sulit di kerah. Jelek atau nggaknya itu di kerah. Kalau kerahnya menceng (read: tidak lurus) itu mesti jahitannya jelek.” Ungkap Bu Yuni sembari tertawa

Perjalanan karir sebagai pekerja di pabrik pada akhirnya membuat Bu Yuni merasa lelah. Hal tersebut dikarenakan setiap hari ia harus mengendarai sepeda motor sendiri dari rumahnya yang terletak di Dusun Bakal Pokok, Argodadi, Sedayu, Bantul. Keputusan yang diambil pun cukup tepat. Sekarang Bu Yuni memiliki 2 mesin di rumah dan ia bisa menjalankan pekerjaannya dari rumah.

Sempat Sakit

Beberapa waktu yang lalu, istri dari Bapak Sugito ini sempat mengalami sakit gula yang membuatnya harus rela kehilangan separuh jari telunjuk tangan kanannya. Padahal saat menjahit, peranan jari telunjuk sangat penting untuk memastikan kain terjahit dengan sempurna.

“Capek to Mbak nyetir terus tiap hari, kena hujan. Akhirnya saya berhenti dan sejak habis lebaran kemarin mulai jahit di rumah. Kemarin juga habis sakit to Mbak.  Ini aja mesinnya belum lunas.” Kisah Bu Yuni sembari terkekeh

Meskipun Bu Yuni telah kehilangan separuh jari telunjuk kanannya, namun hal tersebut tidak membuatnya patah semangat dalam menjahit. Ia tetap lincah menggerakkan jari jemarinya untuk memastikan benang terjahit sempurna pada kain. Kelincahan wanita berusia 41 tahun ini terbukti dengan kemampuannya menjahit baju daster malioboroan yang dalam sehari bisa mencapai 50 pcs jahitan.

Upah Sedikit

Meskipun akhir-akhir ini tren industri fashion tampak mengalami  kenaikan, tetapi tidak serta merta membuat penjahit sejahtera. Sosok-sosok seperti Bu Yuni ada banyak sekali. Mereka menghargai ongkos jahit hanya Rp. 750 per potong daster yang dijahit atau Rp. 1000 untuk jahitan kaos malioboroan. Tak berhenti disitu, benang dan perintilan jahit lainnya masih harus disediakan secara mandiri oleh penjahit.

“Saya ambil kain dari tempat lain terus dijahit di rumah. Kainnya sudah di potong jadi saya tinggal jahit saja. Saya punya mesin di rumah, nah nanti satu orang ambil terus dibagi-bagi. Saya bawa pulang terus nanti teman saya juga bawa pulang. Yang diambil itu sana itu potongan kain, cuma kita nanti beli peralatannya sendiri. Misalnya benang-benang terus ya peralatan jahit lainnya.” Tutur Bu Yuni

Padahal untuk menghasilkan kaos yang siap pakai diperlukan 4 mesin yang berbeda yaitu mesin jahit biasa, mesin obras, mesin rantai, dan mesin overdeck. Kecuali untuk baju daster, bisa diselesaikan hanya dengan mesin jahit biasa. Sedangan di rumah Bu Yuni hanya ada 2 mesin yaitu mesin jahit biasa dan mesin obras. Sehingga saat Bu Yuni menerima orderan jahit kaos, ia harus berbagi dengan temannya sesama penjahit yang memiliki mesin lebih lengkap.

Pinjaman untuk Tambah Modal

Sebagai salah satu jamaah Kajianmu, Bu Yuni tergolong orang yang rajin berangkat mengaji. Ia pun termasuk salah satu penerima manfaat pinjaman tanpa jaminan dan tanpa bunga dari Kajianmu untuk level pertama di Dusun Bakal Pokok, Argodadi, Sedayu. Bu Yuni memperoleh pinjaman sebanyak Rp. 500.000. Ketika ditanya tentang uang pinjaman yang diperoleh digunakan untuk keperluan apa, Bu Yuni pun secara jujur menjawab bahwa uangnya digunakan untuk menambah modal jahit, seperti untuk membeli benang, membeli karet, dan perlengkapan jahit lainnya. Serta sebagian uangnya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok.

“Ya Alhamdulillah Mbak, uangnya buat tambahan beli benang dan lain-lain. Kan jahitan itu diselesaikan dan diambil tiap Sabtu pagi. Jadi, malam minggunya bisa buat ngangsur di Kajianmu. Ya uangnya kemarin buat beli kebutuhan juga.” Jelas Bu Yuni menutup pembicaraan sore itu.

Bu Kantri, Ingin Punya Mesin Pemecah Kedelai

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Tersedianya peralatan adalah suatu keniscayaan dalam menjalankan usaha. Tiap-tiap usaha pun memiliki peralatan masing-masing yang sesuai dengan kebutuhannya. Tanpa peralatan, mustahil sebuah usaha dapat berjalan dengan sempurna. Ya meskipun kesempurnaan hanya milik Allah semata, iya kita sama-sama tahu itu.

Demikian hal nya yang dibutuhkan oleh Ibu Siti Kantri Yuliati. Jamaah Kajianmu Masjid An Nafi’, Dusun Puluhan, Argomulyo, Sedayu, Bantul ini sudah lebih dari 15 tahun menjalankan  usaha Tempe Daun. Sehari-hari ia biasa memenuhi permintaan rumah tangga maupun warung-warung yang ada di sekitar Dusun Puluhan, Argomulyo. Tempe daun Bu Kantri dijual dengan harga yang amat sangat terjangkau. Uang Rp. 1000 bisa mendapat 5 buah tempe daun atau satu tempe seharga Rp. 200.

Usaha Tempe Daun

Sejak kedatangannya di Dusun Puluhan, Argomulyo pada tahun 1991, wanita yang akrab disana Bu Kantri ini mulai belajar membuat tempe dari Neneknya. Ketika sang Nenek masih hidup, Bu Kantri hanya bertugas membantu mengantarkan tempe ke pelanggan. Ketika itu ia hanya melihat proses pembuatan tempe saja. Sementara yang membuat tempe masih dipegang penuh oleh Neneknya.

“Saya buat tempe sudah dari kapan ya Mbak. Sudah  dari dulu, lama banget…tahun 1991 apa ya. Pas saya pindah kesini. Dulu kan saya belajar sama Simbah Mbak, ngewangi (read: membantu) itu to. Saya yang merebus, membersihkan kedelainya terus Simbah yang bungkus dan saya yang mengantarkan ke warung.” Cerita Bu Kantri.

Seiring berjalannya waktu, kesehatan Nenek sudah tidak stabil sehingga usaha tempe diwariskan kepada Bu Kantri. Bahkan wanita kelahiran Sleman, 2 Juli 1966 ini tidak ada banyangan sama sekali jika usahanya akan bertahan sampai sekarang. Pasalnya harga kedelai sering tidak stabil. Namun demikian, para pelanggan tempe buatan Nenek Bu Kantri enggan berpindah, sehingga Bu Kantri kemudian memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melanjutkan usaha tempe daun.

“Ini sebenarnya ya saya itu cuma..karena pelanggan itu enggan pindan ke orang lain gitu to Mbak. Jadi saya meneruskan sebisa saya.” Lanjut Ibu berusia 53 tahun itu

Meski sudah berjalan selama lebih dari 15 tahun, Ibu Kantri belum membuat variasi bungkusan dalam produk tempenya. Dari awal hingga sekarang, ia fokus membuat tempe berbungkus daun pisang saja yang berukuran kecil. Ia belum mencoba membuat variasi tempe dengan ukuran yang lebih besar. Oleh Karena ia berfikir bahwa tempe produksinya hanya dibuat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan lama. Padahal, peluang untuk membuat variasi ukuran tempe sangat terbuka lebar apalagi Bu Kantri adalah pemain lama bertahan dalam dunia tersebut.

Membuat Tempe Harus Bersih

Proses membuat tempe betul-betul harus memperhatikan tempat dan wadah yang digunakan  benar-benar bersih agar kedelai bisa sukses menjadi tempe. Jika salah satu wadah yang digunakan ada yang tidak bersih, maka tempe bisa berubah rasa menjadi pahit atau masih utuh berwujud kedelai. Bu Kantri pun menceritakan pengalamannya pernah gagal membuat tempe dan pada akhirnya bahan-bahan harus dibuang, hanya karena terkena air hujan.

“Pernah Mbak, saya pernah bikin tempe dan nggak jadi. Ya kalau nggak jadi terus tak buang ke sawah. Waktu itu nggak jadi karena terkena air hujan. Atau karena terkena minyak juga bisa gagal jadi tempe Mbak. Kan bakul tempe itu resikan wadah e (read: penjual tempe itu harus menjaga kebersihan tempat pembuatan), nek kena minyak nggak jadi, kena garam juga atau ketika tangan kita nggak bersih saat mengaduk ragi ke kedelai itu juga nggak jadi. Wadahnya juga harus sendiri-sendiri khusus buat bikin tempe.” Tutur Ibu yang memiliki 3 anak ini

So, buat teman-teman yang masih mengira tempe itu diproses kurang higienis coba dipikirkan ulang ya..karena wadahnya saja harus benar-benar steril dari bahan-bahan lain, meski garam sekalipun atau tangan yang lupa tidak dicuci sebelum mencampur kedelai.

Nah, ada tips juga nih yang dibagi Bu Kantri tentang mengidentifikasi apakah sebuah kedelai bekualitas bagus atau tidak. Pertama, dilihat dari warnanya. Jika kedelai berwarna agak kemerah-merahan itu tandanya kedelai sudah lama digudangkan sehingga kedelai sudah tidak fresh lagi. Kedelai yang berkualitas bagus adalah yang warnanya masih kekuning-kuningan dan cenderung bersih. Kedua, dilihat dari ukurannya, ukuran kedelai yang agak besar biasanya tergolong kedelai yang memiliki kualitas bagus.

Butuh Mesin Pemecah Kedelai

Untuk memproduksi tempe dalam jumlah yang lebih banyak, Bu Kantri membutuhkan tenaga yang bisa membantu. Meskipun selama ini Ia melakukannya sendiri namun wanita berperwakan sedang-kurus tersebut mengungkapkan bahwa ia membutuhkan mesin pemecah kedelai untuk membantu kinerjanya.

“Besok kalau dapat pinjaman lagi dari Kajianmu mau tak buat beli mesin pletesan atau mesin yang buat mecah kedelai itu lho Mbak, daripada saya injak. Kisaran harganya sekitar 2,5 – 3 juta Mbak. Saya langsung dikasih hutangan mesin juga nggak apa-apa Mbak. Kan itu kalau kedelai sudah direbus terus di pecah. Ya cuma untuk membuang kulit air kedelai Mbak.” Ungkap Bu Kantri sembari tertawa

Dalam sehari Bu Kantri memproduksi sebanyak 7- 8 Kg kedelai. Dari 7-8 Kg kedelai dapat menghasilkan sebanyak 400-500 buah bungkus tempe dengan kalkulasi 1 Kg = 65 bungkus. Kesemuanya dilakukan secara manual menggunakan tenaganya sendiri, mulai dari merebus kedelai, meniriskan, menginjak/menghilangkan kulit ari kedelai, menyampurkan ragi (jamur Ryzhopus sp) ke kedelai yang sudah ditiriskan, hingga membungkus kedelai dalam bungkusan daun yang kecil. Sementara, tenaga Bu Kantri saat ini sudah tidak seperti waktu Ia masih muda. Oleh sebab itu, Ia sangat menginginkan bisa memiliki mesin pemecah kedelai agar kemampuan produksinya tetap stabil atau dapat bertambah.

“Ya pingin Mbak, saya pingin usahanya makin maju. Disitu itu kan ada to Mbak tetangga yang bikin tempe juga dan udah nyetorin kemana-mana ke restoran-restoran, bikinnya udah banyak Mbak.” Lanjut Bu Kantri

Sebagai jamaah Kajianmu, Bu Kantri sudah memanfaatkan pinjaman modal usaha level pertama sebanyak Rp. 500.000. Setiap pekan Ia biasa mengangsur Rp. 25.000 bersamaan dengan pengajian rutin Kajianmu dan sudah hampir lunas.

“Kajianmu ada manfaatnya Mbak. Pinjamannya nggak ada bunganya, jadi saya kalau setor gitu Mbak, setor tempe terus malamnya buat ngangsur. Karena pinjaman daerah sini pakai bunga Mbak, jadi untungnya kan cuma buat bayar bunga.” Ujar Bu Kantri sembari tersenyum.

Mohon do’anya Bu semoga Kajianmu bisa terus memberikan manfaat dan menjangkau ke lebih banyak orang. Aamiin.

Kerjasama Suami Istri dalam Mengelola Usaha

Oleh : Fiya Ma’arifa Ulya

Menjalankan sebuah usaha membutuhkan kerjasama yang baik dengan semua pihak, tak terkecuali dengan pasangan suami-istri. Dalam berumahtangga pun kerjasama hendaknya adalah prinsip yang senantiasa dilaksanakan agar tidak menimbulkan kuasa di satu pihak. Salah satu jamaah Kajianmu yang berlokasi di Musholla Al Ikhlas, Dusun Klisat, Sumbersari, Moyudan mencoba menerapkan prinsip kerjasama ini dalam mengelola usaha yang mereka jalani.

Ibu Khusnul Khotimah dan Bapak Muhammad Ilham adalah pasangan suami istri yang menjalankan usaha pembuatan alat-alat rumah tangga terbuat dari alumunium. Peralatan rumah tangga yang biasa dibuat oleh tangan Pak Ilham seperti spatula, irus, serok, panci besar, angsang, Loyang, dan lain-lain. Setiap hari Pak Ilham mampu memproduksi sebanyak 10 alat.

“Sehari sebenarnya bisa memproduksi 10 alat untuk sotil, irus, serok itu Yah yo…. Jadi kalau membuat cekungan ya cekungan semua, kalau gagang ya gagang semua, jadi lebih cepat Mbak. Kalau untuk ansang, panci itu sehari bisa jadi sebenarnya. Tapi kan waktunya harus di bagi-bagi dengan kegiatan yang lain. Tapi kalau wajan kita nggak bikin, karena kan lembarannya dan butuh waktu buat nyekunginnya kan itu lama Mbak.” Cerita Bu Iim dan Pak Ilham saling menimpali.

Awal Mula Memulai Usaha

Usaha pembuatan alat-alat rumah tangga sudah ditekuni Pak Ilham sejak orangtuanya masih hidup. Oleh karena orangtua Pak Ilham juga merupakan pengrajin alat-alat rumah tangga berbahan dasar alumunium. Sehingga kemampuan membuat alat-alat rumah tangga laki-laki berusia 50 tahun ini bisa dikatakan warisan dari orangtuanya. Namun demikian, ia mengaku baru benar-benar fokus memproduksi peralatan rumah tangga dan memasarkan ke lebih banyak tempat setelah ia menikah.

“Sejak kecil kan saya terbiasa membantu Bapak membuat alat-alat ini. Saya lihat Bapak membuat terus saya pingin ikutan juga. Akhirnya saya coba membuat ternyata bisa. Tapi saya benar-benar fokus membuat semenjak menikah, ya sekitar tahun 2000 Mbak sampai sekarang” Tutur Pak Ilham

Pak Ilham pun fokus untuk membuat alat-alat yang berbahan dasar alumunium saja. Ia bisa membuat dari awal atau bisa memperbaiki saja apabila ada pelanggannya yang datang sembari membawa peralatan dapurnya yang sudah rusak/berlubang.

Awalnya Pak Ilham dan Bu Iim hanya memproduksi untuk memenuhi pesanan orang-orang di sekitar tempat tinggalnya saja. Tetapi seiring berjalannya waktu, mereka kemudian mulai menawarkan produk-produknya ke toko-toko yang ada di pasar, ke swalayan terdekat dan lain-lain.

Suka Duka Pengrajin Alumunium

Sebagai pengrajin alat-alat rumah tangga berbahan dasar alumunium, realitas tidak selalu berjalan mulus. Saat ini, Pak Ilham seorang diri dalam memproduksi alat-alat rumah tangga. Ia mengaku kesulitan dalam menemukan SDM yang betul-betul bisa mengerjakan sesuai dengan kebutuhan Pak Ilham.

“Pernah ada yang membantu Mbak… ada yang kerja disini, dia yang membuat gagang/pegangannya yang disambung dengan kayu. Tapi ya begitu ya…hasilnya kurang memuaskan. Malah jadi kerja dua kali karena pas di cek ternyata masih kurang bagus hasilnya. Jadi kan diulangi lagi gitu Mbak.” Tutur Bu Iim

Selain persoalan SDM yang semuanya dikerjakan sendiri, pasangan suami-istri ini pun pernah mencoba untuk memesan mesin yang berfungsi untuk membantu membuat cekungan. Namun, sampai saat ini mesin yang dapat membuat cekungan agar menghasilkan produk yang dikehendaki pun belum juga bisa terwujud.

“Mesinnya itu belum ketemu-ketemu. Kita udah pernah memesan mesin Mbak berkali-kali, sudah kita DP. Terus pihak mekaniknya itu akhirnya nyerah lagi, kembalikan lagi uang DP yang pernah kami titipkan. Pada awalnya iya sepertinya gampang, untuk bikin legok e wae ben cepat gitu yo. Mungkin mereka awalnya, yo koyoke bisa lah, sanggup. Yasudah kami DP. Ada juga yang datang menawarkan, bisa Mas. Tapi dibikin ternyata nggak jadi. Hehehe.  Sampai sekarang belum nyoba bikin lagi. Nah, ini kemarin ada anak KKN UGM, diupayakan bikin rancangan mesinnya. Coba nanti bilangnya gini ke mekanik, ada perhitungannya. Ya mudah-mudahan jadi rezeki kami untuk punya mesin melalui bantuan rekayasa mereka.” Papar Bu Iim dan Pk Ilham bergantian

Namun demikian, dibalik tantangan-tantangan diatas, peralatan rumah tangga buatan Pak Ilham menuai banyak pelanggan setia dan cepat habis di pasaran. Hal tersebut dikarenakan peralatan buatan Pak Ilham memang sudah terbukti berkualitas.

“Pokoknya Mbak Fiya, ini kalau jadi sudah langsung bisa jadi duit Mbak insyaAllah. Angger (read: asalkan) barang sudah jadi, langsung bisa di duitkan. Dimana saja kami naruh, gampang. Mbok kepeksone (read: jika terpaksanya)Mbak butuh banget saat ini dalam berapa menit, 10 menit tak setorkan langsung nang Mbak Sum wes gelem wae ngono (read: disana mau menerima). Stok seberapapun gelem (read: mau). Soalnya daripada nanti antri, ora popo (read: tidak apa-apa) numpuk barang. Daripada nanti sudah kosong lama, ternyata belum keumanan (read: kebagian). Jadi, walaupun misalnya disana stok masih ada, saya setor itu diterima terus. Kadang kan saya memburu waktu, waton sing (read: asal)dekat langsung tak taruh aja. Kalau barang hanya sedikit saya nggak masukkan ke swalayan, karena disana antri di kasir nya panjang banget, padahal saya memburu waktu.” Lanjut Bu Iim dengan penuh semangat

Bahkan ada yang menitipkan uangnya terlebih dahulu agar bisa mendapatkan barang. Meskipun Bu Iim dan Pak Ilham terkadang merasa tidak enak jika langsung diserahkan sejumlah uang karena belum bisa menjanjikan kapan peralatan bisa diselesaikan. Namun demikian, walaupun terkadang permintaan di pasar banya, kualitas tetap diperhatikan. Pak Ilham biasanya mencoba barang terlebih dahulu sebelum diserahkan ke pelanggan, karena mereka tidak ingin mengecewakan pelanggan dengan kualitas produk yang jelek.

Prinsip Kerjasama

Hidup berumahtangga berarti sepakat untuk bekerjasama demi kemaslahatan bersama. Begitu pula yang dilakukan oleh pasangan Bu Iim dan Pak Ilham. Dalam hal produksi, boleh saja Pak Ilham melakukannya sendiri karena keterbatasan Bu Iim sebagai seorang perempuan dalam menjalankan pekerjaan yang bersifat fisik. Tetapi dari segi yang lain, Bu Iim masih bisa melakukan sesuatu agar sama-sama bekerja. Dalam hal ini, Bu Iim mengambil peran untuk memasarkan dan menyetorkan produk ke toko-toko dan swalayan.

“Iya, saya bawa produknya buat di setor ke toko, ke swalayan disana ngantri buat pembayarannya.” Ujar Bu Iim

Terakhir, ada tips nih yang dibagikan oleh Pak Ilham dan Bu Iim tentang bagaimana memilih perlatan rumah tangga berbahan alumunium yang berkualitas bagus.

“Pertama, dilihat dari ketebalannya. Caranya adalah dengan meraba permukaan dari peralatan tersebut. Jika terasa tebal berarti produk tersebut bagus. Kedua, dari tangkai kayunya itu kalau yang kayu berwarna putih itu jelas kayu yang kurang bagus. Kalau yang tangkai kayu berwarna hitam itu malah agak bagus itu. Ketiga, coba di ketok-ketok tangkainya. Kalau menimbulkan bunyi yang berat berarti di dalam tangkai itu ada isinya, tidak kosongan, itu awet Mbak. Ini di dalamnya ada isis bambunya penuh agar kencang dan tidak penyok.” Jelas Pak Ilham dan Bu Iim mengakhiri perbincangan sore itu.